:Farah
Aku tak bisa mengusir semua ketakutanmu, Adikku. Sebagai Kakak, aku tak bisa selalu melindungimu. Barangkali karena aku juga memiliki ketakutan yang tak bisa kusingkirkan dalam diriku. Tapi jika ada yang membuatmu gelisah, aku akan memegang tanganmu dan mendengarkan semua ceritamu. Kau boleh bercerita apa saja... dan aku akan membuatkanmu segelas susu dengan gula merah, seperti ketika kita kecil dulu, agar kau merasa jauh lebih tenang... jauh lebih tenang... jauh lebih tenang dari sebelumnya.
“Jangan takut. Kamu nggak sendirian, kok. Ada aku di sini.” Aku berusaha menenangkanmu, Ayah dan Ibu belum juga pulang. Hari sudah mulai malam.
“Gimana kalau mati lampu?” Kau mulai berpikir macam-macam.
“Aku akan tetap di sini, menemanimu.” Jawabku.
“Dalam gelap, aku tak bisa melihat apa-apa. Aku tak bisa melihat Kakak ada di sini.”
“Kau bisa memegang tanganku. Aku akan memegang tanganmu seperti Ayah memegang tanganku. Tenanglah, jangan takut.”
“Kakak nggak takut?” Katamu.
“Takut. Tapi kita bisa berdoa.”
Dalam kepala, bayangan tentang Kiki yang kesurupan di film Penghuni Bangunan Tua mulai menguasai diriku: “Nama saya Yanto, nama saya Yanto. Saya mati dibunuh orang.” Kalimat itu terus memutar adegan anak kecil dengan bibir membiru dan gemetar. Di luar, langit terus menjadi gelap.
Kau duduk beringsut di sampingku. Malam terus merangkak, jarum jam terus bergerak. Aku memegang tanganmu. “Jangan takut,” kataku. Kau mengangguk: Dan aku menemukan keberanianku pada ketakutanmu—pada rasa percayamu bahwa aku akan selalu ada di sampingmu.
***
Kini, belasan tahun berlalu, kau akan menghadapi ketakutanmu yang lain. Ketakutan yang barangkali tak pernah sanggup kubayangkan sebagai laki-laki. Tapi sebagai Kakak, menjelang waktu persalinanmu, aku hanya bisa berdoa—seraya membayangkan tengah memegang tanganmu dan berkata, seperti waktu kecil dulu, “Jangan takut, ada aku di sini.”
Kita selalu menemukan keberanian di atas ketakutan dan kegelisahan orang-orang yang kita sayangi, Adikku. Kita akan menemukan keberanian dari rasa percaya orang-orang yang kita sayangi bahwa kita akan selalu setia melindungi mereka. Maka bayangkanlah ketakutan bayimu, bayangkanlah kegelisahannya menghadapi detik-detik yang akan mengantarkannya dari buaian ke dekapanmu. Bayangkan ia yang akan menangis menghadapi ketakutan pertamanya. Harus ada yang berani menghadapi semua ini: Dan tugasmulah menjadi ibu yang kuat bagi bayi kecilmu yang kau sayangi. Katakan padanya, “Jangan takut, ada ibu di sini.”
Maka buatlah segelas susu dengan gula merah, barangkali bisa menenangkanmu. Jika kau tetap merasa takut, aku tetap di sini, selalu mendoakanmu: Hâna waladat Maryam, wa Maryama waladat Isa ‘alayhis-salâm. Ukhruj ayyuhâl-maulûd biqudratil Malikil-ma’bûd.
***
“Kakak nggak takut?”
“Takut. Tapi kita bisa berdoa.”
Cold is the water
It freezes your already cold mind
Already cold, cold mind
And death is at your doorstep
And it will steal your innocence
But it will not steal your substance
But you are not alone in this
And you are not alone in this
As brothers we will stand and we'll hold your hand
Hold your hand
And you are the mother
The mother of your baby child
The one to whom you gave life
And you have your choices
And these are what make man great
His ladder to the stars
But you are not alone in this
And you are not alone in this
As brothers we will stand and we'll hold your hand
Hold your hand
And I will tell the night
Whisper, "Lose your sight"
But I can't move the mountains for you
Fahd Djibran | 29/05/2012
*Lagu: Mumford & Sons - Timshel (2011)






















