Hidup Berawal Dari Mimpi

Judul Buku : Hidup Berawal Dari Mimpi
Penulis : Fahd Djibran feat Bondan Prakoso & Fade2Black
Penerbit : Kurniaesa Publishing
Halaman : 231 halaman
ISBN : 978-602-993491-5
Tahun Terbit : 2011
Harga : Rp. 39.000,-


Tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi
Gantungkan yang tinggi, agar semua terjadi
Rasakan semua, peduli itu ironi tragedi
Senang bahagia, hingga kelak kau mati



“Gue berasal dari keluarga sederhana, Fahd. Working class.” kata Bondan, “Gue berproses sejak lama. Gue berjuang dari kecil untuk bisa punya tempat di industri ini. Sumpah, ini semua nggak gampang… tapi kerja keras emang selalu menunjukkan hasilnya. Bareng Fade2Black, nggak kerasa udah 5 tahun sejak 2005. Awalnya kita cuma dianggap band biasa yang kadang dipandang sebelah mata—malah disepelekan. Kita baru bener-bener ngerasain semuanya ‘meledak’ di tahun 2010, di album ketiga. Meskipun di dua album sebelumnya kita juga pernah dapet beberapa penghargaan, nggak bisa dipungkiri lagu Ya Sudahlah jadi momentum penting yang mengubah banyak hal.” cerita Bondan.

“Ya, impian dan kerja keras emang selalu keren! Kalian udah membuktikan semuanya.” kataku, “Bukan cuma musik yang bagus, lirik yang bagus, karya yang bagus, kesuksesan juga soal bagaimana seseorang menjalani dan menjalankan semuanya, kan?”

“Bener banget!” kata Tito, “Kalo boleh digambarkan, perjalanan kita bisa diwakili sama tiga lagu: Hidup Berawal dari Mimpi di album Respect, Waktu di album Unity, sama Ya Sudahlah di album For All. Kita memulai semua ini dari impian, kemudian kita memperjuangkan dan mempertaruhkan impian itu bersama waktu yang terus berjalan… terakhir, saat kerja keras sudah dilakukan, kita hanya ‘menunggu’, tawakal dengan rasa percaya dan cinta, Ya Sudahlah!”

“Ya, Hidup Berawal dari Mimpi!” kata Bondan sambil tersenyum. Eza mengangguk-angguk setuju.

Lalu Tito tersenyum. Arie tersenyum. Aku tersenyum. Semua tersenyum. Entah bagaimana caranya, senyum dan semangat selalu menular!

Baca review HBDM di Goodreads.

Tak sedikit orang yang jatuh cinta pada pendengaran pertama ketika mendengarkan lagu-lagu Bondan Prakoso & Fade2Black, saya salah satunya. Tak cukup sampai di situ, saya bukan hanya kecanduan musiknya, saya juga terpukau mendapati lirik-lirik yang kuat dan hebat dari mereka.

Sejak awal, saya tahu, Bondan Prakoso & Fade2Black bukan grup musik biasa yang sekadar “bermusik”, mereka lebih dari itu: musik dan lirik mereka berangkat dari konsep yang kuat, pemahaman yang hebat, serta pilihan ekspresi kreativitas yang tepat. Kemudian saya terpikir untuk mengajak mereka bekerjasama dalam sebuah project literasi. Karya mereka harus “diperluas” daya jangkaunya, bukan hanya bagi pendengar musik tetapi juga bagi pembaca sastra. Saya yakin musik dan lirik mereka harus dinikmati siapa saja dalam “jangkauan” yang lebih luas lagi; Musik dan lirik mereka hebat, tak diragukan lagi.

Ketika saya menawarkan project penulisan “fiksi-musikal” pada Bondan Prakoso & Fade2Black, tak disangka mereka begitu antusias menyepakatinya. “Musisi bukan sekadar penghibur,” demikian kami bersepakat, “Musik adalah karya intelektual yang mewah. Ia tak hanya perlu diperdengarkan di tengah-tengah ingar-bingar penggung, suaranya harus menerobos ke ruang baca, kampus-kampus, perpustakaan, pusat-pusat peradaban.” Kami berjabat tangan, “Penikmat musik sangat penting membaca sastra, sama seperti penikmat sastra penting mengapresiasi musik. Musik dan sastra adalah dua cinta yang tak bisa diceraikan.”

Demikianlah project ini pada akhirnya selesai, sebuah buku fiksi-musikal berjudul HIDUP BERAWAL DARI MIMPI. Buku ini merupakan fusi-sinergis antara cerita dan lagu. Bacalah kisah-kisah yang terangkum di dalamnya sambil mendengarkan lagu-lagu Bondan Prakoso & Fade2Black yang bersesuaian dengan setiap kisahnya, lalu rasakan sensasinya.

Apa itu fiksi-musikal? Dalam bahasa Inggris ia disebut musical fiction, sebuah genre dalam fiksi di mana musik menjadi bagian yang sangat penting, baik sabagai bahan utama maupun bagian cerita. Bentuk “fiksi-musikal” ini merupakan cara lain dalam menyajikan sebuah cerita sekaligus sebuah lagu/musik. Fiksi (cerita) dan lagu (musik) menjadi dua karya yang saling mengisi dan menguatkan satu sama lain dalam sebuah bentuk baru yang “meluaskan” ruang apresiasinya. Dalam fiksi-musikal cerita bisa menjadi dirinya sendiri, lagu juga menjadi dirinya sendiri, namun ketika keduanya dipertemukan dalam sebuah “persimpangan kreatif”, mereka bersalin rupa menjadi hibrida yang lain: Sebentuk cerita melodis dengan musik yang naratif.

Anthony DeCurtis, seorang jurnalis Rolling Stone, memberikan penjelasan seksi tentang musical fiction sebagai hubungan tarik-menarik antara musik dan kata-kata tertulis, the edgy relationship between music and the written words. Hal paling penting yang ingin dicapai dalam karya kolaboratif semacam ini adalah “pengalaman-musikal dalam membaca” serta “sensasi imajinatif” saat mendengarkan sebuah lagu”. (Sawyers, June Skinner (Ed.). 2005. The Best in Rock Fiction. Milwaukee: Hal Leonard, p. xii-xiv)

Baiklah, tak usah pusing-pusing mendefinisikan dan memahami apa itu fiksi-musikal. Inilah karya fiksi-musikal hasil kolaborasi kami: HIDUP BERAWAL DARI MIMPI. Temukan keunikannya, temukan sensasinya, buktikan bahwa ini bukan sekadar karya biasa. Bacalah.

Terakhir, buku ini dipersembahkan bagi siapa saja: kamu, dia, kita, mereka. Terutama bagi mereka yang percaya pada prinsip respect, unity, dan for all. Sudah saatnya kita semua menjadi generasi yang bersatu untuk merayakan dan memaknai hidup dengan sikap saling menghormati dan mencintai, much love and respect. Lebih khusus, buku ini dipersembahkan bagi para Rezpector, generasi muda yang percaya bahwa perbedaan bukan halangan untuk merayakan perdamaian dan cinta!

Selamat membaca. Ajaklah sebanyak mungkin teman, sahabat, saudara untuk membaca dan menikmati #HBDM. :)
Continue Reading...

Di Balik Layar #HBDM

Tak sedikit orang yang jatuh cinta pada pendengaran pertama ketika mendengarkan lagu-lagu Bondan Prakoso & Fade2Black, saya salah satunya. Tak cukup sampai di situ, saya bukan hanya kecanduan musiknya, saya juga terpukau mendapati lirik-lirik yang kuat dan hebat dari mereka.

Sejak awal, saya tahu, Bondan Prakoso & Fade2Black bukan grup musik biasa yang sekadar “bermusik”, mereka lebih dari itu: musik dan lirik mereka berangkat dari konsep yang kuat, pemahaman yang hebat, serta pilihan ekspresi kreativitas yang tepat. Kemudian saya terpikir untuk mengajak mereka bekerjasama dalam sebuah project literasi. Karya mereka harus “diperluas” daya jangkaunya, bukan hanya bagi pendengar musik tetapi juga bagi pembaca sastra. Saya yakin musik dan lirik mereka harus dinikmati siapa saja dalam “jangkauan” yang lebih luas lagi; Musik dan lirik mereka hebat, tak diragukan lagi.

Ketika saya menawarkan project penulisan “fiksi-musikal” pada Bondan Prakoso & Fade2Black, tak disangka mereka begitu antusias menyepakatinya. “Musisi bukan sekadar penghibur,” demikian kami bersepakat, “Musik adalah karya intelektual yang mewah. Ia tak hanya perlu diperdengarkan di tengah-tengah ingar-bingar penggung, suaranya harus menerobos ke ruang baca, kampus-kampus, perpustakaan, pusat-pusat peradaban.” Kami berjabat tangan, “Penikmat musik sangat penting membaca sastra, sama seperti penikmat sastra penting mengapresiasi musik. Musik dan sastra adalah dua cinta yang tak bisa diceraikan.

Demikianlah project ini pada akhirnya selesai, sebuah buku fiksi-musikal berjudul HIDUP BERAWAL DARI MIMPI. Buku ini merupakan fusi-sinergis antara cerita dan lagu. Bacalah kisah-kisah yang terangkum di dalamnya sambil mendengarkan lagu-lagu Bondan Prakoso & Fade2Black yang bersesuaian dengan setiap kisahnya, lalu rasakan sensasinya.

Apa itu fiksi-musikal? Dalam bahasa Inggris ia disebut musical fiction, sebuah genre dalam fiksi di mana musik menjadi bagian yang sangat penting, baik sabagai bahan utama maupun bagian cerita. Bentuk “fiksi-musikal” ini merupakan cara lain dalam menyajikan sebuah cerita sekaligus sebuah lagu/musik. Fiksi (cerita) dan lagu (musik) menjadi dua karya yang saling mengisi dan menguatkan satu sama lain dalam sebuah bentuk baru yang “meluaskan” ruang apresiasinya. Dalam fiksi-musikal cerita bisa menjadi dirinya sendiri, lagu juga menjadi dirinya sendiri, namun ketika keduanya dipertemukan dalam sebuah “persimpangan kreatif”, mereka bersalin rupa menjadi hibrida yang lain: Sebentuk cerita melodis dengan musik yang naratif.

Anthony DeCurtis, seorang jurnalis Rolling Stone, memberikan penjelasan seksi tentang musical fiction sebagai hubungan tarik-menarik antara musik dan kata-kata tertulis, the edgy relationship between music and the written words. Hal paling penting yang ingin dicapai dalam karya kolaboratif semacam ini adalah “pengalaman-musikal dalam membaca” serta “sensasi imajinatif” saat mendengarkan sebuah lagu”. (Sawyers, June Skinner (Ed.). 2005. The Best in Rock Fiction. Milwaukee: Hal Leonard, p. xii-xiv)

Baiklah, tak usah pusing-pusing mendefinisikan dan memahami apa itu fiksi-musikal. Inilah karya fiksi-musikal hasil kolaborasi kami: HIDUP BERAWAL DARI MIMPI. Temukan keunikannya, temukan sensasinya, buktikan bahwa ini bukan sekadar karya biasa. Bacalah.

Terakhir, buku ini dipersembahkan bagi siapa saja: kamu, dia, kita, mereka. Terutama bagi mereka yang percaya pada prinsip respect, unity, dan for all. Sudah saatnya kita semua menjadi generasi yang bersatu untuk merayakan dan memaknai hidup dengan sikap saling menghormati dan mencintai, much love and respect. Lebih khusus, buku ini dipersembahkan bagi para Rezpector, generasi muda yang percaya bahwa perbedaan bukan halangan untuk merayakan perdamaian dan cinta!

Selamat membaca. Ajaklah sebanyak mungkin teman, sahabat, saudara untuk membaca dan menikmati #HBDM. :)


Salam,

Fahd DjibranBondan Prakoso & Fade2Black
Continue Reading...

“Fiksi-Musikal”: Sebuah Proses


Sebelumnya, saya tidak tahu apakah istilah yang menjadi judul tulisan ini sudah ada atau belum—lebih-lebih: sudah tepat atau belum sebagai sebuah istilah? Saya tidak tahu pasti. Suatu hari, tiba-tiba saya terpikir dan ingin menggunakan istilah tersebut untuk menyebut bentuk tulisan yang sedang saya kerjakan. Fiksi-musikal? Aha! Istilah yang menurut saya seksi dan tepat untuk menunjukkan apa yang sedang saya kerjakan. Seolah-olah sayalah satu-satunya manusia yang hidup di atas muka bumi, tiba-tiba saya merasa menjadi seorang penemu!

Tapi, apakah ia sungguh benar-benar baru? Saya ragu. Tepatnya, saya tidak tahu. Saya termasuk orang yang mempercayai bahwa sudah tak ada lagi yang benar-benar baru (original) di dunia ini. Demikianlah, sebagaimana manifesto para empu postmodernisme: sub sole nihil novum, tak ada yang baru di bawah matahari, kan?

Ternyata benar saja. Ketika saya cari-cari, “fiksi-musikal” atau dalam bahasa Inggris “musical fiction” bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Apakah saya kecewa? Tentu saja tidak. Justru saya senang. Ternyata ada genre tersebut dalam dunia penulisan kreatif. Begini definisinya: Musical fiction is a genre of fiction in which music is paramount: both as subject matter, and through the rhythm and flow of the prose; that is, music is manifested through the language itself.

Sebentar. Sebentar. Ternyata, kalau melihat definisinya, apa yang saya bayangkan tentang “fiksi-musikal”, agak berbeda dengan definisi tersebut. Dalam benak saya, bentuk “fiksi-musikal” ini merupakan cara lain dalam menyajikan sebuah cerita sekaligus sebuah lagu/musik. Fiksi (cerita) dan lagu (musik) menjadi dua karya yang saling mengisi dan menguatkan satu sama lain dalam sebuah bentuk baru yang “meluaskan” ruang apresiasinya. Dalam “fiksi-musikal” cerita bisa menjadi dirinya sendiri, lagu juga menjadi dirinya sendiri, namun ketika keduanya dipertemukan dalam sebuah “persimpangan kreatif”, mereka bersalin rupa menjadi hibrida yang lain: Sebentuk cerita melodis dengan musik yang naratif. Nah, itu yang saya maksud. Ha!

Untunglah saya menemukan Anthony DeCurtis, seorang jurnalis Rolling Stone, yang memberikan penjelasan seksi tentang musical fiction sebagai “the edgy relationship between music and the written words”. Asyik, kan? Itu dia yang saya maksud. Lebih lanjut, DeCurtis memberikan penjelasan lebih asyik lagi: “Words are long-standing symbols of permanence. Music ultimately is ephemeral, evaporating into your unreliable memory once you’ve heard it. In taking music as their inspiration, writers seek to capture some of that immediacy, that spirit of the moment, and hold it still for their reader’s pleasure.” (Sawyers, June Skinner (Ed.) (2005). The Best in Rock Fiction. Milwaukee: Hal Leonard, p. xii-xiv)

***

Tanpa saya rencanakan secara sadar, ternyata saya sudah menulis dengan logika kreatif “fiksi-musikal” sejak lama, mungkin sejak project Karena Bertanya tak Membuatmu Berdosa: I Care, I Share di tahun 2009. Waktu itu saya membuat sejumlah esai dengan menggunakan lirik-lirik lagu Iwan Fals sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan tulisan yang saya buat. Ada yang masih ingat? Hehehe. Selanjutnya, di buku Yang Galau Yang Meracau (2011) pun saya melakukan hal yang sama, meski tidak pada keseluruhan tulisan. Pada beberapa cerita dan prosa, saya sertakan lirik-lirik lagu yang berhubungan dengan konteks yang sedang saya ceritakan. Atau memang sengaja saya menampilkan lirik lagu Karena tokoh dalam kisah yang sedang saya ceritakan memang menyanyikannya. Because promotion is not a crime, silakan baca buku tersebut supaya lebih jelas. Hehehe.

Ya, begitulah, saya merasa asyik menulis dengan format demikian. Seolah-olah saya menceburkan konteks cerita saya pada lirik dan musik yang bersesuaian dengannya. Atau sebaliknya, saya seolah sediakan "panggung" cerita bagi lirik dan musik yang menari-nari dalam kepala saya. Bagi saya, itu asyik. Saya menemukan dan merasa tulisan saya lebih hidup… Saya juga merasa pesan-pesan yang ingin saya sampaikan kepada pembaca dapat disampaikan secara asyik dengan medium musik/lirik yang saya sertakan dalam cerita-cerita saya. Terserah deh, bagaimana enaknya menangkapnya. Saya juga bingung bagaimana menjelaskannya. Pokoknya begitu deh. :)

Nah, sejujurnya sekarang saya lagi deg-degan. Sebentar lagi, seperti saya pernah sampaikan jauh-jauh hari, saya akan meluncurkan karya "fiksi-musikal" pertama saya. Karya ini, merupakan kolaborasi saya dengan grup musik hebat Bondan Prakoso & Fade2Black. Mudah-mudahan, ini akan menjadi karya yang asyik dan keren. Mudah-mudahan kelak kalian akan suka dan menemukan sensasi dan pengalaman baru dalam membaca cerita. Saya tidak akan menceritakan banyak hal tentang karya ini, takutnya malah jadi spoiler. Pokoknya, buat saya, mengerjakan karya yang satu ini benar-bener berbeda, special, istimewa... well, mudah-mudahan ini menjadi salah satu magnum opus (karya besar) saya, ya. Tunggu saja, waktunya akan segera tiba! Insya Allah akan kami rilis bulan puasa, biar berkah. :)

***

Sebab kreativitas membuat pecandunya menjadi terus-menerus mabuk, saya tidak puas sekadar membuat karya "fiksi-musikal" yang terperangkap dalam lembar-lembar kertas buku. Saya merasa bentuk “fiksi-musikal” ini akan jauh lebih menarik kalau diwujudkan ke dalam bentuk yang lebih luas. Itulah yang mendorong saya membuat sebuah karya eksperimental dalam bentuk fiksi-musik-video yang saya upload ke Youtube beberapa bulan yang lalu. Saya bingung menjelaskannya, silakan langsung saja di lihat di sini, ya!

Dalam karya tersebut, saya berkolaborasi dengan sebuah band dari label Goodfaith, namanya Lovarian. Saya menggunakan lagu mereka yang berjudul “Perpisahan Termanis” untuk saya racik-ulang menjadi sebuah bentuk baru. Hasilnya, tanpa diduga, karya tersebut mendapatkan sambutan yang cukup baik. Sampai sekarang saja sudah ditonton oleh lebih dari 4.500 orang! Namun, sejujurnya, karya tersebut punya dua kelemahan mendasar. Pertama, musik latar awal bagi pengiring ceritanya masih “tempelan”, artinya karya tersebut tidak murni saya kerjakan bersama Lovarian. Musiknya saya ambil “tanpa izin” dari musik instrumen film Endless Love (tapi, tenang, di bagian akhir saya tuliskan kok sumbernya dari mana. Hehe). Kedua, visual yang menjadi latar belakang teks ceritanya juga masih merupakan stock picture bebas yang saya peroleh dari internet.

Belajar dari kelemahan itu, akhirnya saya memutuskan untuk membuat karya yang lebih “baik” dan tidak hanya bekerjasama dengan musisi. Ternyata saya juga harus bekerja sama dengan seniman visual. Kemudian, saya juga harus mengajak si musisi untuk membuat musik latar bikinan sendiri yang memang diperuntukkan untuk kebutuhan karya tersebut.

Akhirnya, inilah yang membuat saya terisnpirasi mebuat sebuah project baru bernama REVOLVERE PROJECT. Project ini terdiri dari penulis, musisi, dan seniman visual yang berkolaborasi menciptakan sebuah karya bersama. Beruntung saya bertemu dengan Fiersa Besari, musisi kreatif asal Bandung, serta Futih Aljihadi, adik saya sendiri, yang seorang seniman visual sekaligus fotografer. Bertiga, kami sudah mulai bekerja sejak dua bulan lalu mengerjakan sebuah karya fiksi-musik-visual yang mudah-mudahan bakal asyik dan menarik. :)

Nah, kenapa namanya REVOLVERE PROJECT? Begini, revolusi (revolutia, perubahan) berasal dari dua kata: revoltaire dan revolvere. Revoltaire berarti menyingkirkan hal-hal yang lama/buruk. Sedangkan revolvere berarti ‘memutar kembali’ menuju arah yang lebih baik; perubahan menuju kesadaran yang lebih baik. Ketika seseorang melakukan revoltaire, belum tentu ia melakukan revolvere. Sementara sebuah revolvere pasti terlebih dahulu dimulai dengan serangkaian tindakan revoltaire. Singkatnya, hasrat perubahan (revolusi) tanpa revolvere hanyalah dendam pada masa lalu yang meledak tidak produktif. Revolvere Project merupakan sebuah project hibridasi fiksi-musik-visual menjadi sebuah bentuk kreatif yang “lain”. Project ini mengajak pembaca-pendengar-penikmatnya berinteraksi dan mengakrabi sebuah karya melalui rasa, telinga, dan mata sekaligus. Revolvere Project hadir bagai pistol kesadaran yang siap menembak-jatuh mereka yang banal, hipokrit, arogan, naif, dan angkuh! :D

Keren, kan? Tapi itu bahasa promosi. Nanti kita lihat saja bagaimana karya yang dihasilkannya? Saat ini, kita perlu bukti. Bukan janji-janji. Kami akan buktikan. Mudah-mudahan bagus. Hehehe.

Jadi apa yang saya bicarakan sejak tadi? Ya, silakan kalian simpulkan sendiri deh! Yang jelas, jika mau tahu fiksi-musikal versi saya, ada satu hal yang harus kalian lakukan dan dua hal yang harus kalian tunggu: bacalah buku Yang Galau Yang Meracau: Curhat (Tuan) Setan, sambil menunggu dua hal: (1) buku fiksi-musikal pertama saya hasil kolaborasi bareng Bondan Prakoso & Fade2Black dan (2) upload video pertama Revolvere Project! :)

Sekian dan mari terus berkarya dan berkreativitas. :)

Salam,

Fahd Djibran


*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Korban Tuan Setan Berikutnya: Indra J. Santoso [Galauku Menggagau]

Review oleh Indra J. Santoso

Setan!
Tuhan.
Cinta.

Tiga kata itulah yang mensegmentasikan isi dari buku Yang Galau Yang Meracau (YGYM) karya Fahd Djibran. Oke, oke, aku agak berlebihan. Untuk kata “Setan!” sebenarnya tidak menggunakan “tanda seru”, “Setan”.

Dari semua karya Fahd, aku takluk pada pemikirannya tentang Tuhan dan Muhammad, selalu. Ia dengan mudahnya mendeskripsikan bahkan menarasikan tentang Tuhan dan Muhammad. Karena bagiku, lidahku selalu kelu untuk berkata-kata tentang itu bahkan tanganku enggan menggoreskan tinta untuk mencari arti kata itu-Tuhan dan Muhammad.

Fahd, mengapa engkau selalu mendekati setan untuk mengenal Tuhan?

Aku yakin engkau punya jawaban untuk itu. Setan yang selalu masuk kategori jahat, busuk, bau, menyeramkan, tidak pernah mandi (apa benar?) dan semua imaji kita yang kita gambarkan sendiri. Bagiku setan itu adalah diriku sendiri, sisi iblisku yang selalu tersenyum manis di balik tubuh ini.

Maka bilamana pertanyaan itu dilontarkan untukku, tidak jauh, berarti aku mendekati Tuhan melalui sisi gelapku sendiri. Ya, itu sih aku.

Setelah Mei dan Juni kemarin aku bermelankoli, Juli ini Fahd dan Dee kembali membuatku berpikir dan berimaji melalui YGYM dan Madre.

Fahd, terkadang aku ingin seperti Setan yang kau ceritakan pada judul “Al-Qur’an yang di bakar!”. Sewaktu-waktu aku sempat berpikir untuk membakar Qur’an-ku sendiri. Aku ingin tahu, seberapa jauh aku memiliki iman. Bukan karena takut akan dosa atau neraka yang dijanjikan Tuhan. Seperti kata Cak Nun…

“Andai tidak ada Al-Qur’an kalian tidak mencuri. Itu karena taqwa, karena nurani” – Cak Nun

Ya, aku ingin tahu seberapa jauh nurani dan taqwa-ku bicara bila tanganku yang telah penuh dengan dosa ini membakar kitab sucinya sendiri. Aku ingin tahu. Bila aku tidak merasakan apa-apa, berarti selama ini cuap-cuapku yang membela Tuhan dan agama adalah isapan jempol belaka, munafik.

Galauku ini menggagau. Galauku ini benar-benar berada di lorong gelap tanpa setitik cahaya harapan. Ingin rasanya menghancurkan dinding disamping kiri dan kananku untuk mencari cahaya, namun apa daya, tenagaku tak mampu untuk melakukannya. Aku hanya mampu meraba di dalam kegelapan.

Racauan tak lagi keluar dari bibirku, tubuhku ini ikut meracau, kacau.

Mungkin jalan satu-satunya yaitu dengan membakar Qur’an yang ada dalam genggamanku dengan pematik api yang kubawa, bukankah dengan begitu Qur’an ini memiliki fungsi, benar-benar memberi cahaya padaku dalam kegelapan?

Haha, aku tahu, terkadang kata-kataku terlalu ekstrem atau implisit. Kamu pasti tahu itu.

“Manusia diciptakan untuk bersalah, itulah sebabnya Tuhan menjadi Maha Pengampun” – Fahd Djibran

Semoga mantramu pada cerita “Sisi Gelap” itu benar dan mampu meyakinkanku untuk benar-benar mencoba mencari tahu dan menguji seberapa jauh taqwa dan nuraniku, hehe aku bercanda.

Oke, kembali ke track.

YGYM memiliki kata-kata yang halus, apa adanya dan mudah untuk dicerna. Membaca YGYM aku seolah menemukan diriku sendiri. Aku seolah bercermin. Setan, Tuhan dan Cinta.

Aku melihat setan dalam cerminku. Aku melihat pantulan iblis dalam selimut daging ini.

Tuhan, sebagaimana aku melihat pantulan diriku dalam cermin itu, aku ciptaan-Nya.

Cinta, ah, lagi-lagi tentang cinta. Aku takluk pada kata tak bertulang itu.

Ah ya, selalu saja keluar dari konteks review sebagaimana mestinya bila aku mereview tulisanmu, Fahd. Tulisanmu membuatku curhat, bukan curhat (Tuan) Setan tentunya, he.

Yang pasti, kolaborasi antara Setan, Tuhan dan Cinta dengan soundtrack lagu yang mewakilinya benar-benar manjur sebagai obat kontemplasi. Sederhana saja, aku melihat adanya trias, ada pola hubungan segitiga antara setan, cinta dan tuhan.

YGYM benar-benar mewakili sifat manusia.

Ya, manusia.

Manusia yang selalu takluk, bersujud dan menyembah.. Pada…

Setan
Cinta
dan Tuhan



*4 dari 5. Sama sepertimu yang akan memberikan satu bintang lagi pada Madre untuk di filmkan (aku sangat setuju untuk itu). Aku menahan satu bintang untukmu, untuk Curhat (Tuan) Setan selanjutnya. Ha! :)
Continue Reading...

Saat (Tuan) Setan Galau dan Meracau [Review Setya N Faizin]

Review #YGYM oleh Setya Nurul Faizin

Minggu, 3 Juli 2011 pukul 18.07 di panggung utama Pesta Buku Jakarta, Istora Senayan, usai bincang bersama Fahd Djibran (dan Tuan Setan), akhirnya aku mendapatkan buku “Yang Galau Yang Meracau” lengkap dengan tanda tangan penulisnya. Terakhir kali kami bertatap muka secara langsung mungkin sekitar dua tahun yang lalu, saat aku mengenyam pendidikan tinggi di Kota Pelajar, dan berkesempatan bergabung dalam forum “Ruang Tengah” yang diprakarsai kang Fahd. Pada saat itu, aku mengenal kang Fahd melalui bukunya “Insomnia | Amnesia” dan lebih dekat melalui tulisan-tulisan di blog ruangtengah hingga meluncurnya “A Cat in My Eyes” sebagai penyempurnaan karya terdahulunya “Kucing”. Tuan Setan sendiri mulai ‘eksis’ dalam ranah karyanya melalui buku “Curhat Setan”.

Ide pengangkatan fenomena ‘galau’ yang sedang populer bahkan bisa dibilang menjamur di kalangan pemuda saat ini memang sangat menjual, sebagaimana ide-ide judul dan cover buku-buku kang Fahd yang selalu mengundang perhatian dan penasaran. Mengingat ratusan bahkan ribuan kata ‘galau’ yang muncul dalam keseharian tweet para pengguna twitter, maka kang Fahd yang notabene-nya masih pemuda, menghadirkan sebuah karya yang dikemas dengan gaya populer, namun tetap ber-ciri-khas tulisan-tulisannya yang kritis, mendalam, dan tidak terkesan menggurui. Kembali kali ini kang Fahd menyuguhkan berbagai ide dan pengalaman melalui curhatan atau dalam buku ini disebut racauan Tuan Setan. Jika selama ini kita bosan melihat hashtag orang-orang bertajuk ‘galau’ dan yang di’racau’kan melulu pada permasalahan itu saja, maka kang Fahd menghadirkan sosok Tuan Setan yang sedang ‘galau’ dan akhirnya ‘meracau’ tentang kehidupan, manusia, bahkan cinta dan Tuhan.

Buku ini terbagi ke dalam tiga sub-tema, yakni Setan, Cinta, dan Tuhan (setan-cinta-Tuhan). Pada karya pertama berjudul “Mabuk”, kang Fahd menuliskan sepenggal kalimat yang berbunyi “Each day is a gift and not a given right..”. Mungkin sebagian besar dari kita pernah mendengar atau membaca kata-kata mutiara tersebut. Namun adakah diantara kita yang pernah menduga bahwa kata-kata tersebut justru merupakan peringatan dan nasihat Tuan Setan kepada seorang manusia bernama Rayya saat ia sedang melakukan dosa? Tuan Setan mengajak Rayya kembali mengingat sejarah, bahwa pada saat Tuhan menyuruh Setan menyembah manusia, Setan menolak dan terjadi negosiasi di sana. Setan meminta kehidupan yang kekal dan dia berjanji akan menggoda manusia dari berbagai arah, selamanya. Pada titik ini, Tuan Setan dengan bangga mengatakan bahwa hidupnya adalah hak maka kewajibannyalah untuk menggoda umat manusia. Sementara manusia tidak bernegosiasi dengan Tuhan tentang kehidupan, manusia diberi kehidupan, dan jika Tuhan berbaik hati, maka manusia berhutang untuk membalasnya dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Maka manusia bisa memilih, untuk berbuat kebaikan, atau mengikuti Setan berbuat keburukan dan mendustai Tuhan.

Selanjutnya, dalam “Only God Knows Why”, Tuan Setan makin menggalau dan racauannya kali ini makin menampar siapapun yang merasa dirinya manusia. Kita semua tahu bahwa manusia diciptakan sempurna karena memiliki akal. Tapi apakah kita semua paham letak kesempurnaan akal? Tuan Setan hidup abadi dan senantiasa menggoda manusia melakukan kejahatan dan menggiring manusia ke arah keburukan. Di sisi lain, malaikat adalah makhluk Tuhan yang senantiasa berbuat baik, lurus, sesuai perintah dan tak mungkin membangkang Tuhan. Manusia, dengan segala kesempurnaannya, diberikan kedua sifat tersebut. Dua jalan membentang di depannya, jika yang satu ke arah setan, yang satunya ke arah malaikat. Dan keputusan selalu ada di tangan manusia itu sendiri. Maka, tidak berlebihan jika akhirnya Tuan Setan galau karena kaumnya selalu dituding sebagai sumber malapetaka dan bencana yang diakibatkan keburukan manusia. Padahal, Tuan Setan merasa kaumnya hanya menggoda dan mengajak manusia ke jalannya, sementara bentuk perbuatannya adalah modifikasi dan kreativitas tiap-tiap manusia yang menjalankannya. Ya, manusia memang bisa jauh lebih ‘setan’ dari setan itu sendiri, sebagaimana manusia bisa jauh lebih ‘malaikat’ dari para malaikat.

Tulisan demi tulisan, racauan demi racauan, rasanya tak hentinya menyentil dan menampar kesadaran kita sebagai manusia, terlebih sosok yang mengungkapkannya adalah setan, sosok yang selama ini hampir tidak pernah kita pandang secara humani. Pada karya “Just Enjoy the Show”, Tuan Setan hadir dengan wajah yang sedikit lebih ceria dan bercerita sambil bernyanyi sekaligus memainkan piano. Tuan Setan berkisah tentang takdirnya yang dihukum oleh-Nya lantaran menolak menyembah manusia. Padahal baginya, tak ada zat yang pantas disembah selain-Nya. Di satu sisi dia tidak terima, di sisi lain dia tahu dia bukanlah apa-apa di hadapan keagungan-Nya, hingga akhirnya dia merasa terperangkap di tengah-tengah sebuah sistem agung yang tak dia mengerti. Cintanya pada Tuhan yang membuatnya tak mau menyembah manusia, justru menjadikannya tertuduh sebagai pengkhianat dan pembangkang perintah Tuhan. Amarah, murka, dan kesombongan pun meledak hingga dia menganggap dirinya lebih baik dari Tuhan. Pada titik ini, Tuan Setan memberikan nasihat indah kepada Rayya, untuk menerima semesta kemahatiba-tibaan-Nya sebagai bagian dari hidup, jika bahagia bersyukurlah dengan waspada karena ketiba-tibaan lain menunggu di hadapan. Pun sebaliknya. “Bila kau tak kuat menjalaninya, bisikanlah ke dalam hatimu bahwa Ia tak akan memberimu peran yang kau sendiri tak sanggup menjalaninya. Laa yukallifullahu nafsan illa wusy’aha, begitu kata-Nya kira-kira.” (Just Enjoy The Show, halaman 73). Selanjutnya, Tuan Setan berpesan pada Rayya bahwa sejarahnya adalah pengorbanannya, “Terkutuklah kau jika tak menghargai pengorbananku! Cintailah kecintaanku, sebab aku hanya bisa mencintai-Nya dari jauh. Bila sempat, dalam doamu, bisikanlah kepada-Nya bahwa betapa aku masih mencintai-Nya.

Demikianlah kang Fahd, melalui Tuan Setan mengobrak-abrik, mengaduk-aduk, dan menampar bolak-balik hati, pikiran, dan perasaanku selaku pembaca yang dalam hal ini adalah manusia. Dengan curhatan, racauan, dan nasihat-nasihat Tuan Setan tentang hidup dan cinta pada-Nya, aku pun turut menggalau, dalam bentuk lain, yang lebih kontemplatif. Masih banyak racauan Tuan Setan yang tidak bisa tidak akan mengajak kita berpikir dan kembali melihat ke dalam diri kita, sejauh apa kita mengenal diri kita, eksistensi kita dalam hidup, dan lebih jauh, peran serta kecintaan kita di hadapan-Nya.

. . .

Pada bagian selanjutnya, kang Fahd mengawali bagian “cinta” dengan cerita “Perpisahan Termanis”. Sebagaimana, tulisan-tulisan lain dalam buku ini yang dilengkapi dengan satu judul lagu sebagai soundtrack cerita, kali ini lagu dengan judul yang sama “Perpisahan Termanis” oleh Lovarian akan mampu membawa kita hanyut dalam rimba kata penuh makna kisah cinta antara Raka dan Hera. Fenomena perpisahan, putus, atau cinta bertepuk sebelah tangan memang merupakan salah satu tema ’galau’ paling hits sekaligus paling ampuh melumpuhkan remaja. Dengan tidak menampik kemungkinan adanya hal tersebut, kang Fahd justru menampilkan ‘perpisahan’ dalam bentuk yang indah, yang manis. “Dari ribuan sejarah manusia yang sedih, barangkali aku salah satunya, tapi haruskah aku menghabiskan hidup hanya untuk menjadi karang-pantai yang bersedih?” … “Tidak, kataku dalam hati”… “Barangkali aku gagal menjadi kekasihmu, tetapi cinta tetap ada: untuk apa dan untuk siapa, biarlah ia menentukan nasibnya sendiri...” (Perpisahan Termanis, halaman 99).

Ciri khas kang Fahd yang selalu mengagumkan adalah pemaknaan[kembali] hal-hal yang selama ini kita anggap sepele dan kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dua karya dalam bagian ‘cinta’, adalah “Cantik itu Luka” dan “Perahu Kertas”. Karya yang pertama, adalah surat Rayya kepada Alivya, menanggapi pertanyaan Alivya “Rayya, seandainya kamu terlahir jadi perempuan, apa yang akan kamu lakukan terhadap hidupmu?” Tak disangka, pertanyaan sederhana yang terkesan dilontarkan secara iseng tersebut, mampu memunculkan penghargaan seorang Rayya pada sosok perempuan, yang dia tuangkan melalui lagu Eminem berjudul “Beautiful”. And to the rest of the world | God gave you shoes to fit you | So put ‘em on and wear ‘em | Be yourself man, be proud of who you are | Even if it sounds corny | Don’t ever let anyone tell you you ain’t beautiful. Dalam “Perahu Kertas”, langkah-demi-langkah proses pembuatan perahu kertas dari selembar kertas dimaknai sebagai fase-fase kehidupan dimulai dari takdir penciptaannya, perjalanan hidupnya, hingga pada akhirnya “Setiap detiknya, hidup adalah perjalanan menemukan bentuk. Seberapa jauh manusia harus berjalan untuk bisa disebut sebagai manusia? Berapa peristiwa yang harus dialami untuk bisa mengerti semuanya? Hanya kamu yang tahu, setiap orang punya kuasa atas hidupnya sendiri-sendiri, atas perahu kertasnya sendiri…” (Perahu Kertas, halaman 121).

Karya-karya lain tentang cinta yang tak kalah indah dan menggugah dengan apik disajikan dalam lembar-demi-lembar buku “Yang Galau Yang Meracau”. Topik-topik tentang pernikahan, kehidupan rumah tangga dikisahkan melalui lagu, sajak, bahkan gambar pemandangan. Kang Fahd menutup bagian cinta dengan karya “Ziarah Ingatan”, mengajak kita mengenang, mengingat-ingat, dan berziarah, tidak hanya pada orang-orang yang telah tiada, namun orang-orang yang telah lama tak kita singgahi.

. . .

Apa jadinya jika di suatu subuh, kita mendapati satu pemberitahuan: Tuhan mencolek Anda di Facebook, dan ada pilihan “colek kembali” atau “abaikan”. Lalu bagaimana seorang ibu harus bersikap jika anaknya menanyakan tentang rumah Tuhan, masjid, yang dibom belakangan ini. Sang Anak mengakhiri dengan simpulan polos, bukan kita yang harus takut pada teroris, namun Tuhan yang rumah-nya terancam dibom. Membaca tulisan-tulisan kang Fahd tentang spiritualitas, tentang Tuhan, sekilas seperti membaca tulisan ngawur tentang Tuhan. Perumpamaan-perumpamaan, pertanyaan-pertanyaan, bahkan plesetan-plesetan yang dibuat terkesan meledek dan mempertanyakan eksistensi Tuhan. Eits, setan saja bisa bijak dan berpikir dalam, sebaiknya kita telaah lebih jauh tulisan-tulisan kang Fahd ini sebelum kita menyimpulkan tulisan ini menyesatkan, bid'ah, atau terlarang.

Mungkin sekali dalam hidup, kita pernah mempertanyakan tentang Tuhan. Sebagaimana Maria kecil yang menanyakan rumah Tuhan pada ibunya, atau sosok aku yang menanyakan siapa Tuhan kepada ustadznya di karya "Sesa(a)t". Sadar atau tidak, sebagai makhluk merdeka yang dianugerahi akal pikiran, pertanyaan tentang Tuhan tidak akan dapat dihindari. Dalam tulisan-tulisannya, kang Fahd tidak melarang apalagi mengharamkan pertanyaan akan Tuhan. Malahan, melalui potongan-potongan karyanya yang tersebar dalam dua belas tulisan tentang Tuhan, kang Fahd mengajak kita mengalami dan menjalani, karena pada dasarnya, pengalamanlah yang lebih berharga dan akan menuntun pada pencarian kita.

Dalam "Mengakal(i) Tuhan", Rayya kembali menulis surat kepada Alivya berbagi tentang pengalaman ber'Tuhan'nya. Baginya, ketika kita memikirkan "ada atau tiada"nya Tuhan atau "masuk akal atau tidak"nya Tuhan, pada dasarnya kita memikirkan Tuhan sebagai keutuhan: Ia yang melampaui "ada dan tiada", melampaui sifat "masuk akal atau tidak masuk akal". Tuhan setidaknya "ada" dalam pikiran saat dipikirkan, Ia "masuk akal" sebagai bagian dari pikiran (akal) saat dipikirkan. (Mengakal[i] Tuhan, Hal. 181). "Itulah 'pengalaman' ber-Tuhanku, Alivya. Bagiku, pada saatnya pengalaman itu akan melengkapi pemahaman atau pengetahuan kita tentang 'Tuhan'. Sampai di sini, menurutku, jika kita menolah Tuhan dalam akal kita (artinya tidak 'mengingat' dan 'menyebutnya'), Tuhan berarti bukan 'tidak ada' tetapi 'tidak bersama kita'!" (Mengakal[i] Tuhan, hal. 185).

. . .

Sumber gambar dari sini.
Continue Reading...

Racauanku [Review oleh DK Alamsyah]

Review oleh Devy Kurnia Alamsyah


Hueekkkk…

Semua yang kutelan tadi menyembur semua. Aneka warna. Tak perlu pula kudeskripsikan apa saja yang sudah kumakan tadi siang. Cukup aku saja yang menatap nanar sembari mengatur napas dan mengeluarkan yang tersisa. Jika masih ada.

Mataku berair. Ada satu kelesat tak menyenangkan di setiap lendir, lalu aku lontarkan kembali ke mulut jamban. Tak perlu pula aku jabarkan lagi apa yang keluar tadi siang.

Aku heran. Tubuh ini, akhir-akhir ini, tak lagi bisa diprediksi iramanya. Apa yang dikecap lidah terasa pahit. Apa yang masuk ke perut keluar kembali tak lama kemudian. Ada apa ini? Dua minggu makan tak teratur, kadang tanpa tidur, membuat potensi penyakit singgah sungguh tak terukur.

Ini pula yang terjadi. Tadi. Saat aku sedang membaca “Yang Galau, Yang Meracau!” bagian pertama halaman duapuluhtiga yang kebetulan pula menorehkan kalimat “ada mual yang mendesak perutku” saat itu pula aku berlari sembari memegang mulutku yang terasa penuh. Tampaknya, kalimat itu jadi penyebab lambungku berkontraksi. Mungkin juga tidak. Tapi tak perlu pulalah berulang-ulang kuceritakan apa yang kukeluarkan tadi siang.

Ya, tadi siang aku membeli beberapa buku di Kota Karbon book fair yang entah kapan bisa ada di Kota Tercinta. Itu buku Fahd Djibran yang kini masih kubaca. Ada Sebelas Patriot Andrea Hirata. Lalu tiga buku sejarah tentang “pemberontakan” M. Natsir, tentang pertumbuhan koran di Sumatera Westkust dan satu buku dari Frances Gouda yang mengatakan Indonesia merdeka karena Amerika. Itu buku yang akan menyusul untuk dibaca.

Beberapa saat sebelumnya, ketika aku tengah menunggu bus ke arah Senayan, seorang bocah berbaju kumal menepuk pundakku. Ia sepertinya berumur sekitar sepuluh atau duabelas tahun. Kurang lebih. Ia menatapku dengan sorot mata menghiba. Ia lalu menaikkan tangan kanannya sembari membalikkan telapak tangan sehingga aku bisa melihat tak ada apapun di tangannya.

“Kak, boleh minta empatribu ga? Aku lapar. Belum makan dari tadi.”

Aku mengurungkan niatku untuk naik bis. Aku teringat nazarku beberapa waktu lalu. “Tunggu sebentar ya,” aku melihat sekitar. Tak ada warung makan.

Bocah itu menelisikku dengan seksama. Tangannya sudah tak terangkat. “Aku lapar, Kak.”

Bocah itu mengulang lagi perkataannya. “Oke, kamu sini. Ikut aku,” aku menggenggam tangannya lalu membawanya ke satu titik. Aku melihat ada orang menjual ketoprak pas di pangkalan taksi yang argonya tertulis tarif lama.

Bocah itu malah melepaskan tanganku dengan kencang.

“Kenapa? Kamu lapar ‘kan? Sini aku beliin ketoprak.”

Bocah itu menggeleng. “Uangnya saja Kak.”

Aku terdiam. Tadi dia kelaparan kenapa sekarang sudah kenyang saja?

“Aku uangnya saja, ‘Kak. Sudah kenyang.”

Aku tak tahu apakah ia menolak tawaranku karena tak mau bohong suka ketoprak, atau dia memang jujur lebih memilih uangnya daripada makanannya. Aku melihat ke matanya. Bocah itu mulai salah tingkah. “Aku ga akan kasih kamu uang. Tapi kalau kamu mau makan, aku beliin itu ketoprak.” Entah kenapa, nada yang keluar dari mulutku seakan terdengar mengancam.

“Uang saja, ‘Kak.” Bocah itu bertahan.

“Sekali lagi aku tawarkan, atau tidak sama sekali. Aku ga suka dibohongi, kamu bilang tadi lapar, aku kasih makan kamu malah menolak. Mau atau tidak?” aku kembali memastikan sembari melihat Kopaja yang mendekat.

Bocah itu menggeleng.

“Ya sudah. Aku ga akan kasih kamu uang.” Aku pun naik ke dalam Kopaja sambil memandangi bocah itu yang terdiam di pinggir trotoar entah sedang memikirkan apa.

Itu yang terjadi satu jam sebelum aku membeli “Curhat (Tuan) Setan” itu. Dua jam sebelum aku makan siang dan tiga jam sebelum mual-mual. Empat jam sebelum aku membaca buku itu sepanjang Semanggi-Depok. Lalu catatan ini aku tulis sepuluh jam setelah aku selesai membaca halaman delapanpuluhdelapan.

Entah kenapa, Fahd selalu bisa membuatku merinding membaca tulisannya. Buku itu berbicara—walaupun di beberapa bagian terlihat samar kopiannya dan pengeditan kata-katanya masih belum sempurna—tentang kegalauanku. Tentang apa yang selama ini sibuk berkelindan di kepala. Ini buku berbahaya! Tidak untuk dibaca oleh segelintir orang. Buku ini harus dibaca banyak orang. Buku ini berbahaya!
Membaca Fahd, aku seperti membaca Shawni yang menggunjingkan “kegilaan” Tuhan dalam bukunya “The Madness of God”. Aku seperti membaca gulungan doa Rabi’ah al Adawiyah—orang yang ingin menyiram neraka dengan air dari bejana yang ia bawa dan membakar surga dengan obor yang ia bawa supaya tak ada lagi yang beribadah karena takut terkena api neraka dan hanya beribadah untuk mendapat hadiah surga. Ia berbicara tentang Hannah Arendt—orang yang mengatakan tentang banality of evil. Ia juga menyinggung Soren Kierkegaard. Aku seperti membaca Julia Kristeva yang berbicara tentang dunia abjeksi—dunia yang terisi dengan ambiguitas moral—dunia yang penuh kebohongan. Entah mungkin ia akan menyinggung Friedrich Nietzsche sehabis ini sembari membawa obor di siang hari dan berteriak lantang: “Tuhan telah mati! Tuhan telah mati! Kita yang membunuhnya!

Entahlah. Aku belum selesai membacanya. Aku baru sampai halaman delapanpuluhdelapan. Tapi ada satu bagian yang terus membuat pikiranku berpetualan menembus waktu—seakan ingin mengulang kembali. Rewind. Bagian itu tentang “Al-Quran yang dibakar!”. Aku merenung lama di sini. Ada kebenaran di sana. Lagi-lagi, ada virus ihsan di sana. “Kita yang membakarnya. Kita yang membakar Al-Quran. Kitalah yang menelantarkannya!” Mungkin begitu ucap Nietzsche jika hari ini masih hidup.

Ah, begitulah Fahd. Aku kembali teringat bocah tadi siang.

Aku kembali teringat nazarku menjelang ujian pra-tesis.

Aku jadi berpikir, kenapa untuk sebuah kebaikan, kita harus menunggu setiap keinginan untuk lebih tercapai baru melaksanakan apa yang selama ini dinazarkan. Jika keinginan tak tercapai maka nazar batal. Bukankah Epikurus pernah mengatakan, “berhati-hatilah dengan apa yang kau inginkan hari ini, karena bukankah apa yang telah kau dapatkan selama ini adalah bagian dari keinginanmu terdahulu.” Jadi, lakukanlah kebaikan itu. Jangan tunda-tunda kebaikan. Lakukan saja. Lihat apa yang terjadi. Itu kalimat yang sepertinya buku itu lontarkan ke mukaku.

Aku berhenti di halaman delapanpuluhdelapan.

Selepas magrib, aku pun keluar hendak mencari makan. Di tengah jalan aku berpapasan dengan seorang tua renta yang berjalan tertatih memapah tubuh ringkihnya. Tongkat yang menopang tangannya menjadi kaki ketiga baginya. Ia berhenti di setiap toko sembari mengatakan “lapar”.

Aku melihat sekilas ke arah perempuan renta itu. Ia balas menatapku. Belum sempat ia menengadahkan tangannya aku sudah berlari terlebih dahulu. Lihat, Fahd, aku akan melaksanakan kebaikan itu. Aku tak mau kejadian tadi siang berulang seperti pada bocah itu. Aku tak mau kalah lagi. Aku harus berhasil kali ini. Aku berlari ke arah penjual somay terenak di sepanjang Margonda. Aku belikan sebungkus.

Perempuan renta itu berjalan terseok. Ia masih menyempatkan menyinggahi toko-toko, dan mengatakan hal serupa. Aku meminta si penjual agak bergegas membungkus itu somay, karena hujan mulai rintik. Setelah membayar aku berlari ke arah perempuan itu.

“Aku tahu nenek lapar. Ini aku kasih somay buat nenek, dimakan ya,” ujarku. Plong rasanya. Seperti inikah rasa senangnya melakukan kebaikan itu?

Tapi, ada yang aneh di tatapan nenek itu. Ia tak mengucapkan terima kasih. Ia bahkan tak mau memegang plastik berisi somay itu. Ia malah membuka tasnya. “Nenek sudah kenyang.”

“Tapi, tadi…” aku mulai bingung. “Ya, sudah nenek bawa saja untuk anak cucu nenek,” sambil berusaha memasukkan sebungkus somay ke dalam tasnya yang sempit.

“Nenek tinggal sendiri. Ga ada yang akan makan somay ini. Uangnya saja.”

Aku mulai merasa aneh, bukan pada si nenek, tapi pada tubuhku. Aku mulai mual. Aku mulai menggesakan tanganku memasukkan somay ke tas si nenek. Sempit. Aku harus menggeser beberapa benda. Aku terbelalak melihat isi tas si nenek. Aku tertawa. Aku menatap si nenek itu tak percaya. Ragam pertanyaan berkelindan.

Tiba-tiba ada sesuatu yang melesak dari lambungku. Aku memegang kembali mulutku. Aku permisi. Aku mencari-cari tempat di mana aku bisa menenangkan perutku.

Si nenek itu berjalan pelan. Ke arah tukang somay. Aku sudah tak tahan. Aku bekap mulutku. Aku lalu berlari ke kamarku tak mengindahkan si nenek yang kembali menengadahkan tangannya sembari berkata “lapar” ke orang yang sedang makan somay.

Tak perlu pulalah kucerita apa saja yang tercampak di atas keramik tadi.[]


Depok, 5 Juli 2011

*Terima kasih, Fahd. Aku belajar banyak hari ini.

Sumber dari sini.
Continue Reading...