Yang Galau Yang Meracau: Curhat (Tuan) Setan

print this page
send email
Baca di Goodreads.

Percayalah, kadang-kadang menjadi galau itu perlu! Seperti menemukan bak mandi yang kotor dan dipenuhi lumut, kemudian kita merasa tidak nyaman dan ingin membersihkannya—menjernihkannya. Bedanya, saat galau, yang keruh dan perlu dibersihkan adalah kolam hati dan kolam pikiran kita. Itulah yang membuat kita tidak nyaman, gelisah, khawatir, bahkan putus asa. Dalam situasi-situasi seperti itu, mungkin kita perlu saat-saat sendiri: Melihat ke dalam diri, berbicara dengan diri sendiri…

Buku ini dipersembahkan untuk teman-teman yang “galau” dan ingin berbicara pada diri sendiri—secara lebih bebas dan lebih jujur. Tak ada yang lebih kita butuhkan saat berbicara pada diri sendiri selain menjadi jujur dan apa adanya. Sebab, kegalauan lebih sering diakibatkan oleh sikap tidak jujur dan manipulatif, pada diri sendiri atau orang lain. Lepaskanlah topeng-topeng, lepaskan prasangka-prasangka buruk, lepaskan kesombongan, rasa benci, dendam, dan iri hati; Sebaliknya, sayangi segenap diri kita, penuhilah ruang kesadaran kita dengan cinta!

Buku ini merangkum sejumlah tema yang barangkali selama ini membuat kita galau: Hidup, cinta, iman, dosa, setan, dan Tuhan. Teman-tema itulah, yang dengan berbagai turunannya, diakui atau tidak, selalu menjadi sentral pemikiran dan perenungan keseharian kita. Pada tema-tema itu kita seringkali dihadapkan pada dilema, semacam situasi tarik-menarik antara dua kutub-diri yang saling bertentangan. Siatuasi itulah yang sering saya sebut sebagai pertem(p)u(r)an, pertemuan di satu sisi pertempuran di sisi lain.

Lagi-lagi, seperti pernah terjadi pada A Cat in My Eyes (2008) dan Curhat Setan (2009), saya tak tahu harus menyebut buku semacam ini sebagai apa. Sejujurnya, saat menuliskannya, saya sama sekali tak memikirkan genre-nya; Entah kumpulan cerita, novel, atau apa? Saya lebih memilih berfokus pada efek pikiran dan perasaan yang akan diterima pembacanya. Seolah-olah saya ingin menghamburkan sejumlah puzzle-pikiran-dan-perasaan untuk sama-sama kita susun menjadi sebuah gambaran yang utuh. Sebab, saya percaya hidup kita juga tidak seperti kisah sinetron, novel, atau film layar lebar yang bergerak dari A ke Z. Bagi saya, hidup bagaikan puzzle yang kita temukan berserakan dan harus kita susun sendiri untuk menemukan maknanya.

Zusammenhang des Lebens, cerita adalah pengorganisasian hidup, kata Wilhelm Dilthey (1833-1911), seorang filsuf Jerman. Hidup yang tersusun dalam cerita adalah bios, yang berbeda dengan sekadar hidup biologis saja, atau zoe. Filsuf lain dari abad ke-20, Hannah Arendt (1906-1975) pernah berkata, “Karakteristik utama kehidupan khas manusia ialah selalu penuh dengan peristiwa-peristiwa acak yang pada akhirnya bisa diungkapkan sebagai cerita.”

Ya, itulah sebabnya saya menuliskan buku ini sebagai “racau”. Anggap saja begitu. Racau tak butuh aturan. Tak butuh alur atau penokohan. Tak perlu dibaca secara berurutan. Tak butuh keutuhan. Sebab racau, dengan suaranya yang sumbang dan kadang-kadang lepas dari konteks, dengan sudut pandang yang juga seringkali kabur, hanya ingin berbicara secara jujur dan apa adanya.

Oh ya, saya juga menuliskan buku ini lengkap dengan sejumlah lirik lagu yang bersesuaian dengan tema yang sedang dibicarakan. Seperti kisah hidup kita yang entah bagaimana bisa menemukan soundtrack-nya sendiri. Ketika menuliskannya, saya tak bisa lepas dari Youtube. Untuk itu, dengarkanlah lagu-lagunya saat sedang, sebelum atau setelah membaca setiap “racauan” dalam buku ini. Kalau hapal beberapa lagunya, jangan ragu untuk menyanyikannya. :)

Sebagai sebuah kesatuan yang utuh, buku ini juga memiliki dua buah soundtrack. Kedua lagu tersebut diciptakan dan dinyanyikan BFDF, sebuah grup band beraliran punk dari Bandung, beranggotakan Bassit (bass), Futih (guitar/vocal), Dzikri (guitar), dan Fahri (drum). Saya sudah berkolaborasi dengan BFDF sejak buku Curhat Setan, waktu itu BFDF membuatkan sebuah lagu khusus berjudul sama dengan buku saya, Curhat Setan (silakan download di sini). Kini, untuk project buku ini, BFDF memberikan dua lagu mereka untuk kalian: God’s Existence dan Terkapar Sendiri (klik judul lagunya untuk men-download).

Kalau didengarkan, dua lagu BFDF untuk buku ini benar-benar mengentak dengan balutan musik punk yang kuat dan cepat. Namun, seperti biasa, BFDF selalu menyampaikan pesan-pesan moral-spiritual yang kuat dan dalam di setiap lagu mereka. Ya, tak tertolak, bagi saya BFDF selalu berhasil mengentak kesadaran kita yang sering kacau-galau! (Ini bukan salah ketik. Memang kacau-galau dan bukan kacau-balau. Ha!)

Inilah alasan saya untuk selalu tertarik berkolaborasi dengan BFDF: Mereka selalu berhasil menunjukkan ekspresi spiritualitas yang "sangat anak muda"! Cobalah dengarkan lagu-lagunya dan resapi lirik-liriknya (download liriknya di sini). Cerdas sekaligus filosofis. Saya selalu jatuh cinta pada setiap rangkaian lirik yang mereka ciptakan, juga larut dalam hentakan musik yang mereka bawakan. Singkatnya, sedikit atau banyak, BFDF dan saya memiliki visi dan semangat yang sama tentang anak muda dan spiritualitas. :)

Sudahlah, selamat menggalau, selamat meracau! Yakinlah, galau pasti berlalu!

“Fahd mampu menceritakan semuanya dalam bahasa ringan yang tak terkesan menggurui.” —Republika

“Buku ini menunjukkan pada kita bahwa kesanggupan dan kemauan bertanya bukanlah cermin ketololan, melainkan refleksi kecerdasan seseorang. Bertanyalah selagi kita masih jadi manusia!”
—Butet Kartaredjasa, budayawan dan aktor

“Sejak pertama kali bertemu dengan Fahd, saya sudah merasakan kreativitas. Kini, mendapat kesempatan membaca bukunya dengan judul yang unik ini membuat saya bangga karena kreativitas itu semakin terasa!”
–Yoris Sebastian, OMG Consulting

“Buku yang hebat sekaligus rendah hati adalah buku yang tak menjanjikan aneka jawaban, melainkan buku yang mengajak kita bertanya, dan inilah buku itu. Saya termasuk yang beruntung karena berkesempatan untuk menyaksikan seorang Fahd Djibran berkembang dalam penelusuran dan penuturannya. Buku ini begitu unik, cerdas, juga menyentuh.”
–Dewi Lestari, novelis dan musisi

“Ini buku bagus—saya sering menyebut buku semacam ini sebagai ‘buku bergizi’. Buku ini membahas soal-soal penting yang membuat diri kita dapat terus hidup, tumbuh, dan berkembang. Buku ini membuat saya ‘bergerak’, belingsatan, dan terus mencari sesuatu yang baru dan berbeda.”
—Hernowo, penulis Mengikat Makna Update

“Dalam ranah filsafat, pertanyaan terbaik lebih sulit dirumuskan daripada jawaban terbaik. Dari pertanyaan-pertanyaan itu tergambar formulasi pengalaman dan pemikiran yang menggumpal menjadi kata-kata. Buku ini adalah awal dari langkah-langkah besar Fahd di masa datang.”
–Indra J Piliang, pendiri The Indonesian Institute

“Buku ini memiliki cara pandang yang sangat kaya...”
–Gol A Gong, Penulis, Pemimpin Umum www.rumahdunia.com

“Peradaban, filsafat, dan tentu saja ilmu pengetahuan bermula dari rasa kagum sekaligus gentar terhadap fenomena alam yang sarat dengan rahasia. Fahd Djibran mampu menyajikan tema-tema besar dengan ringan dan kreatif.”
–Puthut EA, penulis dan peneliti masalah sosial


3 comments:

  1. kayaknya recomended banget ya buat yg galau jaman sekarang ^_^

    ReplyDelete
  2. wah keren ini buku, yang GALAU yang meracau, mantaf :D

    ReplyDelete
  3. mataFF..
    jd pengen nyari nih

    ReplyDelete