Seribu Malam Untuk Muhammad

Buku ini merupakan penyepurnaan (repackage) dari versi sebelumnya "Menatap Punggung Muhammad". Memasuki cetakan keempat, buku ini diterbitkan ulang dengan kemasan baru oleh Kurniaesa Publishing.

Sayembara Ahmad Wahib 2012

Ikuti Sayembara Ahmad Wahib 2012 dan menangkan hadiah total 85.5 juta rupiah. Sebarkan gagasan dan pemikiran tentang toleransi melalui esai, blog, dan video.

Hidup Berawal Dari Mimpi

Hidup berawal dari mimpi! Semangat inilah yang dibagi melalui kolaborasi fiksi-musikal ini. Sukses bukan hanya soal pencapaian akhir tetapi juga prosesnya.

Curhat (Tuan) Setan

Buku ini berisi potongan-potongan puzzle-pikiran-dan-perasaan yang terdiri dari tiga bab utama: SETAN. CINTA. TUHAN. Pembaca akan diajak mengarungi medan galaunya masing-masing.

Revolvere Project: Fiksi Lintas Media

Revolvere Project merupakan sebuah project hibrida sastra-musik-visual menjadi sebuah bentuk kreatif yang baru.

Berjalan


Kadang-kadang kita merasa ‘tersesat’, barangkali tersebab kita terlanjur mengambil keputusan yang salah di belakang. Maka suara-suara itu ada:

Seharusnya saya tidak di sini.”

Seharusnya saya tidak begini.”

Andai saya di di sana dan dia di sini.

Semestinya saya tidak mengambil keputusan ini.

Dan seterusnya.

Kita selalu diberi kesempatan untuk menoleh ke belakang, memeriksa apa saja yang pernah kita lakukan dan putuskan: tetapi bukan untuk kembali. Waktu tak bisa diulang dan hidup tak bisa ditegakkan dengan kata ‘seharusnya’ atau ‘semestinya’, kan? Apa yang ‘seharusnya’ hanyalah bayang-bayang yang nisbi, sementara apa yang ada di hadapan kita dan sedang kita jalani adalah kenyataan yang pasti. Maka hiduplah dalam kenyataan: apa yang telah terjadi barangkali memang harus terjadi dan tak pernah ada manusia yang sanggup lolos dari hisapan lubang hitam kesalahan.

Teruslah berjalan: Sebab satu-satunya cara untuk berusaha menjadi manusia yang lebih baik adalah dengan tidak berhenti mencobanya.

Aku sudah melakukan kesalahan. Apa yang harus aku lakukan untuk menebusnya?” Demikianlah pengakuan seorang lelaki pada Sang Guru Sufi.

Apakah kau merasa bodoh?” Tanya Guru Sufi.

Tidak, Guru. Tapi aku menyesal.

Lakukanlah kesalahan itu lagi.

Si lelaki tersintak, bagaimana mungkin ia melakukan lagi kesalahan yang sudah sangat disesalinya? “Aku tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama, Guru. Hanya orang bodoh yang melakukannya.”

Apakah kau merasa bodoh?

Tidak, Guru. Tapi aku menyesali apa yang sudah aku lakukan.

Lakukan lagi kesalahan itu.” Kata Guru Sufi.

Kenapa aku harus melakukannya lagi?

Kau harus mengerti bahwa kau bodoh telah melakukan sesatu yang pada akhirnya akan kau sesali.

Si lelaki terdiam. “Tetapi aku sudah terlanjur melakukannya, Guru. Aku tak mau melakukannya lagi.

Belajarlah. Jika kau belum mengerti, kau akan melakukan kesalahan lagi. Tetapi itu wajar. Sebab tak ada satupun manusia yang bisa berjalan tanpa terlebih dahulu terjatuh, bukan? Tetapi, teruslah berjalan. Kapanpun kau merasa pintar, kau akan terjatuh—melakukan kesalahan. Maka teruslah merasa bodoh, sebab kau harus terus belajar.

Si lelaki terdiam.

Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang, Guru?

Apakah kau merasa bodoh?

Ya, Guru.” Lelaki itu tertunduk lesu.

Guru Sufi tersenyum, “Berbahagialah, sebab Tuhan akan mengampuni kesalahan orang bodoh.

Si lelaki tersenyum bahagia. “Apa yang harus aku lakukan untuk berterima kasih pada Tuhan, Guru?

Berjalan.”



A million miles away
Your signal in the distance
To whom it may concern
I think I lost my way
Getting good at starting over
Every time that I return

I'm learning to walk again
I believe I've waited long enough
Where do I begin?
I'm learning to talk again
Can't you see I've waited long enough?
Where do I begin?

Do you remember the days
We built these paper mountains
And sat and watched them burn?
I think I found my place
Can't you feel it growing stronger?
Little conquerors

I'm learning to walk again
I believe I've waited long enough
Where do I begin?
I'm learning to talk again
I believe I've waited long enough
Where do I begin?

Now
For the very first time
Don't you pay no mind?
Set me free again
You keep alive a moment at a time
But still inside a whisper to a liar
To sacrifice but knowing to survive
The first decline another state of mind
I'm on my knees, I'm praying for a sign
Forever, whenever
I never wanna die
I never wanna die
I never wanna die
I'm on my knees
I never wanna die
I'm dancing on my grave
I'm running through the fire
Forever, whatever
I never wanna die
I never wanna leave
I'll never say goodbye
Forever, whatever
Forever, whatever

I'm learning to walk again
I believe I've waited long enough
Where do I begin?
I'm learning to talk again
Can't you see I've waited long enough?
Where do I begin?

I'm learning to walk again
I believe I've waited long enough
I'm learning to talk again
Can't you see I've waited long enough?


Fahd Djibran | 20.03.2012

*Lagu: Foo Fighters - Walk

*Gambar diambil dari sini.

Korupsi


“Nanti kalau saya buka semua, bubar republik ini!” –M. Nazarudin, tersangka kasus korupsi Wisma Atlet, mantan bendahara umum Partai Demokrat.

Tuan, ambillah segala yang kami punya untuk membuatmu kaya raya: Tapi, demi Tuhan, kerakusan tak akan pernah memberimu kebahagiaan. Banggakanlah segala yang kaukira milikmu dan selamanya akan selalu bersamamu: Tapi, demi Tuhan, kesombongan tak akan pernah memberimu kemuliaan!

Maka, Tuan, bangunlah tembok-tembok untuk melindungi kekuasaanmu, datangkanlah penjaga-panjaga dengan kelihaian paling gila di dunia, dan berusahalah tidur dengan nyenyak! Sebab malam ini, kami akan mendatangimu membawakan mimpi paling buruk dalam hidupmu—

Segera, bangunlah apa saja untuk bertahan; meski kami akan selalu menjadi lebih tinggi untuk melampauinya, lebih kuat untuk menghancurkannya. Bayarlah semua bajingan; dan kami akan menaklukkannya. Perintahkanlah ribuan pasukan bersenjata; di jalan-jalan, mereka akan mendengar langkah kami berderap, bergemuruh untuk membuat lutut mereka jadi lumpuh. Larilah sejauh mungkin; kami akan selalu menemukan tempat persembunyianmu!

Maka berdoalah, Tuan, semoga Tuhan masih mau mendengarkan kemunafikanmu…

Sejenak, kini tariklah napas. Dan sekalah keringat. Di sini, kami masih menunggu, Tuan: Dalam lapar dan tubuh yang gemetar, melihatmu tertawa untuk sementara, membangun rumah atau memamerkan apa saja yang mewah.

Tapi jika saatnya tiba: Kami akan melompat dari dalam mimpimu, membawakan apa saja yang selama ini menjadi ketakutanmu! Ketakutan yang, Demi Tuhan, akan membuatmu menangis sepanjang hidupmu: Sehingga ketika saatnya tiba engkau tak bisa lagi tertawa, kamipun berbahagia untuk selama-lamanya!


Starry nights city lights coming down over me
Skyscrapers and stargazers in my head
Are we we are, are we we are the waiting unknown
This dirty town was burning down in my dreams
Lost and found city bound in my dreams

And screaming
Are we we are, are we we are the waiting
And screaming
Are we we are, are we we are the waiting

Forget me nots and second thoughts live in isolation
Heads or tails and fairytales in my mind
Are we we are, are we we are the waiting unknown
The rage and love, the story of my life
The Jesus of suburbia is a lie

And screaming
Are we we are, are we we are the waiting
And screaming
Are we we are, are we we are the waiting unknown
Are we we are, are we we are the waiting
And screaming
Are we we are, are we we are the waiting unknown
Are we we are, are we we are the waiting unknown


Fahd Djibran | 18/03/2012 - 23.53

Lagu: Are We The Waiting (St. Jimmy) - Green day

#UntukTuanPresiden


Kemarin saya menulis sebuah surat pendek untuk Tuan Presiden. Tadinya saya hanya menumpahkan kegelisahan saya tentang apa yang sedang terjadi di negeri ini (nyalakanlah televisi: maka kita akan tahu) juga keprihatinan saya mengenai lemahnya kepemimpinan bangsa di tengah karut-marut situasi nasional yang terjadi. Namun, rupanya saya tidak sendirian. Banyak orang di luar sana (barangkali Anda yang sedang membaca catatan ini juga termasuk di dalamnya) yang merasakan kegelisahan dan keprihatinan yang sama. Hasilnya, tanpa diduga, surat saya tadi tersebat demikian cepat di jejaring sosial.

Sampai catatan pendek ini saya buat, surat itu sudah lebih dari 500 kali linknya disebarkan melalui Twitter dan lebih dari 250 kali disebarkan melalui Facebook. Berdasarkan laporan statistik dari akun blog saya, halaman tersebut sudah dibaca sebanyak lebih dari 15,030 unique visitors dan dalam sehari segera menjadi posting yang paling banyak dibaca. Saya tercengang, tentu saja, apalagi ketika mendapati ratusan mention ke akun twitter saya dengan heshtag #UntukTuanPresiden: Semoga surat itu sampai ke Presiden?

Jujur, awalnya saya tidak merencanakan semua ini. Tetapi bila itu memang penting untuk dibaca Tuan Presiden, rasanya kita perlu tahu juga apa reaksi Presiden tentang curhat rakyat dalam surat. Bila sebagian orang menganggap surat itu akan sia-sia, paling tidak, sekali lagi kita harus mencoba agar Presiden kita mau mendengar suara rakyatnya—bukan sekadar mendapatkan ‘suara’ rakyatnya. Meskipun para pemimpin dan pejabat negeri ini selalu seolah-olah berusaha membuat kita putus asa, kita tak boleh jadi masyarakat yang putus asa, kan? Kita harus tetap mencoba!

Saya tidak menuliskan surat itu dengan nada menyalahkan atau menyudutkan siapapun, atau golongan manapun, termasuk presiden sendiri: bukankah kita hanya masyarakat yang membutuhkan ‘kehadiran’ Presiden kita? Thus, semoga beliau membaca surat itu dan segera hadir di tengah-tengah kita semua—untuk kita cintai, tentu saja, bukan untuk kita benci!

Terima kasih sudah membaca dan ikut menyebarkan surat saya. Jika kita memang perlu gelombang yang sangat besar untuk melakukan perubahan, semoga surat ini terus tersebar—hingga siapa tahu pada saatnya sampai ke tangan Presiden. Sisanya, biarlah Presiden yang memutuskan sikapnya sendiri.

Silakan menyebarkan surat tersebut di Facebook, Twitter, Blog, atau di manapun. Di Internet maupun di media lainnya. Saya mengizinkannya, dengan senang hati. Bila ada yang perlu file-nya dalam format MS Word untuk disebarkan, silakan mengirim e-mail ke fahdisme@yahoo.co.id.

Terima kasih.


Salam,
Fahd Djibran | 16/03/2012



*Gambar dari sini.

Untuk (Tuan) Presiden


Pak Presiden yang baik,

Tentang kenaikan harga minyak, kami mungkin tidak pandai berhitung: Bagaimana sebenarnya harga minyak ditentukan? Bagaimana neraca perekonomian nasional diperlakukan? Atau pertimbangan apa yang dipakai sehingga satu-satunya pilihan untuk ‘menyelamatkan seluruh bangsa’ harus sama dan sebangun dengan menaikkan harga-harga? Bagi kami, angka-angka selalu terdengar sebagai ilusi belaka, Pak. Setiap hari kami mendengar satuan ‘miliar’ atau ‘triliun’ disebutkan dalam berita-berita, tanpa pernah benar-benar melihatnya dalam bentuk yang sesungguhnya—apalagi menghitungnya satu per satu.

Hidup kami sederhana, disambung lembaran-lembaran uang recehan. Ilmu hitung kami kelas rendahan: berapa untuk makan sehari-hari, uang jajan anak sekolah, biaya transportasi, biaya listrik bulanan, dan kadang-kadang cicilan motor, dispenser atau DVD player. Tak perlu kalkulator. Bila sedang beruntung, kami bisa punya sisa uang untuk jalan-jalan di akhir pekan. Bila sedang sulit, kami tidak kemana-mana, Pak: Kami mencari kebahagiaan gratisan di televisi—meski kadang-kadang justru dibuat pusing dengan berita-berita tentang beberapa anak buah Bapak yang korupsi.

Tahukah Bapak, dalam televisi, juga koran-koran dan majalah: kami seperti tak punya presiden! Kami seperti tak punya pemimpin! Negara ini terlanjur dikuasai para bandit, Pak!

Ah, mungkinkah Bapak tak sempat menonton TV atau membaca koran sehingga Bapak tak mengetahuinya? Tapi, kemana saja sih Bapak selama ini? Mengapa hanya muncul untuk bernyanyi, mengucapkan belasungkawa, atau membacakan pidato-pidato bernada lemah yang berisi kabar buruk, permohonan maaf, dan keprihatinan?

Kami, rakyat biasa, sesekali butuh kabar gembira, Pak! Kadang-kadang kami berkhayal bahwa jangan-jangan kami sedang hidup dalam sinetron? Mungkinkah yang berpidato di televisi itu bukan Bapak—tapi kembaran Bapak yang menyamar atau tertukar? Mungkinkah kepala Bapak terbentur batu dan lantas hilang ingatan? Tetapi, tentu saja itu bukan kabar gembira.

Pak Presiden yang baik,

Kelak bila harga BBM naik, dengan gagah dan baik hati konon Bapak akan memberi kami kompensasi: Bapak akan membuat kami mengantre untuk mendapatkan uang bantuan agar kami tak merasa kesulitan. Tapi, pikiran kami sederhana saja, Pak, benarkah Bapak suka melihat kami mengantre—panjang-mengular dari Sabang sampai Merauke? Kami tidak suka itu, Pak. Kami tak suka terlihat miskin, apalagi menjadi miskin. Kalau memang Bapak punya uang untuk dibagikan kepada kami, pakailah uang itu, kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan ‘perekonomian nasional’ yang konon sedang gawat itu. Tak perlu naikkan BBM, pakailah uang kami itu: kami rela meminjamkannya untuk menyelamatkan bangsa!

Bila perlu, berdirilah di hadapan kami, katakan apa yang negara perlukan dari kami untuk menyelamatkan kegawatan bencana ekonomi negara ini? Bila Bapak perlu uang, kami akan menjual ayam, sapi, mesin jahit, jam tangan, atau apa saja agar terkumpul sejumlah uang untuk melakukan pembangunan dan penyelamatan perekonomian bangsa. Bila Bapak disandra mafia, pejabat-pejabat yang bangsat, atau pengusaha-pengusaha yang menghisap rakyat, tolong beritahu kami: siapa saja mereka? Kami akan bersatu untuk membantumu melenyapkan mereka. Tentu saja, semoga Anda bukan salah satu bagian dari mereka!

Pak Presiden yang baik,

Dengarkanlah kami, berdirilah untuk kami, berbicaralah atas nama kami, belalah kami: maka kami akan selalu ada, berdiri, bahkan berlari mengorbankan apa saja untuk membelamu. Berhentilah berdiri dan berbicara atas nama sejumlah pihak—membela kepentingan-kepentingan golongan. Berhentilah jadi bagian dari mereka yang akan kami benci sampai mati. Jangan jadi penakut, Pak Presiden, jangan jadi pengecut!

Buanglah kalkulatormu, singkirkan tumpukan kertas di hadapanmu, lupakan bisikan-bisikan penjilat di sekelilingmu! Lalu dengarkanlah suara kami, tataplah mata kami: tidak pernah ada satupun pemimpin di atas dunia yang sanggup bertahan dalam kekuasaannya jika ia terus-menerus menulikan dirinya dari suara-suara rakyatnya!

Pak Presiden,

Sekali lagi, tentang kenaikan harga minyak, barangkali kami memang tak pandai berhitung. Tapi, sungguh, kami tak perlu menghitung apapun untuk memutuskan mencintai atau membenci sesuatu; termasuk mencintai atau membencimu!



Dear Mr. President
Come take a walk with me
Let's pretend we're just two people and
You're not better than me
I'd like to ask you some questions if we can speak honestly

What do you feel when you see all the homeless on the street?
Who do you pray for at night before you go to sleep?
What do you feel when you look in the mirror?
Are you proud?

How do you sleep while the rest of us cry?
How do you dream when a mother has no chance to say goodbye?
How do you walk with your head held high?
Can you even look me in the eye?
And tell me why

Dear Mr. President
Were you a lonely boy?
Are you a lonely boy?
Are you a lonely boy?
How can you say
No child is left behind?
We're not dumb and we're not blind!
They're all sitting in your cells
While you pay the road to hell

What kind of father would take his own daughter's rights away?
And what kind of father might hate his own daughter if she were gay?
I can only imagine what the first lady has to say
You've come a long way from whiskey and cocaine

How do you sleep while the rest of us cry?
How do you dream when a mother has no chance to say goodbye?
How do you walk with your head held high?
Can you even look me in the eye?

Let me tell you bout hard work
Minimum wage with a baby on the way
Let me tell you bout hard work
Rebuilding your house after the bombs took them away
Let me tell you bout hard work
Building a bed out of a cardboard box
Let me tell you bout hard work
Hard work
Hard work
You don't know nothing bout hard work
Hard work
Hard work
Oh

How do you sleep at night?
How do you walk with your head held high?
Dear Mr. President
You'd never take a walk with me
Would you?


Salam,

Fahd Djibran | 15/03/2012

*Lagu: Pink feat Indigo Girls – Dear Mr President
*Foto diabil dari sini.

Adaptasi


Barangkali tidak berlebihan jika ibu saya begitu meyakini bahwa kualitas hidup seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia mandi pagi.

Rumah orang tua saya terletak di daerah yang cukup dingin. Jika sedang berada di sana, mandi pagi selalu menjadi masalah saya. Tetapi, setelah bertahun-tahun mengulat dalam kemalasan, pada akhirnya saya (diberi) tahu: mandi di tempat dingin bukan semata-mata tentang seberapa kuat kita menahannya, tetapi tentang kesadaran untuk mengerti sekaligus menerima bahwa dingin tak bisa ditolak begitu saja dan tubuh kita harus siap menghadapinya. Kata ibu, “Dingin? Kamu bisa bikin air jadi panas, kan?

Sesederhana nasihat ibu saya tentang mandi pagi, rupanya ada tiga kelompok manusia berdasarkan bagaimana mereka menghadapi dan menyelesaikan masalahnya.

Pertama, mereka yang kuat dan ingin selalu tampak kuat. Tak peduli seberapa dingin air dan cuaca, mereka akan memaksakan tubuhnya untuk ‘kuat’ dihajar dingin. Kelompok pertama ini memiliki semangat dan determinasi yang luar biasa dalam menghadapi masalah hidupnya. Mereka akan pasang badan untuk menghadapi semuanya—melawan semua rasa sakit dan bencana dalam hidup mereka. Tetapi, kadang-kadang kelompok ini lupa bahwa manusia adalah makhluk yang serba terbatas dan pada dasarnya lemah: pada titik tertentu, terus-menerus dihajar, mereka bisa sakit juga, kan?

Kedua, mereka yang lemah dan ingin selalu lari dari masalah. Bagi mereka, dingin adalah masalah yang tak perlu dihadapi. Kalau bisa, mandilah sesiang mungkin agar tak terlalu dingin. Bila perlu tak usah mandi. Tetapi, sudah terbukti sejak jutaan tahun yang lalu, lari dari masalah hanya akan mengantarkan manusia pada masalah lainnya, kan? Kata ibu saya, masalah harus dihadapi dan diselesaikan, “Mau mandi jam lima, jam enam, atau jam sebelas, airnya tetap dingin, kok. Mungkin cuma sedikit bedanya. Tiga jam menunda mandi, untuk perbedaan yang sedikit? Yang benar saja! Lebih baik mandi sesegera mungkin dan kerjakan urusan yang lain!

Ketiga, mereka yang selalu beradaptasi. Kelompok ini sadar betul bahwa manusia memiliki sisi kuat dan sisi lemah dalam dirinya. Mereka tahu apa yang sanggup mereka tahan dan apa yang tak sanggup mereka tahan. Sebab dalam rasa sakitlah manusia dapat menemukan kekuatannya, mereka tidak memilih untuk ‘pura-pura kuat’ atau ‘menjadi lemah dengan lari dari masalah’: Mereka memilih untuk beradaptasi dengan hidup yang mereka hidupi dan hidup yang ingin mereka hidupkan. Ya, mereka menghadapi masalah; Bukan untuk menolak atau melawannya, tetapi bernegosiasi dengan dirinya sendiri untuk mencari kemungkinan-kemungkinan terbaik agar mereka bisa menyelesaikannya—atau paling tidak menguranginya. Dalam perkara mandi pagi, mereka pandai memerhatikan situasi. Jika kuat, ya mandi. Jika tidak, seperti kata ibu saya: kita bisa bikin air jadi panas, kan?

Maka, berbahagialah orang yang bisa bernyanyi di kamar mandi. Dan bagi mereka yang mandi saja masih cemberut, segeralah sadar! Jika hidup masih terasa sulit. Paling tidak, mandilah dengan berbahagia.

Saya pamit mandi dulu. :)



It's empty in the valley of your heart
The sun, it rises slowly as you walk
Away from all the fears
And all the faults you've left behind

The harvest left no food for you to eat
You cannibal, you meat-eater, you see
But I have seen the same
I know the shame in your defeat

But I will hold on hope
And I won't let you choke
On the noose around your neck

And I'll find strength in pain
And I will change my ways
I'll know my name as it's called again

Because I have other things to fill my time
You take what is yours and I'll take mine
Now let me at the truth
Which will refresh my broken mind

So tie me to a post and block my ears
I can see widows and orphans through my tears
I know my call despite my faults
And despite my growing fears

But I will hold on hope
And I won't let you choke
On the noose around your neck

And I'll find strength in pain
And I will change my ways
I'll know my name as it's called again

So come out of your cave walking on your hands
And see the world hanging upside down
You can understand dependence
When you know the maker's land

So make your siren's call
And sing all you want
I will not hear what you have to say

Because I need freedom now
And I need to know how
To live my life as it's meant to be

And I will hold on hope
And I won't let you choke
On the noose around your neck

And I'll find strength in pain
And I will change my ways
I'll know my name as it's called again


Fahd Djibran | 14/03/2012

*Lagu: The Cave – Mumford & Sons
*Gambar diambil dari sini.

Inilah 6 Alasan Pemenang Novel #SMUM


Inilah keenam ‘alasan’ yang mendapatkan gratis novel Seribu Malam Untuk Muhamad. Saya memilih 'alasan-alasan' berikut ini karena kejujuran dan keberbedaannya dengan alasan-alasan lain yang masuk. Menurut saya, alasan-alasan lain yang masuk hanya menyatakan hal-hal yang umum dan klise misalnya ‘karena Muhammad adalah idola saya’ atau 'karena saya ingin mengenal lebih jauh sosok Muhammad' atau ‘karena saya ingin tahu dan penasaran’ atau ‘karena saya suka membaca’. Maka, tentu saja saya mencari alasan lain yang berbeda.

Dalam alasan-alasan yang akan kalian baca ini, menurut saya, terdapat kejujuran dan kesungguhan. Itulah sebabnya saya memilih mereka.

Kepada para pemenang, saya ucapkan selamat. Bagi yang belum beruntung, jangan khawatir. Kalian tetap bisa memiliki dan membaca buku itu, tentu saja dengan membelinya. :)

Saya sudah bicara ke Kurniaesa Publishing, kalau kalian mau melakukan pembelian online dalam bulan ini, ada hadiah CD gratis dari Lovarian senilai 60.000 (caranya: beri keterangan kalian peserta kuis ini dan kirimkan juga alasan yang kalian kirim ke saya, e-mail pesanan diberi judul: SMUM via Blog Fahdisme). Kalian hanya perlu membayar harga bukunya Rp. 35.000,- ditambah ongkos kirim. Pemesanan dilakukan hanya di sini.

Inilah keenam ‘alasan’ tersebut.


Nur Baidha – Sumbawa Barat
Untuk alasan tertentu, saya tidak menampilkan ‘alasan’ milik Mbak Nur Baidha ini. Tetapi, bagi saya, alasan beliaulah yang paling jujur dan menggerakkan saya untuk segera mengirimkan novel SMUM kepadanya.


Rashid Satari – Bandung
Jika teori "kebetulan" itu memang ada, maka dilahirkannya aku sebagai muslim, dari ayah ibu yang juga muslim, adalah hadiah istimewa. Maka, shalat pertamaku adalah hadiah. Maka, shalawat pertamaku pun hadiah.

Namun, aku percaya bahwa teori "kebetulan" itu tidak ada. Bukan kebetulan aku tak bertemu dengan engkau wahai manusia mulia, Muhammad. Jarak dan waktu pun bukan kebetulan, apalagi jadi alasan untuk tak lebih mencintaimu dibanding sahabat-sahabatmu, wahai Muhammad.

Telah engkau sebutkan, bahwa mereka adalah sahabatmu, bukan saudaramu. Telah engkau sebutkan bahwa saudaramu adalah mereka yang berjarak sedemikian jauh denganmu. Mungkin mereka adalah kami, dan mungkin aku adalah salah satunya.

Tapi, aku tak mau menjadi ‘mungkin’. Duhai kekasih Allah, aku ingin sungguh menjadi saudaramu. Ingin kususuri jejakmu. Ingin kutiru perangaimu. Kueja nasehat-nasehatmu. Hingga aku benar-benar pantas menjadi saudaramu. Aku tak mau jadi mungkin. Aku ingin sungguh!


Uzli Min – Sumedang
Sekarang saya sedang membaca sebuah novel biografi berjudul 'Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan' karya Tasaro GK. Saat membuka bagian belakang buku tersebut untuk melihat catatan arti kata, tanpa sengaja saya membuka halaman terakhir bagian catatan penulis (Jejaring Muhammad) dan membaca kalimat akhir halaman itu: “Ya, Rasul… lumpuh aku karena rindu…” Kalimat yang membuat saya iri.

Penasaran membuat saya melupakan kata yang sedang saya cari artinya dan segera membaca bagian ini. Di awal bagian ini, penulis menyebut-nyebut tentang seorang pemuda fantastik yang menjadi editornya. Penasaran lagi, tanpa menyelesaikan terlebih dahulu catatan penulis, saya langsung membuka dua lembar di awal buku untuk mencari tahu siapa sang editor yang dipuji-puji ini. Nama Fahd Djibran tercantum di sana dan saya ber-“owh” dalam hati. Lagi-lagi nama ini muncul dua bulan terakhir dalam buku yang saya baca.

Tidak terlalu kaget saya mendapati nama ini tercatum di sana dengan pujian dari penulis buku ini. Sebelumnya, ketika membaca profil pemuda ini di wikipedia, saya juga melihat rentetan prestasi miliknya. Nama Fahd Djibran ada di daftar calon penulis favorit saya selanjutnya. Saya akan memutuskan hal ini setelah setidaknya saya membaca satu lagi bukunya. 'Hidup Berawal dari Mimpi' membuat saya terkesan dengan pemikiran dan cara penulisannya. 'Rahim' pun menjadi calon buku selanjutnya.

Namun, ketika nama ini juga ikut berkontribusi dalam 'Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan' dan ternyata Fahd Djibran juga menulis tentang Manusia Terpuji yang mengagumkan ini, saya jadi lebih tertarik dengan 'Seribu Malam untuk Muhammad'. Buku yang disuntingnya saja sudah membuat saya kehilangan kata-kata akan keistimewaan Muhammad SAW, apa jadinya dengan buku yang ia tulis sendiri tentang Manusia Penyebab Rindu itu?

Lalu, apa yang sebenarnya ada pada diri Muhammad SAW, bahkan seorang non-muslim pun telah mampu mencintainya, sementara saya masih mencari tentangnya?


Amalia Nurul – Yogyakarta
Beri saya alasan mengapa saya harus memberikan buku tersebut buat kalian! :-)

Ini seperti ‘panggilan’ untuk memiliki buku itu. Awalnya hanya membuka blog milik saya, kemudian melihat link ke blognya Kak Fahd yang saya pasang. Ada posting baru rupanya: Mau Novel ‘Seribu Malam Untuk Muhammad’ Gratis? –8 jam yang lalu. Mau! Klik! Saya baca detailnya. Tanpa banyak pikir, langsung saya klik taskbar MS.Word. Jadilah saya menulis ini dengan penuh semangat.

Saya yakin ini ‘panggilan’. Tuhan merencanakan ini terjadi. Ya terjadilah! Selain karena panggilan, saya suka sesuatu yang gratis dan cuma-cuma. Hahaha. Saya juga yakin semua juga suka segala yang gratis. Jarang sekali saya mendapat sesuatu yang gratis sekaligus bermanfaat. Maklum, keberuntungan masih segan menjadi teman saya. Adakah alasan lain? Sepertinya tidak. Saya hanya ingin menjadi orang beruntung seperti halnya tokoh dalam SMUM yang dalam bunga tidurnya bertemu sang kekasih Tuhan, Muhammad. Dan sekali lagi ini ‘panggilan’ dari Tuhan untuk lebih mengenal dan mencintai kekasih-Nya. Bisa juga sekaligus obat agar saya merasa sedikit beruntung jika nantinya mendapat novel gratis ini. Semoga...ya semoga sajalah. Saya mendapat ‘panggilan’ dan saya ingin sedikit beruntung. Saya mendapat ‘panggilan’ dan saya ingin sedikit beruntung. Sudah 200 kata? Ah, kurang sembilan kata... ah, lima, empat, tiga, dua, satu!


Adi Gunawan – Semarang
Kepada Mas Fahd,

Saya salah satu dari sekian banyak penggemar karya-karya Anda. Namun saya tidaklah selalu mampu untuk mengikuti perkembangan dari karya-karya Mas Fahd. Buku pertama karya Mas Fahd yang saya baca adalah ‘Curhat Setan’, di mana saya seperti menemukan pencerahan untuk sesuatu yang selalu saya ragukan. Lalu yang kedua adalah ‘Rahim’, dan di situlah saya seperti tersentuh untuk ingin menjadi orang baik mengingat perjuangan kedua orang tua saya bukanlah hal mudah dan banyak pengorbanan. Selanjutnya adalah HBDM ketika kedua idola saya berkolaborasi menjadikan satu karya yang super akan makna, ya betapa bangganya saya bisa membaca buku-buku karya Anda.

Namun satu hal adalah ketika penasaran saya semakin tinggi untuk membaca buku ‘Menatap Punggung Muhammad’, tak pernah sekalipun saya bisa mendapatkanya, begitu pula teman saya yang sama-sama mengidolakan Anda dengan karya-karya Anda. Pertama ketika saya membaca notes di Facebook Mas Fahd tentang ‘Menatap Punggung Muhammad’ segera waktu itu juga saya memberi tau teman saya dan kami berdua segera mencari ke Gramedia dan ke toko-toko buku lainnya. Tapi hasilnya nihil.

Lalu begitu membaca notes tentang ‘Seribu Malam untuk Muhammad’, segera saya mengikuti kuis ini. Harapan saya untuk mengobati penasaran saya tentang buku Mas yang berjudul ‘Menatap Punggung Muhammad’ yang sangat sulit untuk dicari. Mudah-mudahan dengan membaca buku tersebut dapat meningkatkan kecintaan saya kepada Rasul dan Islam. Amiin.


Wednes Aria Yuda
Jika pertanyaannya mengapa Mas Fahd harus memberikan buku ‘Seribu Malam Untuk Muhammad’, maka akan saya jawab: Tidak ada alasannya, Mas. Sama sekali tidak.

Saya sudah membaca ‘Menatap Punggung Muhammad’ berulang kali. Buku yang menampar kecintaan saya terhadap Muhammad. Seorang Nabi yang saya persaksikan bahwa beliau adalah Hamba Allah yang pemimpinku kelak di Padang Mahsyar. Hamba Allah yang kecintaannya terhadap umatnya melampaui zaman kehidupan beliau. Hamba Allah yang kecintaannya terhadap umatnya melampaui sakitnya sakaratul maut. Seorang Hamba Allah yang kelak di padang Mahsyar saya dambakan kesaksiannya bahwa aku adalah umatnya. Tidak lain.

Beliau bersabda, bahwa kelak di akhir jaman, umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan dan hanya satu saja yang masuk surga, maka saya benar-benar takut jika kelak Beliau menggeleng dan berkata : “Engkau bukan umatku”. Sungguh, jika sekarang banyak golongan yang mengaku-ngaku Islam, dan menyalahkan golongan yang lain, tidakkah mereka sadar bahwa Syafaat Nabiyullah ini akan jauh melampaui perbedaan kalian? Tidakkah kalian lebih baik bersibuk diri meniru sunnah dan keindahan akhlaknya sehingga kelak Beliau dengan bangga melihat kalian sebagai umatnya?

Buku Menatap Punggung Muhammad adalah sebuah buku yang menghujam kecintaan terhadap Nabiyullah. Mengoyak kesadaran bahwa Muhammad sungguh-sungguh sehalus itu akhlaknya. Dan Beliaulah yang menyadarkan, bahwa di atas segalanya, akhlak yang baik dan kebenaran adalah iman yang sebaik-baiknya iman.

Dia adalah hamba yang Ummi, tapi dari Beliaulah kita belajar tentang kecintaan terhadap sesama. Jauh melampaui adat istiadat bangsa Arab. Jauh melampaui zamannya. Jauh melampaui kecintaan seorang kekasih yang sedang jatuh cinta.

Jika ada buku yang ingin saya miliki lagi, hanyalah buku yang makin menunjukkan jalan menuju cinta Nabiyullah ini, semata-mata karena mesin waktu adalah hal yang mustahil ditemukan. Karena jika benar adanya, maka orang pertama yang ingin saya temui di dunia adalah Beliau.

Ah... sungguh tidak sabar menantikan perjumpaan dengan beliau di Padang Mahsyar. Karena bertemu beliau dalam mimpi sepertinya masih jauh dari genggaman. Kecintaan yang terbatas pada kemampuan dan kesadaran diri. Semoga kelak kita bertemu dalam majelisnya ya Mas Fahd. Dan berjalan beriringan dengan Beliau sebagai pemimpin kita. Aammiinn


Sekali lagi, selamat untuk para pemenang. Bukunya sudah saya kirimkan hari ini via JNE. Semoga segera sampai. Terima kasih telah menjadi bagian dari Seribu Malam Untuk Muhammad.

Salam,
Fahd Djibran

[PENGUMUMAN] Pemenang Kuis #SMUM


Dear All,

Setelah membaca lebih dari 150 e-mail yang masuk, pada akhirnya saya harus membuat catatan pengumuman ini dengan keputusan yang sangat berat. Sejujurnya, jika bisa, saya ingin memberikan buku tersebut kepada semua pengirim e-mail. Tapi saat ini belum bisa. Saya hanya diberi 10 (sepuluh) eksamplar buku jatah dari penerbit; 6 saya bagikan melalui kuis ini, 1 saya simpan, dan 3 lainnya saya berikan kepada kolega yang turut membantu proses lahirnya buku ini. :)

Semua e-mail yang masuk, berisi alasan yang sangat penting. Beberapa kali saya dibuat terharu membacanya. Ternyata selama ini kekhawatiran saya tentang generasi muda yang lupa pada Maulana Muhammad kurang beralasan, masih banyak anak muda yang merindukan dan mengidolakan Sang Nabi. Saya harap alasan itu tidak pupus, atau hilang begitu saja karena alasan sepele tidak mendapatkan buku gratis. Dan semoga kita semua menjadi generasi yang mencintai dan meneladani akhlak dan kasih Muhammad pada semesta. :)

Sebuah lomba adalah sebuah lomba dan kita memerlukan pemenang. Sejujurnya, saya sempat bingung menentukan alasan siapa yang terbaik. Semuanya baik. Tapi pada akhirnya, saya memutuskan uantuk memeilih alasan-alasan yang menurut saya orisinal, jujur, dan menggerakkan.

Ini dia nama-nama pemenangnya:

  1. Wednes Aria Yuda Tanpa alamat | Mohon segera kirimkan alamatnya ke email saya ya.
  2. Nur Baidha – Alamat sudah ada
  3. Uzli Mn - Alamat sudah ada
  4. Rashid Satari - Alamat sudah ada
  5. Amalia Nurul Tanpa Alamat | Mohon segera kirimkan alamatnya ke email saya ya.
  6. Adi Gunawan – Alamat sudah ada

Bagi pemenang, buku akan saya kirimkan ke alamat masing-masing sesuai tanggal pengiriman yang dijanjikan. Insya Allah segera sampai.

Bagi yang belum beruntung, jangan khawatir. Kalian tetap bisa memiliki dan membaca buku itu, tentu saja dengan membelinya. :)

Saya sudah bicara ke Kurniaesa Publishing, kalau kalian mau melakukan pembelian secara online dalam bulan ini, ada hadiah CD gratis dari Lovarian senilai 60.000 (beri keterangan kalian peserta kuis ini dan kirimkan juga alasan yang kalian kirim ke saya). Kalian hanya perlu membayar harga bukunya Rp. 35.000 ditambah ongkos kirim. Jika malas beli online, tenang saja, buku ini akan tersedia minggu ini di Jabodetabek dan minggu-minggu berikutnya di kota lainnya secara bertahap. :)

Semoga suatu saat kita bisa bertemu langsung dan berdiskusi. Terima kasih atas semuanya.

Salam,

Fahd Djibran

Perempuan


Selamat hari perempuan. Kalianlah jenis paling hebat di dunia, (f)aktor utama yang memungkinkan peradaban manusia terus ada. Maafkan kami, laki-laki, yang selalu cemburu karena tak mungkin melampaui kehebatanmu—sepanjang sejarah berusaha melemahkanmu. Maafkan kami, laki-laki, yang selalu gagal membuat kalian bahagia. Dan Maafkan kami yang durhaka: Sebab tanpa kalian, tak mungkin kami ada.

Selamat hari perempuan. Tak ada yang lebih tolol di atas dunia kecuali mereka yang merendahkan dan melemahkan perempuannya; Tentu saja, termasuk perempuan yang merendahkan dan melemahkan dirinya sendiri. Tapi, lagi-lagi, maafkan kami, laki-laki, yang seolah-olah sanggup hidup sendiri. Maafkan kami, sebab walaupun kami bisa pura-pura hebat dengan mencintai sesama lelaki: kehidupan tak mungkin terus berjalan tanpa kehadiran dan cinta perempuan.

Selamat hari perempuan. Jadilah lebih kuat, sekuat para ibu yang selalu setia melahirkan dan merawat semua peradaban manusia! Sungguh, kami bisa berpura-pura menjadi ibu: tetapi tak mungkin sepertimu.

Maka berbahagialah. Sebab inilah harimu, perempuan!

...Terima kasih atas segalanya.




Fahd Djibran | 08.03.2012

*Video:
Revolvere Project - Apologia Untuk Sebuah Nama
*Gambar diambil dari sini.

Alienasi


Apakah alien itu ada? Pertanyaan itu sudah bercokol di kepala saya sejak lama. Lalu saya membaca banyak buku, artikel internet, film-film dokumenter dan science-fiction. Tapi, pertanyaan itu tetap sama: mungkinkah alien itu ada?

Di bawah matahari pagi pukul 09.17, saya menengadahkan kepala ke langit: awan-awan bergerak. Dan ternyata tak ada yang lebih patut dicurigai dari langit biru selain keterbatasan penglihatan kita untuk memandang keluasan semesta—apalagi memahaminya. Tapi, mungkinkah di sana, di sana, di sana, di sana, di tempat yang tak sanggup kita lihat dan ketahui, ada ‘seseorang’ lain yang sedang memandang sekaligus bertanya-tanya ihwal keberadaan kita?

Saya tak tahu. Tetapi saya jadi ingat teori Karl Marx tentang ‘alienasi’. Entfremdung, kata Marx, atau estrangement dalam bahasa Inggris; sesuatu yang terpisah dari sesuatu lainnya yang secara alamiah sesungguhnya harus bersama. Dalam konteks sosial, alienasi barangkali semacam keberjarakan seseorang dengan masyarakat di sekelilingnya, manusia yang ‘memisahkan diri’ atau ‘terpisah’ dari kehidupan manusia lainnya. Bahkan, dengan agak melankolis, Marx menggambarkan ‘alienasi’ sebagai keterpisahan individu dari sesuatu yang sebenarnya memiliki arti penting bagi kehidupannya—division or distancing of people from what is important or meaningful to them. Bisa apa saja, mungkin rumah, tanah air, rasa cinta, empati, atau lainnya.

Saya melihat sekeliling: manusia-manusia bergerak—seolah terpisah satu sama lain. Seorang ibu ragu-ragu menyebrang jalan. Sopir angkutan kota berteriak sambil membunyikan klakson mobilnya berkali-kali. Pria dalam mobil Avanza menyetel musiknya keras-keras. Gadis muda menunduk asyik memainkan telepon genggamnya. Pejalan kaki menyeka keringatnya. Pengamen tertidur di pelataran toko elektronik yang belum buka. Reklame-reklame jalan raya. JODOH DI TANGAN TUHAN. 1 Pesan Diterima. TAMBAL BAN TUBELESS. GO AHEAD. Ciputat – Lebak Bulus PP. TERIMA PASANG SENAR. Seseorang menandai Anda di Facebook. Ahli Sedot WC. Poins Square. RODA NIAGA. TERLAMBAT DATANG BULAN? KAMI SOLUSINYA!

Mungkinkah alien itu ada? Ya, kata Marx: mereka yang terpisah dari kediriannya—manusia yang lupa cara menjadi manusia!

Barangkali kita telah berubah jadi alien dalam hidup kita sendiri—terpisah dari kehidupan lain di sekeliling kita, dari hal-hal yang sebenarnya penting untuk kita jaga agar tetap menjadi manusia.

Kitalah budak dari sebuah sistem yang setiap hari terus-menerus memisahkan kita dari kemanusiaan kita. Jika bukan alien, barangkali kita telah menjadi robot. ‘Manusia automotan’, kata Erich Fromm. Manusia yang terlanjur terjebak dalam sebuah sistem yang bersifat rutin dan permanen—yang dengan sempurna telah mengubah kita menjadi manusia yang menumbalkan hidupnya ke dalam siklus bernama ‘lahir-sekolah-bekerja-mati’.

Jadi, apakah alien itu ada? Jika ia hanya bisa didefiniskan sebagai sesuatu yang ekstraterestrial, saya tak bisa menjawabnya. Tapi, kita memang tak diberi tugas untuk menembus angkasa dan menemukannya, kan?

Maka lepaskanlah earphone-mu, simpan telepon genggammu, sapalah teman di sampingmu. Bukalah pintumu dan keluarlah untuk menemui orang-orang yang selama ini terlalu lama tak kau sapa. Peluklah orang-orang yang kau sayangi. Ketuklah pintu tetangga dan berikan sesuatu untuknya. Tersenyumlah. Kembalilah jadi manusia!



Can anybody hear me?
Or am I talking to myself?
My mind is running empty
In the search for someone else
Who doesn't look right through me
It's all just static in my head
Can anybody tell me why I'm lonely like a satellite?

'Cause tonight I'm feeling like an astronaut
Sending SOS from this tiny box
And I lost all signal when I lifted up
Now I'm stuck out here and the world forgot
Can I please come down? (come down)
'Cause I'm tired of drifting around and round (and round)
Can I please come down?

I'm deafened by the silence
Is it something that I've done?
I know that there are millions
I can't be the only one who's so disconnected
It's so different in my head.
Can anybody tell me why I'm lonely like a satellite?

'Cause tonight I'm feeling like an astronaut
Sending SOS from this tiny box
And I lost all signal when I lifted up
Now I'm stuck out here and the world forgot
Can I please come down? (come down)
'Cause I'm tired of drifting around and round (and round)
Can I please come down?

Now I lie awake and scream in a zero gravity
And it's starting to weigh down on me
Let's abort this mission now
Can I please come down?

So tonight I'm calling all astronauts
All the lonely people that the world forgot
If you hear my voice come pick me up
Are you out there?
'Cause you're all I've got!

And tonight I'm feeling like an astronaut
Sending SOS from this tiny box
And I lost all signal when I lifted up
Now I'm stuck out here and the world forgot

'Cause tonight I'm feeling like an astronaut
Sending SOS from this tiny box
To the lonely people that the world forgot
Are you out there?
'Cause you're all I've got!

Can I please come down?
'Cause I'm tired of drifting round and round
Can I please come down?


Fahd Djibran | 07.03.2012

*Lagu: Simple Plan - Astronaut (2011)

Permainan


Hidup adalah permainan, demikian kita sering diingatkan. Tetapi kita selalu salah sangka: kita pikir, tentang ‘hidup adalah permainan’, artinya kita bisa tidak terlalu serius menjalaninya. Padahal, tak ada satu pun permainan yang bisa dimenangkan dengan main-main, kan? Bahkan permainan paling mudah sekalipun, selalu menuntut keseriusan kita jika ingin memenangkannya.

Saya ingat konsol video game pertama saya ketika kecil, Super Nintendo Entertainment System (SNES) keluaran tahun 1990. Dari semua game yang saya mainkan dalam kurun 1990-1995, seperti The Legend of Zelda, Contra: Irresistible Force, Super Mario World, Donkey King Country, sampai Mega Man X, semuanya harus diselesaikan secara serius. Paling tidak, saya butuh waktu berjam-jam, berhari-hari, sampai berminggu-minggu untuk menyelesaikan satu permainan. Tidak jarang saya lupa makan siang atau lupa mengerjakan PR, saking seriusnya menyelesaikan permainan-permainan itu: Tapi saya bahagia!

Tahun 1996 saya berpindah ke konsol SEGA. Meski hanya sebentar sebab serangan PSOne begitu cepat, saya sempat memainkan beberapa game favorit saya di SEGA seperti Dr. Robotnik’s Mean Bean Machine, Sonic The Hedgehog Spinball, sampai Golden Axe. Di PSOne, tentu saja game favorit saya J-League Jikkyou Winning Eleven dan game-game lain dari Namco dan Bandai seperti Teken atau Mortal Combat yang semuanya berbahasa Jepang. Meski saya tidak mengerti bahasa Jepang, toh permainan memang tak perlu dimengerti secara utuh: yang penting kita bisa menikmatinya dan berbahagia—itu lebih dari cukup.

Memasuki era PlayStation 2, saya tidak terlalu banyak bermain video game. Saya hijrah ke Garut untuk menjalani ‘hari-hari tanpa video game’ di pesantren. Hanya sesekali saat pulang ke rumah orang tua saya di Bandung, bersama adik saya yang masih SD, saya memainkan beberapa game PS2 seperti Pro Evolution Soccer, Need for Speed, Final Fantasy, dan lainnya. Saat itu saya sudah kehilangan banyak kemampuan saya dalam bermain game dan lebih sering dikalahkan adik saya. Sejak itu saya jadi mengerti bahwa bermain game ternyata bukan hanya memerlukan keseriusan, tetapi juga latihan. Imajinasi, visi bermain, dan strategi, ternyata tidak cukup, ia harus didukung oleh skill yang dilatih serius melalui serangkaian kegagalan. Di atas semua itu, untuk menaklukkan sebuah ‘permainan’, tetap saja: kita harus berbahagia menikmatinya!

Di masa kuliah, saya lebih banyak memainkan game-game PC. Meski sesekali tetap memainkan game-game PS2 seperti God of War I-II dan lainnya. Yang jelas, intensitas saya dalam bermain video game berkurang drastis. Karena pemahaman dan fokus saya berubah, pengertian saya tentang video game juga berubah. Saya memerhatikan detil yang lain dari ‘dunia game’. Saya mulai menyadari bahwa game ternyata merupakan dunia yang benar-benar serius, lebih serius dari yang selama ini saya bayangkan ketika memainkannya—

Untuk menghasilkan sebuah video game yang dimainkan banyak orang di seluruh dunia, perusahaan video game seperti Sony secara serius menginvestasikan dana mereka hingga miliaran dollar. Zynga, perusahaan pembuat game online seperti FarmVille, CityVille dan game-game berbasis media sosial lainnya, saat ini sudah dimainkan oleh lebih dari 250 juta netters di seluruh dunia. Dari ladang, sapi, ayam, susu, dan properti-properti virtual yang kita mainkan di Facebook, misalnya, Zynga mampu membukukan laba perusahaan rata-rata sebesar 435-510 juta dollar setiap tahunnya. Dari perputaran mata uang virtual di Facebook yang kita mainkan, Zynga sudah memiliki nilai jual perusahaan lebih dari 1 miliar dollar dalam mata uang yang sesungguhnya!

Tak berhenti di situ, video game juga dibuat dengan perhatian dan pekerjaan yang benar-benar serius. Jika kita melihat siapa saja yang terlibat dalam industri game—dari perancangan, pembuatan, distribusi, hingga penjualan—kita akan melihat orang-orang yang sangat serius bekerja di bidangnya. Dari mulai ekonom, ahli marketing, desainer perangkat lunak, animator, programmer, dan lainnya, yang semuanya harus dilatarbelakangi oleh keahlian dan pengalaman yang ‘sangat serius’. Jika mereka mendapatkan keahlian itu dari dunia pendidikan, tentu mereka sekolah dengan serius dan sungguh-sungguh, kan?

Kini, kita melihat bagaimana video game memerlukan riset dan pengembangan teknologi yang teramat serius. Perusahaan-perusahaan multinasional yang bergerak di industri game seperti Sony, Microsoft, Nintendo, dan lainnya rela merogoh kocek miliaran dollar untuk mengembangkan bisnis ini. Kehadiran PS3, Xbox, Nintendo Wii, dan lainnya yang menawarkan dunia artifisial yang bukan hanya memanjakan visual tetapi sekaligus kinestetik, juga merupakan bukti bahwa ‘permainan’ ternyata bukanlah sesuatu yang benar-benar ‘main-main’.

Thus, setelah memainkan God of War III, Bettlefield III, dan Assassin’s Cereed III yang bukan hanya memiliki teknologi visual yang canggih tetapi sekaligus didukung oleh riset sejarah dan ilmu pengetahuan yang serius, saya jadi benar-benar yakin bahwa permainan bukanlah hal yang bisa diselesaikan dengan main-main. Ia serius, bahkan sangat serius!

Hal-hal yang saya sebutkan tadi baru seputar permainan dalam bentuk ‘video game’, bagaimana dengan ‘permainan’ dalam bentuk lainnya? Olahraga, misalnya? Ah, ternyata Tuhan tak main-main ketika mengatakan, “...Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain permainan dan kesenangan” (QS 6:32).

Demikianlah, tampaknya kita mesti memiliki kacamata baru dalam memandang hidup yang adalah permainan itu: bukan berarti kita harus main-main menjalaninya, tetapi kita harus senang dan bahagia menjalaninya. Seperti bermain video game, tentang hidup di dunia, bermainlah dengan serius: dengan imajinasi, visi bermain, startegi, skill, dan ketekunan. Sisanya, berbahagialah!


Life is a game.
we're all born to play.

Twisted is the way,
sometimes it is not right,
sometimes it's not fair

The journey of life
gets harder in times

Twisted is the way
You know how it feels
To smile through the pain

But today is your day,
this is the moment, when you're touching the sky
On top of your wave,
no one can stop you from flying so high
This is it—it’s your time,
you got a magic, when your stars are aligned
Fill world with your shine,
life is a game that you're winning tonight

Wolves in the way
hunting their prey
Bitter is the rain
Sneaking in the shadows,
they always remain

Life is a maze
sometimes full of haze

Bitter is the rain,
You know how it feels
When your hopes go astray

Life is a game!


Fahd Djibran | 06.03.2012

*Lagu: Kristina – Life is A Game

Beckham


Barangkali kisah ini akan selalu menjadi favorit saya. Kapanpun, saat Kalky sudah mulai siap mendengarkan cerita ini, saya akan segera menceritakannya: Kisah perjuangan seorang laki-laki untuk menebus kesalahannya sendiri.

Ini tentang seorang laki-laki bernama David Robert Joseph Beckham. Ya, pesepakbola flamboyan itu. Bukan kisah tentang ketampanan atau kekayaannya, tetapi perjuangannya untuk membayar kesalahan yang telah dibuatnya—

Pada Piala Dunia 1998, Inggris harus berhadapan dengan Argentina pada fase knock-out untuk meraih satu tiket ke quarter-final. Di bawah komando pelatih Glenn Hoddle, Beckham menjadi salah satu pemain yang diharapkan bisa membawa Inggris ke babak berikutnya—memberi bukti pada dunia bahwa, sebagai Negara tempat lahirnya sepakbola, Inggris layak menjadi juara pada turnamen paling akbar sejagat itu.

Sayangnya, Beckham—yang saat itu baru berusia 23 tahun—bermain tidak pada performa terbaiknya. Setelah sering dibangkucadangkan pelatih Hoddle pada pertandingan-pertandingan awal karena dianggap tidak fokus pada turnamen, Beckham bermain dengan emosi yang tidak stabil ketika melawan Argentina.

Puncaknya, setelah dilanggar Diego Simeone hanya beberapa meter dekat garis tengah stadion megah Geoffroy-Guichard, St. Etienne, Prancis, ia membalasnya dengan menendang kaki Simeone secara sengaja. Sekejap, Simeone terjatuh. Pasca insiden itu, wasit mengsuirnya dari lapangan hijau setelah memberikannya kartu merah. Beckham keluar lapangan pertandingan dengan wajah yang kecewa.

Di akhir pertandingan, Inggris yang sebenarnya difavoritkan memenangi laga, dipaksa bermain imbang pasukan Argentina—bahkan hingga babak perpanjangan waktu usai. Setelah melewati drama adu penalti, Inggris pada akhirnya harus takluk 4-3 dari Argentina. Seluruh pendukung Britania Raya kecewa. Dan tersebab setiap kekecewaan membutuhkan seseorang yang harus disalahkan: Beckhamlah yang menjadi pesakitan.

***

Setelah pertandingan penuh drama itu—a match which had everything, demikian FIFA menyebutnya—Beckham menjadi musuh terbesar bagi masyarakat Inggris. Di mana-mana, semua orang menghujatnya. Tajuk utama koran The Daily Mirror bahkan menuliskan sesuatu yang tak akan pernah dilupakan Beckham sepanjang hidupnya: 10 Heroic Lions, One Stupid Boys—10 Singa Pejuang dan Seorang Remaja Tolol. Koran lainnya, The Daily Stars, bahkan menuliskan hinaan yang demikian jelas sekaligus sarkas, “What an Idiot!

Dan Beckham, yang mengerti bahwa ia mungkin telah melakukan kesalahan terbesar dalam sejarah sepakbola negaranya, meminta maaf. “Aku akan selalu menyesali perbuatanku,” katanya, “Aku hanya berharap semua orang bisa mengerti betapa menyesalnya aku.

Tetapi kebencian terhadap dirinya tidak dengan mudah mereda. Hinaan terhadap Beckham terus menyebar; sebuah patung berkaus Beckham digantung di depan sebuah pub di kota London. Selama berbulan-bulan, Beckham tak pernah berhenti dihujat di mana-mana. Ia bahkan menerima ancaman pembunuhan.

***



Tahun 2001, dalam kualifikasi Piala Dunia 2002, setelah ditinggalkan pelatih Kevin Keegan, tim Inggris yang diperkuat pemain-pemain muda berjalan terseok-seok bahkan terancam tak lolos ke putaran final.

Akhirnya, Pater Taylor, manajer sementara timnas Inggris, memanggil Beckham untuk kembali membela timnas. Tak sampai di situ, Sven-Göran Eriksson, pelatih Inggris yang baru, bahkan menjadikan Beckham sebagai kapten. “Bagaimanapun, Beckham adalah pemain hebat yang sarat pengalaman,” katanya.

Langkah itu tentu saja dikecam pecinta sepakbola Inggris Raya, tetapi Eriksson tetap pada pendiriannya.
Beckham tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, ia terus berusaha membuktikan kualitas dirinya untuk menebus kesalahannya tiga tahun lalu di Prancis. Ia ingin meminta maaf, dan barangkali inilah jalannya: Ia tak ingin Inggris menanggung malu dengan tak lolos menuju putaran final Piala Dunia 2002.

***

Pertandingan terakhir melawan Yunani, 6 Oktober 2001, di Stadion Old Traffod, Inggris, barangkali adalah pertandingan paling penting dalam seluruh karir sepakbola seorang David Beckham. Inilah kesempatan terakhir Beckham untuk kembali merebut hati masyarakat Inggris. Ia hanya butuh hasil seri melawan Yunani untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2002.

Sayangnya, dalam pertandingan itu, hampir seluruh pemain Inggris sedang berada dalam performa yang buruk. Inggris dipaksa tertinggal 1-0 hingga menjelang menit-menit akhir pertandingan. Yunani terus menekan dan Inggris dipaksa bertahan.

Pada menit ke-68, Teddy Sheringham yang baru 10 detik masuk menggantikan Robby Fowler akhirnya membuka harapan: sundulannya berbuah gol dan menjadikan skor imbang 1-1.

Namun, skor 1-1 tak mengubah irama permainan. Yunani yang tampil penuh percaya diri terus menekan dan Inggris dipaksa bermain setengah lapangan. Hasilnya, hanya berselang 1 menit dari gol Sheringham, penyerang Yunani Demis Nikolaidis melesakkan golnya ke gawang Inggris pada menit ke 69: Inggris kembali tertinggal 1-2.

Usai gol kedua Yunani, Inggris benar-benar telah kehilangan visi bermainnya. Seolah-olah, tak ada harapan lagi untuk menang. Dan performa pemain Inggris terus menurun—kelelahan dan kehilangan percaya diri. Sementara itu, di atas angin, Yunani terus mengusai jalannya pertandingan.

Di sanalah, kata penulis Inggris Bob Mills, Beckham menunjukkan dirinya sebagai kapten yang membawa seluruh tim di pundaknya. Saat rekan-rekannya sudah putus asa dan bermain sangat buruk, Beckham terus berjuang dan tak mau berhenti berlari, “Dialah satu-satunya pemain yang masih berjuang saat yang lain sudah putus asa. Dalam pertandingan itu, Beckham telah membuat saya sadar bahwa dialah kapten Inggris paling hebat yang pernah saya lihat” kata Eoin McSorley, jurnalis Maxim Magazine.

Puncaknya, menit ke-92, dalam injury time, Paul Scholes dilanggar tepat 85 meter di depan gawang Yunani. Inilah kesempatan terakhir bagi sang kapten, David Beckham, untuk mengambil tendangan bebas dan mencatatkan namanya di papan skor.

***

Beckham melihat sekeliling. Staidon Old Trafford hampir senyap. Seluruh harapan kini berada di pundaknya. Lima kali meleset dalam melakukan tendangan jarak jauh sebelumnya, kali ini Beckham memperhitungkan dengan hati-hati tendangannya. Ia tak ingin tendangannya meleset lagi.

Pada saat yang tepat, Beckham yang telah bersiap dalam ancang-ancangnya mulai berlari. Ia mengunci sasrannya dan menendang bola dengan segenap harapan di hatinya.

Hampir seluruh pendukung Inggris di stadion itu terdiam dalam cemas, agak takut untuk berharap. Mereka tak ingin percaya begitu saja pada laki-laki yang telah menghancurkan harapan bangsanya tiga tahun lalu. Detak jantung mereka seolah melambat; dan bola bergerak dalam frame rate yang seperti direduksi menjadi sebuah slow motion

…Bola melesat melewati jajaran pagar betis lawan.

Dan disanalah keajaiban itu terjadi: bola bergerak melengkung—mengecoh langkah kiper Yunani yang dipaksa terpaku menyaksikannya meluncur deras ke sisi kanan gawangnya.

Dalam sepersekian detik, waktu kembali bergulir dalam gerak yang normal: Dan, tentu saja, GOL!

Penonton bersorak mengangkat kedua tangannya. Old Trafford seketika bergemuruh. Beckham berlari ke sisi kiri lapangan pertandingan, merentangkan kedua tangan kebahagiaannya; sebuah gol yang bukan hanya mampu menebus kesalahannya tetapi seketika mengubahnya menjadi pahlawan.

I don’t believe it! David Beckham scores a goal to take England all the way to the World Cup finals!” Teriak komentator pertandingan.



***

Ini kisah klasik, tentu saja, para pecinta sepakbola barangkali sudah mengkhatamkannya sejak lama. Tetapi kapanpun gol itu dilihat, ada emosi yang selalu ikut di dalamnya. Bukan sekadar euforia, ini barangkali salah satu momen olahraga terbaik yang mungkin pernah ada. Beckham telah membuktikan bahwa seorang laki-laki harus berjuang dan bekerja keras untuk menebus kesalahannya sendiri, tak tertolak.

Di sanalah kita belajar, dalam perjuangan dan ekstase yang pernah dirasakan Beckham: ia telah berubah dari seorang remaja tolol menjadi pahlawan yang menyelamatkan bangsanya. Di atas semua itu, ia telah membuktikan bahwa peristiwa takdir bukanlah sesuatu yang hanya bisa ditunggu, tetapi harus diperjuangkan dan dibuktikan!
When you try your best, but you don't succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can't sleep
Stuck in reverse

When the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

High up above or down below
When you too in love to let it go
If you never try you will never know
Just what your worth

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Tears stream down your face
When you lose something you cannot replace
Tears stream down on your face
And I…

Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down on your face
And I…

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you…


Fahd Djibran | 04.03.2012

*Lagu: Coldplay - Fix You

Beda


Saya akan memulai catatan ini dengan sebuah keyakinan sederhana: Mereka yang tidak bisa menghargai perbedaan adalah mereka yang tidak bisa menghargai diri sendiri.

Izinkan saya memberikan ilustrasi sederhana.

Bayangkan kalau semua anggota tubuh kita memiliki nama yang sama. Misalnya, sebut saja Uplik. Maka, di Taman Kanak-kanak, barangkali akan banyak anak-anak yang kebingungan menyanyikan lagu Dua Uplik Saya (baca: Dua Mata Saya). Saya membayangkan Maria, tokoh saya yang masih TK itu, bernyanyi dengan hati gelisah dan bertanya-tanya—
Dua uplik saya
Uplik saya satu

Dua uplik saya
Pakai sepatu baru

Dua uplik saya
Yang kiri dan kanan

Satu uplik saya
Tidak berhenti makan

Jika hal itu terjadi, tentu saja lagu Kepala Pundak Lutut Kaki juga tak akan pernah bisa dinyanyikan dengan ceria. Bagaimana caranya? Uplik, uplik, uplik, uplik / Uplik, uplik, uplik, uplik? Ah, ia tak seperti sebuah nyanyian, lebih mirip mantra penjinak ular.

Tapi, untunglah nenek moyang kita memberikan nama yang berbeda-beda bagi anggota tubuh kita. Mereka sadar: tak ada yang lebih menyesatkan sekaligus membingungkan dari tindakan-tindakan penyamarataan dan penyeragaman. Dan untuk hidup berbahagia, misalnya agar bisa menyanyikan lagu Dua Mata Saya tanpa merasa gelisah, adalah dengan menghargai dan merayakan perbedaan—

Jika kita tak suka bentuk hidung kita yang tak sama dengan hidung-hidung selebriti televisi, kita tak lantas menyesatkan atau melenyapkannya, kan? Akankah kita mengajak anggota tubuh kita yang lain, misalnya lengan dan rambut, untuk membuat gerakan sekaligus kampanye ‘hidup tanpa hidung’? Ah, ya, itu sama sekali tak berguna. Sebab, justru karena perbedaan-perbedaan itulah semua jadi ada ‘nilai’-nya; Hidup jadi lengkap, jika mungkin belum sempurna, justru dengan keberadaan hidung kita yang seadanya itu. Dan, ah, bukankah tak ada satu pun manusia yang sanggup bertahan hidup tanpa fungsi hidung?

Demikianlah agungnya perbedaan, teman-temanku tersayang. Bagi saya, ia adalah salah satu mahakarya terbesar yang dimiliki Raja Semesta. Bukan semata-mata kehebatanNya menciptakan manusia, langit, pohon, binatang, gurun, laut, awan, angin, atau lainnya, tetapi keagunganNya menciptakan perbedaan-perbedaan di antara semuanya. Jika manusia diciptakan sama menurut cetakan yang sudah ada, pohon-pohon memiliki tinggi dan jumlah daun yang sama, luas dan diameter lautan berukuran sama, awan-awan memiliki bentuk dan penampang yang sama, apa bedanya Dia dengan tukang roti atau mesin fotokopi?

Jangan paksakan perbedaan-perbedaan yang ada menjadi persamaan-persamaan, teman-temanku tersayang. Bukankah jika perbedaan itu terdapat dalam diri kita sendiri, kita pun tak sanggup menghindarinya? Misalnya mengapa ekspresi wajah kita bisa berbeda-beda menghadapi situasi yang sama, mengapa persepsi kita tentang sesuatu bisa berubah-ubah dan berbeda-beda bahkan dalam waktu yang tak terlalu lama, atau mengapa ‘suara hati’ dan ‘suara pikiran’ seringkali memiliki pendapat yang berbeda? Itu dia, kita bahkan tak bisa mencegah perbedaan dan tarik-menarik antara kutub-kutub diri yang berbeda, kan? Justru perbedaan-perbedaan itulah yang membuat kita terus hidup, berkreativitas, belajar menyelesaikan persoalan kita dari hari ke hari.

Demikianlah, saya jadi begitu yakin: pertama-tama, memahami perbedaan adalah tentang memahami diri sendiri. Dan mereka yang tidak bisa menghargai perbedaan adalah mereka yang tidak bisa menghargai diri sendiri.

Maha Besar Tuhan yang menciptakan perbedaan-perbedaan, bahkan dalam diri kita masing-masing. Hari ini mungkin salah satu sisi dalam diri kita menginginkan liburan, tetapi sisi diri kita yang lain merasa harus memenuhi tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang pekerja. Maka dalam perbedaan itulah kita menciptakan ‘dialog diri’: menemukan solusi-solusi kreatif yang sebisa mungkin dapat membahagiakan dan tidak mengecewakan kedua-duanya.

Siang nanti, mungkin salah satu sisi dalam diri kita ingin makan enak, ditemani orang yang kita sayangi, tetapi sisi diri kita yang lain menahannya: tersebab kenyataan-kenyataan yang tak memungkinkannya. Setiap hari perbedaan-perbedaan itu selalu ada dan nyata—bahkan dalam diri kita sendiri. Satu-satunya hal yang tak boleh kita lupakan adalah ‘dialog’: kerendahatian untuk membentangkan ruang-ruang pengertian satu sama lain, agar hidup jadi lebih indah dan menyenangkan.

Sekarang, tidak usah bernyanyi Dua Mata Saya. Ada Little Talks dari Of Monsters and Men yang barangkali harus kita nyanyikan, juga kita sadari, setiap hari—
Hey! Hey! Hey!
There's an old voice in my head that's holding me back
I tell her that I miss our ‘little talks’
Soon it will all be over, buried with our past
You used to play outside when you were young,
Full of life and full of love

Some days I feel like I am wrong and I am right
Your mind is playing tricks on you my dear

'Cause though the truth may vary
This ship will carry
Our bodies safe to shore

Hey!
Don't listen to a word I say
Hey!
The screams all sound the same
Hey!



Fahd Djibran | 01/03/2012

*Gambar diambil dari sini.