Seribu Malam Untuk Muhammad

Buku ini merupakan penyepurnaan (repackage) dari versi sebelumnya "Menatap Punggung Muhammad". Memasuki cetakan keempat, buku ini diterbitkan ulang dengan kemasan baru oleh Kurniaesa Publishing.

Sayembara Ahmad Wahib 2012

Ikuti Sayembara Ahmad Wahib 2012 dan menangkan hadiah total 85.5 juta rupiah. Sebarkan gagasan dan pemikiran tentang toleransi melalui esai, blog, dan video.

Hidup Berawal Dari Mimpi

Hidup berawal dari mimpi! Semangat inilah yang dibagi melalui kolaborasi fiksi-musikal ini. Sukses bukan hanya soal pencapaian akhir tetapi juga prosesnya.

Curhat (Tuan) Setan

Buku ini berisi potongan-potongan puzzle-pikiran-dan-perasaan yang terdiri dari tiga bab utama: SETAN. CINTA. TUHAN. Pembaca akan diajak mengarungi medan galaunya masing-masing.

Revolvere Project: Fiksi Lintas Media

Revolvere Project merupakan sebuah project hibrida sastra-musik-visual menjadi sebuah bentuk kreatif yang baru.

Ketakutan


:Farah 

Aku tak bisa mengusir semua ketakutanmu, Adikku. Sebagai Kakak, aku tak bisa selalu melindungimu. Barangkali karena aku juga memiliki ketakutan yang tak bisa kusingkirkan dalam diriku. Tapi jika ada yang membuatmu gelisah, aku akan memegang tanganmu dan mendengarkan semua ceritamu. Kau boleh bercerita apa saja... dan aku akan membuatkanmu segelas susu dengan gula merah, seperti ketika kita kecil dulu, agar kau merasa jauh lebih tenang... jauh lebih tenang... jauh lebih tenang dari sebelumnya.

“Jangan takut. Kamu nggak sendirian, kok. Ada aku di sini.” Aku berusaha menenangkanmu, Ayah dan Ibu belum juga pulang. Hari sudah mulai malam.

Gimana kalau mati lampu?” Kau mulai berpikir macam-macam.

“Aku akan tetap di sini, menemanimu.” Jawabku.

“Dalam gelap, aku tak bisa melihat apa-apa. Aku tak bisa melihat Kakak ada di sini.”

“Kau bisa memegang tanganku. Aku akan memegang tanganmu seperti Ayah memegang tanganku. Tenanglah, jangan takut.”

“Kakak nggak takut?” Katamu.

“Takut. Tapi kita bisa berdoa.”

Dalam kepala, bayangan tentang Kiki yang kesurupan di film Penghuni Bangunan Tua mulai menguasai diriku: “Nama saya Yanto, nama saya Yanto. Saya mati dibunuh orang.” Kalimat itu terus memutar adegan anak kecil dengan bibir membiru dan gemetar. Di luar, langit terus menjadi gelap.

Kau duduk beringsut di sampingku. Malam terus merangkak, jarum jam terus bergerak. Aku memegang tanganmu. “Jangan takut,” kataku. Kau mengangguk: Dan aku menemukan keberanianku pada ketakutanmu—pada rasa percayamu bahwa aku akan selalu ada di sampingmu.

***

Kini, belasan tahun berlalu, kau akan menghadapi ketakutanmu yang lain. Ketakutan yang barangkali tak pernah sanggup kubayangkan sebagai laki-laki. Tapi sebagai Kakak, menjelang waktu persalinanmu, aku hanya bisa berdoa—seraya membayangkan tengah memegang tanganmu dan berkata, seperti waktu kecil dulu, “Jangan takut, ada aku di sini.

Kita selalu menemukan keberanian di atas ketakutan dan kegelisahan orang-orang yang kita sayangi, Adikku. Kita akan menemukan keberanian dari rasa percaya orang-orang yang kita sayangi bahwa kita akan selalu setia melindungi mereka. Maka bayangkanlah ketakutan bayimu, bayangkanlah kegelisahannya menghadapi detik-detik yang akan mengantarkannya dari buaian ke dekapanmu. Bayangkan ia yang akan menangis menghadapi ketakutan pertamanya. Harus ada yang berani menghadapi semua ini: Dan tugasmulah menjadi ibu yang kuat bagi bayi kecilmu yang kau sayangi. Katakan padanya, “Jangan takut, ada ibu di sini.

Maka buatlah segelas susu dengan gula merah, barangkali bisa menenangkanmu. Jika kau tetap merasa takut, aku tetap di sini, selalu mendoakanmu: Hâna waladat Maryam, wa Maryama waladat Isa ‘alayhis-salâm. Ukhruj ayyuhâl-maulûd biqudratil Malikil-ma’bûd.

***

“Kakak nggak takut?”

“Takut. Tapi kita bisa berdoa.”



Cold is the water
It freezes your already cold mind
Already cold, cold mind
And death is at your doorstep
And it will steal your innocence
But it will not steal your substance

But you are not alone in this
And you are not alone in this
As brothers we will stand and we'll hold your hand
Hold your hand

And you are the mother
The mother of your baby child
The one to whom you gave life
And you have your choices
And these are what make man great
His ladder to the stars

But you are not alone in this
And you are not alone in this
As brothers we will stand and we'll hold your hand
Hold your hand

And I will tell the night
Whisper, "Lose your sight"
But I can't move the mountains for you

Fahd Djibran | 29/05/2012

*Lagu: Mumford & Sons - Timshel (2011)

Dunia


Tuhan, mereka bilang aku harus mencintaiMu lebih dari segala-galanya: Lebih agung dari rasa cintaku pada ibuku, lebih mulia dari rasa cintaku pada istriku, lebih khusyuk dari rasa cintaku pada anakku. Tapi bagaimana caranya? Aku terlanjur menemukan cintaMu pada mata ibuku, lembut-tangan istriku, senyum anakku. Bagaimana aku menemukan cara mencintaMu yang lebih besar dari apapun, sementara Kau mencintaiku melalui apapun—manusia, semesta, dunia dan segala isinya?

Seperti garam yang mengapung di udara, aku memang tak bisa menjelaskan semuanya. Mereka kira aku lebih mencintai dunia daripada akhirat? Mereka kira aku tak mencintaiMu dengan mengejar kebahagiaan dunia? Mereka kira aku durhaka dengan tak selalu punya waktu untukMu?

Ah, Tuhan, sungguh aku tak ingin hanya mencintaiMu dengan cara akhirat—aku ingin mencintaiMu jauh… Jauh sebelum aku sanggup menemuiMu. Maka demikianlah aku mencintaimu dengan cara dunia: Izinkanlah aku membawakanMu kebahagiaan ibuku, senyum istriku, tawa anakku. Izinkan aku mencintaiMu dengan kebahagiaan yang kuberikan bagi orang-orang yang selama ini mengalirkan cintaMu untukku. Jadi, please, Tuhan, aku tak mau jadi orang murung yang hanya membawakan arwahku untukMu: Aku tak ingin mencintaiMu dengan cara berduka-cita.

Tuhan, jika mereka menganggapku penuh dosa, maka biarkan aku mencintaiMu sebesar dosa-dosaku: Aku ingin mencintaiMu sebesar rasa percayaku bahwa Kau akan selalu bersedia menerimaku apa adanya. Aku ingin mencintaiMu seperti sepersekian detik perasaan Adam dan Hawa saat mereka pertama kali terlempar ke dunia: Sehingga kapanpun aku menyesal telah mengkhianatiMu, Kau selalu dengan penuh kasih memanggilku untuk pulang ke pangkuanMu. Demikianlah aku mencintaiMu dengan cara dunia, Tuhan: Barangkali ia memang rusak dan tak sempurna, tetapi nyata.

Tuhan, seperti tangan lumpur menyentuh hujan, atas nama Adam dan Hawa, kita memang berpisah: Untuk saling merindukan.


My love, leave yourself behind
Beat inside me, leave you blind
My love, you have found peace
You were searching for release

You gave it all into the call
You took a chance and
You took the fall for us

You came thoughtfully
Loved me faithfully
You taught me honor
You did it for me

Tonight you will sleep for good
You will wait for me, my love

Now I am strong, you gave me all
You gave all you had
And now I am home

My love, leave yourself behind
Beat inside me, leave you blind
My love, look what you can do
I am mending, I'll be with you

You took my hand and added a plan
You gave me your heart
I asked you to dance with me

You loved honestly
Did what you could release
Ah, ooh

I know you're pleased to go
I won't relieve this love

Now I am strong, you gave me all
You gave all you had
And now I am home

My love, leave yourself behind
Beat inside me, I'll be with you

Fahd Djibran | 25/5/2012

*Lagu: Sia - My Love
**Gambar diambil dari sini.

Mati


Assalamualaikum.

Bang. Saya muslim.

Saya tidak mengenal dan membaca tulisan Anda sebelum Kang Fiersa yang memulainya. Beliau banyak berbicara tentang Anda dan saya akhirnya memutuskan untuk membaca tulisan-tulisan Anda. Magis. Begitu mengesankan dan membakar semua pesan yang anda tulis, sangat bertujuan dan bergaris bawah atas ilmu, pengetahuan, dan pengalaman Anda. Klasik.

Langsung saja, Bang.

Hal ini belum pernah saya ceritakan ke orang lain, bahkan ibu saya sendiri. Sangat aneh, saya terus bermimpi, berpikiran, berangan, dan mengimajinasikan kematian saya sendiri. Saya merasa kematian sangat dekat tapi saya belum melakukan apa-apa. Mati.

Saya masih kosong, tak berisi, berdosa, malas, bahkan tak mau tahu dengan isi pikiran saya sendiri. Apakah benar seperti apa yang ada dalam Al-Quran bahwa Allah telah membutakan mata, menutup telinga, bahkan membekukan hati saya?

Saya sangat fobia naik pesawat.

Assalamulaikum.

Ucok


:::::::::::::::::::::


Waalaikumsalam…

Ucok,

Salam kenal sebelumnya. Jika mimpi dan pikiran itu selalu datang, ada dua kemungkinan. Pertama, ia memang benar-benar kamu takutkan sehingga terus mengendap menjadi memori bawah sadarmu. Mungkin kamu punya trauma tersendiri yang aku nggak tahu, tetapi kamu harus berusaha menyembuhkannya. Kedua, jika elmaut terus datang di mimpimu, itu merupakan pesan yang jelas agar kamu ‘memulai hidup yang lebih hidup’. Artinya hidup yang nggak sekadar rutinitas, tetapi hidup yang penuh gairah—hidup yang menghidupkan.

Mors janua vitae, begitu kata pepatah Yunani. Kematian adalah pintu gerbang bagi kehidupan. Bagiku, mimpimu mungkin mengingatkanmu untuk memulai sebuah hidup baru dan menghentikan cara hidupmu yang mungkin selama ini, diam-diam namun pasti, membuatmu malah “mati”.

Soal apa yang dikatakan Tuhan dalam Al-Quran, tentang mereka yang (di)buta(kan)-(di)tuli(kan)-(di)beku(kan)-hatinya, aku yakin kamu tidak termasuk kelompok itu. Buktinya kamu masih mempertanyakan apakah kamu termasuk di dalamnya atau tidak, kan? Artinya ada liang jernih dalam dirimu yang menggeliat-geliat mencari cahaya. Bersyukurlah sebab artinya matamu, telingamu, hatimu masih merindukan keba(j)ikan dan terus menyalakan radar kegelisahan bahwa kamu tak ingin jadi buta, tuli, dan beku hatinya.

Ucok yang baik, tak perlu pesimis dengan judge yang (mungkin) diberikan orang-orang atau dirimu sendiri atas segala hal buruk dalam hidupmu yang selama ini terlanjur terjadi. Percayalah bahwa hidup nggak melulu ditegakkan dengan kebaikan, tetapi juga dari najis dan dosa. Tak ada satu pun manusia di atas dunia yang tak pernah bersalah pada masa lalunya. Maka teruslah berjalan untuk meninggalkan ‘yang gelap di belakang’. Katakan pada diri sendiri bahwa, dalam gelap kau tak pernah punya nama. Dan hanya dengan terus berjalan, hanya dengan terus berjalan... kau akan terus belajar untuk menemukan “namamu yang sesungguhnya”.

Dan, akhirnya, Ucok: BUNUHLAH KEMATIANMU!

Salam,

Fahd Djibran

PS. Aku mengajakmu mendengarkan lagu ini:



How fickle my heart and how woozy my eyes
I struggle to find any truth in your lies
And now my heart stumbles on things I don't know
My weakness I feel I must finally show

Lend me your hand and we'll conquer them all
But lend me your heart and I'll just let you fall
Lend me your eyes I can change what you see
But your soul you must keep, totally free
Ha ha, ha ha
ha ha, ha ha

awake my soul...
awake my soul...

How fickle my heart and how woozy my eyes
I struggle to find any truth in your lies
And now my heart stumbles on things I don't know
My weakness I feel I must finally show
Ha ha, ha ha
ha ha, ha ha

In these bodies we will live,
in these bodies we will die
Where you invest your love,
you invest your life

In these bodies we will live,
in these bodies we will die
Where you invest your love,
you invest your life

awake my soul...
awake my soul...
awake my soul...
For you were made to meet your maker

awake my soul...
awake my soul...
awake my soul...
For you were made to meet your maker
You were made to meet your maker

*Lagu: Awake My Soul - Mumford & Sons
**Gambar diambil dari sini.

Monodialog



Selamat siang, aku mengerti kesedihan yang tengah kau rasakan. Aku pernah merayakan kebahagiaan yang sedang kau rasakan. Aku pernah merasakan kebimbangan dan kegelisahan seperti yang saat ini sedang kauhadapi. Sepertimu, aku juga muak pada rutinitas yang menindas, kebohongan, pengkhianatan, atau kepura-puraan yang mengatakan ‘segalanya baik-baik saja’ saat segalanya tak sedang baik-baik saja. Dan kita sama-sama menyukai kebebasan, angin lembut sore hari yang menerpa wajah kita yang lembab, atau suara tawa masa kecil kita yang selalu bebas dan berbahagia. Sebab aku adalah kamu, dalam hidup dan kenyataan yang berbeda.

Aku mohon maaf jika tulisan ini akan menahanmu beberapa saat. Aku ingin bertamu ke hatimu, duduk bersama dan memulai sebuah percakapan kecil yang barangkali tak biasa. Tentu saja ada beberapa orang yang tidak menyukai percakapan ini, kebersamaan dan keakraban kita, tetapi kita tak perlu terus-menerus peduli pada perasaan dan pikiran orang lain, kan? Maka aku akan tetap duduk di sampingmu untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya sudah sejak lama ingin kusampaikan.

Aku tidak datang untuk mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi untuk memintamu sejenak mengabaikan hal-hal yang belakangan ini barangkali membuat pikiranmu jadi berat. Berhentilah berpikir bahwa segalanya mesti berjalan baik-baik saja, dan sempurna, dan tanpa kesalahan: Sebab kita memang diberi ruang dan kesempatan untuk membuat segalanya tidak baik-baik saja, kan? Dan bersyukurlah jika segalanya berjalan tidak sebagaimana mestinya, sebab itu artinya kita diberi kesempatan lain untuk memperbaikinya.

Jika semuanya berjalan baik-baik saja. Beristirahatlah sejenak, lihatlah sampai segala urusan kembali pada takdir-utamanya untuk menjadi berantakan. Jika saat itu tiba, kembalilah bekerja. Kita semua diciptakan untuk menyelesaikan persoalan: Maka lakukan. Kapanpun kau merasa tak punya masalah, kau akan segera menemukannya. Kapanpun kau merasa bahwa kau bisa hidup dengan masalah, kau akan jadi manusia bahagia yang selalu bisa menyelesaikannya.

Nikmatilah semuanya. Sambutlah bayi-bayi yang dilahirkan. Peganglah tangan orang yang kamu sayangi. Relakan kepergian orang yang kamu cintai. Jatuhlah pada cinta dan bangunlah sebagai manusia yang berjalan di atas keyakinannya sendiri. Berlututlah pada keagungan. Bentangkanlah sayap saat seseorang menjatuhkanmu dari ketinggian—terbanglah seperti burung mencintai angin. Berjalanlah seperti seorang ayah yang menuntun lengan putrinya. Berbahagialah seperti anak-anak. Waspadalah seperti pertama kali belajar berjalan. Dengarkanlah nyanyian angin. Jadilah air hujan yang membawa kehidupan baru bagi tanah-tanah yang kering. Jadilah matahari yang berani terbit dan siap untuk tenggelam. Jadilah seseorang yang membuat dunia jadi berbeda. Jadilah dirimu sendiri: Kita bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa, sampai kita mewakili pikiran dan perasaan kita sendiri.

Sampai di sini, kau tak lagi melihatku duduk di sampingmu, di ruang hatimu: Aku telah menghilang dalam kata-kata. Tak memiliki nama. Tak memiliki suara.

Kini, hanya dirimu, hanya dirimu... Hanya dirimu yang bisa mengubah hidupmu sendiri.


Serpong, 22/05/2012


Momen


Alia,

Kelak, akan datang juga, sendirian atau bersama-sama keluarganya: Seorang laki-laki yang memarkirkan mobilnya tepat di depan halaman rumahmu, kemudian turun dengan kemeja rapi yang agak kusut di bagian punggungnya.

Jika saat itu tiba, dari balik jendela, kamu akan melihatnya berdiri dan merapikan kerah kemejanya, lalu berjalan perlahan menuju pintumu. Maka dengarkanlah… Dengarkanlah, Alia… Suara langkah kakinya, ah suara langkah kakinya: Terdengar samar-samar dan bikin dadamu berdebar.

Di sanalah kau akan tahu bagaimana rasanyanya bila semesta bekerjasama untuk membuatmu bahagia—tapi malah bikin kamu deg-degan: Saat kamu justru bertanya-tanya apakah semua ini benar-benar nyata?

Tetapi, demikianlah kamu telah dipaksa untuk percaya pada kenyataan paling istimewa yang entah bagaimana caranya telah tersedia di depan mata. Maka setiap langkahnya semakin dekat ke pintumu, Alia, diam-diam ada yang bikin dadamu makin sesak. Ada sesuatu yang entah apa namanya sedang berusaha menyumbat pernapasanmu: Bikin kamu keringetan melulu. Lantas kamu kehilangan kendali pada saraf senyummu sendiri: Yang begitu lama kamu tunggu, kini tengah duduk menunggumu di ruang tamu!

Maka berjalanlah dengan segenap perasaan itu, Alia, dan sambutlah senyumnya yang manis—tatap matanya yang puitis—

Dia sudah datang!


outside there's a box car waiting
outside the family stew
out by the fire breathing
outside we wait 'til face turns blue
i know the nervous walking
i know the dirty beard hangs
out by the box car waiting
take me away to nowhere plains
there is a wait so long
here comes your man

big shake on the box car moving
big shake to the land that's falling down
is a wind makes a palm stop blowing
a big, big stone fall and break my crown
there is a wait so long
you'll never wait so long
here comes your man
there is a wait so long
you'll never wait so long
here comes your man

Fahd Djibran | 13/5/2012

*Lagu: Meaghan Smith - Here Comes Your Man (The Pixies Cover)
*Gambar diambil dari sini.

Ikhlas



Ada yang Kau tunda: Kebahagiaan
Ada yang Kau nyalakan: Harapan
Ada yang Kau tunggu: Kesabaran

: Tuhan, aku tetap bersamaMu
dan baik-baik saja


Fahd Djibran | 12/5/2012



*Lagu: Green Day feat American Idiot Cast - 21 Guns (lirik baca di sini)
*Gambar diambil dari sini.

Kenangan



O, kenangan, bawa aku kembali ke masa kecil!

Aku ingin berlari melintasi halaman-halaman rumah tetangga, mengendap-endap memasuki rumah tua yang kosong: Berbohong bahwa aku pernah melihat hantu di dalamnya. Kemudian aku akan mengejek Yuri yang penakut—atau berkomplot dengan Uli untuk melanggengkan cerita hantu di rumah itu. Sebenarnya sih aku takut sama kecoa. Yuri tidak. Ah, yang penting tidak ada yang tahu, toh aku tidak takut pada cicak. Ah. Apa itu? Apa itu? Apa itu? Kenapa Yuri suka menangis? O, ternyata dia sering dimarahi ibunya. Kasihan. Dadan suka minta makan pada ibuku. Oleh-oleh dari ayah selalu membuatku bahagia.

O, kenangan, apa hubungannya semua itu? Mengapa kau tak terbaca bagai kisah-kisah dalam buku-buku cerita?

Usai pertandingan sepakbola, aku duduk di pinggir lapangan dengan perasaan lega: Antara kemenangan dan rasa lelah yang terbayar. Sisa-sisa keringat, bau matahari, cahaya senja penghabisan. Angin berembus perlahan menerbangkan kantung plastik hitam di mulut gang. “Cepat pulang!” Kata ibu, dengan suara sebenarnya, bukan SMS. Pengajian sudah dimulai dan aku terlambat. Mengapa aku belum hapal Surat Al-A’la? Mengapa aku lebih dulu hapal Surat An-Naba? Sementara Mang Ajum mengumandangkan azan Maghrib yang tidak enak didengar, aku baru tahu bahwa hari ini Yayan ulang tahun. Aku dapat nasi kuning dengan telur dadar. 

O, kenangan-kenangan, bagaimana caranya menyusun kalian menjadi cerita yang enak dibaca?

Tadi malam nonton Kera Sakti?” Tanya Ani. “Nonton!” Jawabku. Padahal tadi malam aku ketiduran. Tapi aku pernah ke Jakarta, lho, lihat Monas dan Taman Mini. Indonesia Indah? Ah, Toni dan Oni belum pernah kemana-mana selain ke Garut. Kasihan. “Yoko tangannya buntung!Ah. Ah. Ah. Siapa itu? Siapa itu? Aku suka MacGyver yang bisa memperbaiki apa saja. Aku suka Hakim Bao yang bijaksana. Tapi mengapa Popeye Harus bertato, menghisap cerutu, dan selalu berkelahi demi seorang perempuan? Aku bahagia punya televisi.

O, kenangan, demi masa laluku yang tidak teratur, mengapa aku justru bisa jauh lebih berbahagia di pelukanmu? Kemana kebahagiaan-kebahagiaan itu? Kemana kebebasan-kebebasan itu?

... Setiap hari, seperti hari ini, gemerlap dunia selalu membuatku melupakanmu. Kemudian aku bangun pagi, menyikat gigi, memakai dasi, menyalakan komputer, memeriksa daftar pekerjaan yang belum terselesaikan, mengatur dan merencanakan kebahagiaan-kebahagiaan; Yang sebenarnya selalu datang penuh kejutan dan tak beraturan. 

O, kenangan, aku bersyukur menyimpanmu secara tak beraturan dalam kepalaku. Sehingga kapanpun aku datang kepadamu, tidak seperti pada dunia yang terlanjur penuh rekayasa, aku masih bisa tetawa dan berbahagia.

Terima kasih, ya.



Fahd Djibran | 08/05/2012

* Lagu: Fleet Foxes – Mykonos (2009)
* Gambar diambil dari sini.

Keinginan


Pada mulanya, saya adalah seseorang yang selalu meragukan kemampuan Tuhan untuk menjawab doa-doa yang dibacakan manusia—

Hingga pada suatu hari, beberapa tahun yang lalu, seorang teman mengeluh dan memaki-maki Tuhan karena ia merasa bawa keinginan-keinginannya tak pernah didengar dan dikabulkan Tuhan. “Tuhan memang memberikan segala hal yang kita butuhkan, tapi kalau Dia benar-benar Maha Kuasa, sesekali Dia juga harus mengabulkan apa yang kita inginkan, donk!” Umpatnya.

Saya bisa memahami kemarahannya. Teman saya ini, seorang pria baik yang taat beribadah, namun seringkali tak begitu beruntung dalam hidupnya—

Tuhan tahu bahwa Apa yang kita inginkan belum tentu baik bagi kita.” Demikian respon saya. Jujur, saya tak punya jawaban lain selain kalimat klise semacam itu. Padahal, dalam hati, saya juga bertanya-tanya: Bukankah Tuhan sudah berjanji akan mengabulkan apa yang kita mintakan kepada-Nya?

Aku akan memaksa Tuhan agar mengabulkan keinginanku,” katanya.

Memaksa?” Saya mengonfirmasi pernyataan teman saya itu.

Ia mengangguk penuh keyakinan. “Kalau tak bisa diminta secara baik-baik, aku akan memaksanya!

Tentu saja saya tak pernah menduga teman saya yang baik dan salih ini akan mengeluarkan pernyataan sedemikian keras tentang Tuhan. Tetapi, sekali lagi, saya bisa memakluminya: Kekurangan-kekurangan dalam hidupnya, penderitaan dan perjuangan panjangnya, kekhusyukan ibadah dan doa-doa khidmatnya, bagi saya, sudah memberinya cukup alasan untuk “menagih” sesuatu pada Tuhan.

Bagaimana caranya memaksa Tuhan?” Saya tak bisa menduga apapun yang akan teman saya lakukan untuk memaksa Tuhan agar mengabulkan keinginannya. 

Aku akan memintamu mendoakanku, seperti akan kuminta puluhan orang lain mendoakanku.

Saya terdiam. Teman saya melanjutkan—

Bersama puluhan orang itu, aku akan mengarak doaku untuk menggetarkan langit dan memaksa para malaikat untuk membuka pintu Arasy. Di sanalah para malaikat akan melihat gumpalan-gumpalan doa kita berubah menjelma gelombang cahaya yang demikian besar sehingga membuat mereka silau dan gemetar—Sehingga tatkala gelombang itu sampai tepat di hadapan mereka, mereka tak punya pilihan lain selain membukakan pintu langit dan mengantarkannya ke hadapan Tuhan. Dan Tuhan Yang Maha Mengabulkan Semua Doa yang Sampai di HadapanNya, tak bisa lagi menolaknya!

Saya tercengang. Apa yang baru saja teman saya katakan benar-benar tak pernah saya bayangkan sebelumnya: Kurang ajar, tapi keren!

Dengan penuh keyakinan,” saya mengucapkan kalimat itu dengan perasaan yang gemetar, “Aku akan mendoakan apapun yang terbaik untukmu.

***

Beberapa minggu setelah percakapan itu, setelah ia mendatangi orang kelima puluh tiga yang ia mintai doa, secara ajaib Tuhan mengabulkan keinginannya untuk melanjutkan kuliah—

Pamanku,” demikian teman saya mulai bercerita, “Ketika aku datang padanya untuk meminta didoakan agar bisa melanjutkan kuliah, menelepon salah satu temannya. Di hadapanku, Paman bicara tentang hal-hal yang tak sepenuhnya aku mengerti. Tetapi ketika ia menutup telepon dan tersenyum, ia mengatakan bahwa aku bisa melanjutkan pendidikanku dan berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang dikelola temannya: Gratis! Dan paman akan menanggung semua biaya hidupku selama kuliah!

***

Sejak saat itu, saya mendapatkan keyakinan baru tentang doa. Seketika saya berubah menjadi seseorang yang menitipkan harapan dan keinginan-keinginan saya pada doa-doa. Dan kapanpun saya merasa ragu bahwa doa saya bisa dikabulkan, karena saya tahu saya bukan seorang yang baik apalagi salih, saya akan meminta bantuan siapapun untuk turut mendoakan saya.

Mungkin saya tak hendak memaksa Tuhan dengan meminta orang lain mendoakan saya. Tidak seperti teman saya tadi, saya bukan orang baik yang berhak melakukan itu. Tapi saya memercayai keyakinan teman saya: Langit tak akan sanggup menangkal doa yang diantarkan 40 orang kepadanya. Doa itu akan sampai di hadapan Tuhan, dan hanya soal waktu untuk menunggunya dikabulkan.

Itulah sebabnya, jika mengharapkan sesuatu terjadi dalam hidup saya, keinginan-keinginan yang saya pikir tak mungkin bisa saya wujudkan tanpa campur tangan Tuhan, saya akan meminta orang lain di sekeliling saya untuk turut mendoakan saya. Dari sekian banyak orang yang saya minta doanya—orangtua, kerabat, teman, sahabat—saya tak pernah benar-benar tahu doa siapa sebenarnya yang akan dikabulkan. Tetapi biarkanlah doa-doa itu bergerak, mengarak dirinya sendiri, menggedor pintu langit dan menemui Tuhan Yang Maha Mengabulkan Doa-doa.

***

Kini, saya memiliki sebuah doa yang benar-benar saya inginkan Tuhan mengabulkannya. Saya datangi orang tua saya, kerabat-kerabat saya, sahabat-sahabat saya, teman-teman saya, untuk meminta mereka mendoakan saya. Dan melalui tulisan ini, saya mendatangi kalian untuk membantu saya: Doakan apa saya yang baik untuk saya, maka saya pun dengan senang hati selalu mendoakan segala yang baik untuk kalian.

Semoga Tuhan mengabulkannya. :)


Good times for a change
See, the luck I've had
Can make a good man
Turn bad

So please please please
Let me, let me, let me
Let me get what I want
This time

Haven't had a dream in a long time
See, the life I've had
Can make a good man bad

So for once in my life
Let me get what I want
Lord knows, it would be the first time
Lord knows, it would be the first time

Fahd Djibran
| 07/05/2012

*Lagu: The Smiths – Please, Please, Please, Let Me Get What I Want
*Gambar diambil dari sini.

Iman


Semasa kecil, saya punya keyakinan bahwa Tuhan bekerja saat kita tidur—terutama di malam hari. Dia menyembuhkan luka, melepaskan kelelahan dari tubuh kita, dan melakukan hal-hal ajaib lainnya yang tak dapat dilihat manusia ketika mereka terjaga. Saya percaya bahwa pada malam hari, Tuhanlah yang melunakkan hati Goris yang sedang marah pada saya: Karena keeseokan harinya kami bermain dan bercanda kembali seolah-olah pertegkaran sehari sebelumnya tak penah terjadi.

Tuhan adalah hal paling ajaib dalam hidup saya, meski tak pernah benar-benar terjelaskan: Saya memercayainya.

Setiap malam tiba, saat ibu menyuruh saya berdoa sebelum tidur, saya tak tahu arti doa itu, tapi saya percaya bahwa doa itu bisa mempermudah kerja Tuhan untuk melakukan hal-hal baik dan menakjubkan untuk saya, orang tua saya, keluarga saya, semua orang dan dunia. Tuhan selalu bekerja dalam keserbamungkinan yang ajaib dan mencengangkan. Misalnya saat saya berdoa agar kakek cepat sembuh dari sakitnya, dua hari berikutnya Tuhan mengirimkan kakek untuk mengetuk pintu rumah saya dan mengajak saya jalan-jalan. Bagaimana Tuhan melakukannya? Saya tidak pernah benar-benar tahu—mungkin karena Dia melakukannya saat saya sedang tidur.

Itulah sebabnya, bertahun-tahun, setiap pagi ketika saya terbangun dari tidur, saya selalu menjadi anak yang ceria dan tanpa beban: Saya percaya Tuhan telah melakukan tugasNya tadi malam, dan saya tak perlu khawatir tentang apa-apa lagi.

***

Bertahun-tahun kemudian, saya baru mengetahui: Ternyata Tuhan tidak hanya bekerja di malam hari. Dia bekerja saat kita terlelap maupun terjaga. Demikianlah, Tuhan selalu ada, tersedia, dan Maha Kuasa.

Tapi, saya tetap berdoa sebelum tidur... 

Saya menceritakan masalah-masalah saya dengan keyakinan bahwa Dia selalu mendengarkan dan akan menyelesaikan semuanya ketika saya tertidur. Saya yakin, Tuhan tak akan mengkhianati iman masa kecil saya: Buktinya, selama ini Dia selalu ada untuk saya, setia menyayangi saya, menghapus kesedihan-kesedihan saya.

Kini, setiap kali saya terjaga dari tidur saya di malam hari, saya berusaha mengingat semua kebaikanNya untuk saya selama ini, lalu berdoa dengan cara yang sangat sederhana: 
Tuhan, Engkau Maha Tahu Segalanya.
Selamat bekerja.
Amin.
... Dan saya pun tidur kembali. Dengan penuh ketenangan.


Fahd Djibran | 02/05/2012 – 03.15 AM.



Serve God, love me and mend
This is not the end
Lived unbruised, we are friends
And I'm sorry
I'm sorry

Sigh no more, no more
One foot in sea and one on shore
My heart was never pure
And you know me
You know me

But man is a giddy thing
Oh man is a giddy thing
Oh man is a giddy thing
Oh man is a giddy thing

Love it will not betray you
Dismay or enslave you, it will set you free
Be more like the man you were made to be
There is a design, an alignment, a cry
Of my heart to see,
The beauty of love as it was made to be

*Lagu: Mumford & Sons – Sigh No More (2011)
*Gambar diambil dari sini.

Kuning


Ini sebuah kisah sederhana yang barangkali sudah kita ketahui atau belum kita ketahui—tentang kesungguhan mencintai.


Look at the stars,
Look how they shine for you,
And all the things you do,
Yeah, they were all yellow.

I came along,
I wrote a song for you,
And everything you do,
And it was called "Yellow".

So then I took my turn,
Oh what a thing to have done,
And it was all "Yellow."
Chris Martin, vokalis grup musik kenamaan asal Inggris, Coldplay, menuliskan lirik lagu berjudul Yellow (2000) ini untuk Ibunya. Saat itu Sang Ibu sedang menderita kanker dan, karena satu dan lain hal, kulitnya mulai menguning. Mendapati kenyataan itu, Chris yang begitu mencintai ibunya ingin menuliskan sebuah lagu tentang segala sesuatu yang indah di dunia ini—dan berwarna kuning. Ia ingin memberi tahu kepada seluruh dunia bahwa baginya segala hal yang kuning itu indah: Seperti Ibunya.
Your skin,
Oh yeah your skin and bones,
Turn into something beautiful,
You know, you know I love you so,
You know I love you so.

I swam across,
I jumped across for you,
Oh what a thing to do.
Cos you were all "Yellow",

I drew a line,
I drew a line for you,
Oh what a thing to do,
And it was all "Yellow."

Your skin,
Oh yeah your skin and bones,
Turn into something beautiful,
And you know,
For you I'd bleed myself dry,
For you I'd bleed myself dry.
Setiap kali mendengarkan lagu ini, sejak 12 tahun lalu, selalu ada perasaan hangat dalam hati: Seberapa tuluskah sebenarnya saya sanggup mencintai? Kemudian saya membayangkan dunia yang mendadak tidak ideal bagi kehidupan saya, saat semua hal yang tidak saya inginkan dan saya takutkan mendekat: Bisakah saya tetap membuatnya menjadi indah?

Setiap kali saya ragu, saya kembali mendengarkan lagu ini—
It's true,
Look how they shine for you,
Look how they shine for you,
Look how they shine for,
Look how they shine for you,
Look how they shine for you,
Look how they shine.
Demikianlah, tidak pernah ada yang benar-benar buruk bagi kita: Selalu ada sisi-sisi yang sebenarnya bercahaya. Hanya tinggal bagaimana kita melihatnya. Kemudian saya berpikir lagi, dan lagi, dan lagi: Rasanya sudah selesai saatnya bagi kita untuk murung dan bersedih. Bila kenyataannya dunia memang tak selalu indah, maka kitalah yang harus membuatnya menjadi indah—untuk kemudian memberi tahu semua orang bahwa segalanya bisa menjadi demikian indah jika kita bisa memahaminya.  
Look at the stars,
Look how they shine for you,
And all the things that you do.


Fahd Djibran | 1/5/2012

Lagu: Coldplay ~ Yellow (Video: Live in Sydney, 2003)

Sejenis


Dear Mr. Fahd,

Sebelum saya memperkenalkan diri saya dan menceritakan kisah saya, saya ingin tanya terlebih dahulu: Apa pendapat Saudara Fahd tentang gay, homoseksualitas, atau perasaan suka sesama jenis? Saya tahu background pendidikan formal dan agama yang Saudara tempuh cukup tinggi, namun saya ingin mendengar pendapat pribadi Saudara yang benar-benar jujur mengenai fenomena tersebut.

Salam,
Supernova

+++

Dear Supernova,

Sebelum Anda, ada beberapa e-mail serupa yang menanyakan hal ini. Saya memang belum sempat menjawabnya. Tetapi melihat pertanyaan-pertanyaan semacam ini terus datang, rasanya sudah saatnya saya harus mengemukakan pendapat saya tentang fenomena ini.

Perlu dicatat, ini pendapat pribadi, artinya saya tidak menyandarkan argumen ini pada dalil-dalil agama maupun teori-teori mengenai manusia, relasi, maupun seksualitas manapun. Tentu pendapat ini bisa disetujui atau tidak disetujui siapapun, tetapi jika ingin duduk perkaranya lebih objektif, komprehensif, dan bertanggung jawab, kita memerlukan diskusi-diskusi yang lebih memadai tentang hal itu.

Ada tiga hal yang ingin saya dudukkan dalam tiga porsi yang berbeda, sesuai pertanyaan Anda—

Pertama, perasaan suka pada sesama jenis. Saya ingin memberi tekanan bagi kata ini: Perasaan, dari semua potensi yang dimiliki manusia, adalah dimensi yang paling misterius sekaligus kompleks. Saya tidak bisa memungkiri bahwa perasaan suka kepada sesama jenis adalah sesuatu yang sangat mungkin ada pada diri semua manusia (dengan berbagai alasan). Jika saya melatihnya, dalam arti teruns-menerus memberi ruang dan perhatian untuknya agar bertumbuh, saya pun berkemungkinan memiliki perasaan semacam itu kepada seseorang.

Perasaan adalah dimensi ‘paling lembut’ sekaligus ‘paling keras’ yang dimilki manusia. Itulah sebabnya, ihwal perasaan, manusia memang ditugaskan untuk mengelola perasaannya—agar tidak hidup dengan diperbudak perasaannya sendiri. Saya percaya, manusia yang bahagia adalah manusia yang bijaksana dalam mengelola perasaannya. Dalam kebijaksanaan selalu ada cinta, juga keberanian sekaligus kerendahatian untuk mengalah agar perasaannya tak membuat dirinya menjadi manusia yang melukai perasaan manusia-manusia lain di sekelilingnya. Di sanalah, saya akan mengalahkan ‘perasaan suka pada sesama jenis’ yang (bila) ada pada diri saya tadi jika itu memang bisa menjadikan saya seseorang yang melukai perasaan manusia-manusia lain di sekeliling saya. Saya akan menyambut perasaan lain yang membentangkan kebahagiaan yang lebih lapang untuk hidup saya.

Kedua, gay. Tentu saja ini soal identitas. Sesuatu yang sangat ‘sosial’, artinya kita tak bisa mengabaikan pihak lain (orang lain) ketika berurusan dengan soal yang satu ini. Identitas ini bisa merupakan pilihan, 'tuduhan', atau pelabelan dari pihak eksternal yang (biasanya) dipaksakan.

Dalam soal ini, entahlah, saya percaya bahwa mereka yang mendeklarasikan diri sebagai (kaum) gay adalah mereka yang berusaha mencari tempat yang nyaman untuk bebas manumbuhkan perasaan yang sesungguhnya mereka tahu jika mereka lakukan di tempat lain akan melukai perasaan orang lain. Barangkali mereka yang ingin menemukan kompensasi bagi masa lalunya atau mereka yang ingin secara cepat menemukan kekuatan dari dirinya yang selama ini dianggap lemah oleh dunia di sekelilingnya. Saya tidak tahu pasti dan saya tidak ingin menjustifikasi. Berseberangan dengan itu, saya orang yang percaya bahwa kita tidak bisa menemukan kebahagiaan melalui pelarian, identitas atau atribut-atribut apapun: Kita mesti menemukannya dalam diri kita sendiri secara bebas.

Ketiga, homoseksualitas. Tentu kita setuju bahwa atribut utama dari kata ini adalah 'seks'. Jadi jelas ini soal hasrat, orientasi, nafsu, kelamin, fantasia: Hal-hal yang sepanjang sejarah manusia dicari, diperdebatkan, dan dikreasikan dengan berkiblat pada pemenuhan kepuasan masing-masing manusia (bersifat ke dalam). Saya percaya tidak ada ketulusan cinta di sini, sebab 'perasaan-perasaan' secara egois selalu direduksi menjadi seperangkat alat untuk mencapai dan memenuhi kepentingan-kepentingan tertentu, kepuasan-kepuasan tertentu. Jika homoseksualitas adalah kompensasi badaniah untuk sesuatu yang 'di-kambing-hitam-kan' sebagai cinta, sama seperti kepada heteroseksualitas yang mereduksi cinta sebagai pemenuhan seks belaka: Saya jelas menolaknya. Saya tidak pernah berniat merendahkan diri menjadi manusia yang diperbudak nafsunya sendiri.

Supernova,

Manusia adalah makhluk yang ditakdirkan untuk memilih. Dan kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang bukan hanya banyak, tetapi juga bercecabang dan beranak-pinak. Di hadapan pilihan-pilihan itu, kita dituntut untuk cerdas dan bijaksana—tidak hanya mementingkan diri kita sendiri untuk memenuhi apa yang kita inginkan.

Thus, meski pilihan-pilihan untuk menjadi 'penyuka sesama jenis', gay, atau homoseksual sama tersedia dalam hidup saya sebagai manusia: Saya tidak ingin memilihnya. Saya berdiri di atas lutut saya sendiri, dengan kepala tegak, dan perasaan yang bebas: Menolaknya.

Sekali lagi, ini pendapat pribadi saya. Saya tidak menyandarkan pendapat ini pada dalil-dalil agama maupun teori-teori manapun. Saya bodoh sekaligus gagap tentang semua hal itu. Saya berdiri dan berkata dengan apa yang saya pahami dari diri saya sendiri; Dan tentang diri sendiri, tak ada satupun orang lain yang berhak mengintervensinya, bukan? Sebab kitalah tuan bagi diri kita sendiri!

Semoga kita menjadi tuan yang bijaksana—bagi diri dan kehidupan kita.

Salam,
Fahd



As the winter winds litter London with lonely hearts
Oh the warmth in your eyes swept me into your arms
Was it love or fear of the cold that led us through the night?
For every kiss your beauty trumped my doubt

And my head told my heart
"Let love grow"
But my heart told my head
"This time no
This time no"

We'll be washed and buried one day my girl
And the time we were given will be left for the world
The flesh that lived and loved will be eaten by plague
So let the memories be good for those who stay

And my head told my heart
"Let love grow"
But my heart told my head
"This time no"
Yes, my heart told my head
"This time no
This time no"

Oh the shame that sent me off from the God that I once loved
Was the same that sent me into your arms
Oh and pestilence is won when you are lost and I am gone
And no hope, no hope will overcome

And if your strife strikes at your sleep
Remember spring swaps snow for leaves
You'll be happy and wholesome again
When the city clears and sun ascends

And my head told my heart
"Let love grow"
But my heart told my head
"This time no"

And my head told my heart
"Let love grow"
But my heart told my head
"This time no
This time no"

*Lagu: Mumford & Sons ~ Winter Winds (2011)

Keterbukaan


Salam sejahtera untuk Bang Fahd dan keluarga,

Saya mohon izin untuk share dengan Bang Fahd terkait ganjalan-ganjalan dalam hati. Saya mempunyai pengalaman masa lalu yang tidak begitu baik, terutama dalam hal menjalin hubungan.

Dulu, saya amat memuja dan mencinta seseorang. Kita pun berencana untuk menikah, tapi hanya angan. Dia memutuskan memilih yang lain. Saya hormati keputusannya itu, karena kita membicarakan ini secara baik-baik, meskipun dalam hati jujur saya tidak sepenuhnya menerima.

Semenjak kejadian itu, saya sedikit kurang bersemangat berjalan. Harapan saya untuk mengabdikan lahir batin saya untuk dia tak terwujud. Meskipun sampai saat ini saya masih PD dengan harapan itu. Tidak mudah juga bagi saya untuk membuka hati. Karena pengalaman itu, saya menjadi takut untuk menjalin hubungan. Sering, dengan sinis saya selalu menolak mentah-mentah setiap orang yang hendak PEDEKATE ke saya. Parahnya, sempat saya berpikir bahwa biarlah saya hidup menyendiri tanpa pasangan.

Tetapi tak disangka, saya menemukan blog ini dan tulisan bang Fahd berjudul "Samar", betul-betul menyadarkan saya. Pelan, saya kini berani membuka hati. Ada seseorang yang berniat mengkhitbah saya kini. mungkin secara lahir batin kami siap dan mantap. Namun, ada yang sesuatu yang mengganjal saya: Saya tidak bisa mempersembahkan selaput dara saya kepada calon suami saya, karena seseorang telah mendahuluinya. Inilah dosa saya.

Apakah saya harus mengatakan apa adanya terkait hal ini?

Terima kasih, Bang Fahd.


I

+++++

Dear I,

Senang sekali kalau blog saya ternyata cukup bermanfaat buat banyak orang—termasuk kamu. Saya memang berharap banyak orang tidak terjebak di masa lalunya yang (mungkin) buruk; Hidup perlu ditegakkan hari ini dengan semangat dan penuh percaya diri, kan? Namun kita juga mesti tetap berhati-hati dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk di masa depan.

Tentang kisahmu, saya senang kamu sudah mulau melangkah lagi dengan kepala tegak dan hati yang terbuka. Berbahagialah: Semoga kelak kamu dan keluargamu dilingkupi keberkahan. Saya tentu mendoakannya.

Untuk pertanyaannmu, sejujurnya saya tidak tahu mesti jawab apa. Toh saya juga tidak mengenal dan tidak tahu apa-apa tentang calon suamimu itu. Tapi kalau saya ada di posisinya, saya akan lebih senang jika kamu jujur. Terbuka dan apa adanya. Mungkin akan berat buat saya menerimanya, bahkan menyakitkan, tetapi bagi saya: Setiap orang bisa memiliki masa lalu yang buruk, dan saya juga merasa bukan orang suci yang tanpa dosa di masa lalu. Kalau saya sungguh-sungguh mencintaimu, saya akan memaafkanmu dengan tulus—untuk kemudian sungguh-sungguh bersama-sama menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik dan lebih baik lagi. Mungkin saya akan lebih terpukul jika mengetahui kenyataan itu ketika pernikahan sudah terjadi, meskipun saya akan selalu punya kesempatan dan pilihan untuk memaafkannya: Tapi tentu akan jauh lebih berat.

Hubungan yang diawali dengan kejujuran dan keterbukaan selalu merupakan hubungan yang baik dan akan membahagiakan, saya percaya itu. Kalian saling terbuka di awal tentang segala sesuatu menurut saya adalah bagian yang sangat penting sebelum memulai sebuah pernikahan. Tapi yakinkan juga padanya bahwa kamu sudah meninggalkan ‘yang gelap di masa lalu’ itu dan kini kamu seseorang yang berbeda. Berjanji dan buktikanlah pertama-tama pada dirimu sendiri, lalu tunjukkan kesungguhanmu untuk menjadi istrinya—yang terbaik baginya sepanjang hidupnya. Itu akan menenangkannya.

Saya bukan seoarang penasihat pernikahan. Tapi bicaralah baik-baik. Itu rumus yang sangat sederhana, kan? Kalian yang tahu semuanya tentang diri kalian sendiri: Termasuk apa yang akan kalian pilih dan putuskan. Tapi semoga kalian percaya pada kata-kata Paul Boese, “Forgiveness does not change the past, but it does enlarge the future--pemaafan tak dapat mengubah masa lalu, tetapi ia melapangkan masa depan."

Saya doakan kalian jadi pasangan yang bijaksana. Kebijaksanaan selalu memiliki cinta yang membahagiakan dan membebaskan. Semoga.

Salam dari saya dan istri,
Fahd dan Rizqa




Tell me why this world is a mess
I thought you always tried your best
Tell me what Im ought to do
Maybe you should do it too

Tell me why theyre sleeping alone
No house no where to call a home
Tell me what Im meant to see
Wont you stop preaching at me

And I wanna see what its all about
And I wanna live, wanna give something back
Dont tell me that its over
Its only just begun
Dont tell me that its over
Or that this song is sung
The song is sung

All the money in the world
Would never slit all the wrongs to right
All the fire in the world
Would never set my heart alive

I dream of a day when its all gone away
And the sun is shining bright
I dream of a day when its all gone away
But dreams are for night

And I wanna see what its all about
And I wanna live, wanna give something back
Dont tell me that its over
Its only just begun
Dont tell me that its over
Or that this song is sung
The song is sung

Dont tell that its over
Please Im on my knees Im beggin you to stop
Its over please Im on my knees Im beggin you to stop

And I wanna see what its all about
And I wanna live, wanna give something back
Dont tell me that its over
Its only just begun
Dont tell me that its over
Or that this song is sung
The song is sung

*Lagu: Amy MacDonald ~ Dont Tell Me That is Over