Valentine

Banyak pembaca yang mengirim e-mail agar saya menulis tentang Valentine—apa pandangan saya tentang Hari Valentine?

Jujur, saya tidak tahu.

Bagi saya, seperti cinta dan romantisme yang selalu penuh polemik dan perdebatan, demikian juga Hari Valentine. Jadi, bolehkah ia dirayakan? Benarkah ia berasal dari tradisi pagan? Benarkah ia sungguh-sungguh berhubungan dengan tradisi Kristiani untuk menghormati salah satu martir mereka—St. Valentine? Sekali lagi, saya tidak tahu. Dan meskipun saya berusaha mencari tahu dengan membaca puluhan artikel dan buku-buku, ternyata kesimpulannya sama: ... the truth behind the Valentine legends is murky, kebenaran di balik legenda Valentine adalah suram—tak bisa dipastikan.

Saya hanya berharap kita tidak menjadi terlalu sombong dengan menunjuk hidung orang lain yang ‘merayakan’ (dalam tanda kutip) Hari Valentine sebagai 'kafir', 'pengikut setan', 'musuh agama', dan seterusnya... Bukankah saya pernah menulis tentang bagaimana hidup kita diselungkupi berbagai ‘konspirasi’, dan itulah sebabnya kita harus selalu menunda untuk bersikap jumawa menjadi manusia paling benar di dunia. Juga bukankah saya sering menulis bahwa setan tak selamanya seperti yang kita sangkakan kepadanya—ada sisi lain, dari keburukannya, yang ternyata membantu kita menjadi (lebih) baik? Jadi, tak usah memilih untuk menjadi manusia yang sibuk dengan urusan orang lain, sibuklah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita sendiri.

Tapi bukankah Hari Valentine, atau Volantynys kata Chaucher, adalah perayaan kaum pagan, para penyembah berhala? Ah, nampaknya dalam sejarah agama dan kepercayaan manapun, sejauh yang saya baca dan ketahui, tak ada satupun yang tak mewarisi tradisi pagan: ia konsekuensi sekaligus residu peradaban manusia. Barangkali.

Tapi kalau memang ada teman, sahabat, keluarga, yang harus diingatkan atau diberi tahu bahwa Hari Valentine memang tak lebih penting dari cinta itu sendiri, itu lebih dari cukup: Cinta memang perlu disyukuri bahkan dirayakan—tapi tidak secara berlebihan.

Bagi saya, gegap-gempita Hari Valentine adalah konsekuensi budaya massa. Sementara itu, kapitalisme modern berhasil memanfaatkannya sebagai momen penting untuk ‘berjualan’: mendulang keuntungan sebanyak-banyaknya. Bukankah menjual sesuatu memang perlu alasan—dan cinta adalah alasan yang selalu membuat semua orang rela untuk berbelanja? Jadi, biarlah mereka menjual boneka babi berwarna merah muda, cokelat-cokelat istimewa, paket-paket candle-light dinner atau memutarkan film-film bertema cinta... Jika memang suka, nikmatilah sebagai hari raya diskon barang-barang dan hiburan yang kita sukai. Jika tidak, pulanglah: tutup pintu, matikan lampu, dan tidur.

Semoga menjadi jelas, alasan terbesar mengapa Hari Valentine terus dirayakan bukanlah gagasan agama atau kepercayaan tertentu. Tetapi bisnis yang besar! Kalau tidak percaya, hitunglah potensi ekonomi satu hari di dunia bernama Valentine: mulai dari boneka, cokelat, tiket nonton film, paket makan malam romantis, pertunjukan, jasa perhotelan, jasa perjalanan, dan seterusnya. Jika jumlahnya mencapai miliaran bahkan triliunan dolar dalam sehari: itulah alasan utama Hari Valentine terus-menerus dirawat sebagai bagian dari budaya massa. Dan, ah ya, industrialisasi dan kapitalisasi semacam itu bukanlah barang baru dalam kehidupan kita. Bahkan perayaan-perayaan lain, yang dianggap sakral dan suci sekalipun, tak pernah bisa lepas dari cengkraman bisnis, kan?

Akhirnya, tinggalkanlah keragu-raguan dan hal-hal yang samar, tak usah bimbang: Cinta tak hanya tersedia pada 14 Februari.

... Dan maaf, saya tidak merayakan Valentine. :)


Fahd Djibran | 13.02.12

PS. Saya posting ulang video Revolvere Project yang pertama, Kau Yang Mengutuhkan Aku. Beginilah cara kami merayakan cinta. Semoga suka. Selamat menikmati. :)

Berikan Komentarmu :)

0 comments:

Post a Comment

Sekarang bisa juga berkomentar melalui fasilitas bokskomentar blog, tidak perlu via FB. Silakan tuliskan komentarmu di boks di bawah ini :)