“Tuhan, aku menghadap padaMu bukan hanya di saat-saat aku cinta padaMu, tapi juga di saat-saat aku tak cinta dan tidak mengerti tentang diriMu—di saat-saat aku seolah-olah mau memberontak terhadap kekuasaanMu. Dengan demikian, Rabbi, aku berharap cintaku padaMu akan pulih kembali.”—Ahmad Wahib (1942-1973)
Malam ini saya kembali terguncang membaca Ahmad Wahib—entah untuk keberapa kalinya. Sosok misterius itu masih tetap seperti dahulu: lelaki lugu dengan senyum yang lepas, dengan pikiran-pikirannya yang bebas.
Saya bergetar membaca Wahib yang begitu dalam mengungkapkan cintanya pada Tuhan—Objek Agung yang ia cintai bukan hanya pada saat-saat ia dekat, tetapi juga ‘saat jauh’: saat-saat ia tak mengerti, saat-saat ia seolah-olah memberontak terhadap kekuasaanNya. Dengan demikian, kata Wahib, cintanya akan senantiasa pulih kembali: bagai perasaan murni yang tumbuh bukan tersebab keinginan dan kepentingan-kepentingan, tetapi karena kerinduan dan rasa gelisah yang terus-menerus memanggil untuk ‘pulang’.
Ya, ‘pulang’, Wahib begitu menghayati situasi itu: Bagai anak kecil yang tersesat ketika ‘bermain terlalu jauh dari rumah’, lalu berjalan kelelahan sambil menangis membayangkan ‘rumah’. Ah, demikianlah, Wahib tidak seperti kita yang hanya mendatangi Tuhan dengan hati dan pikiran yang begitu rakus penuh keinginan dan kepentingan-kepentingan, “Tuhan, kabulkan aku ini! Berikan aku itu!”, tanpa kesadaran untuk benar-benar ‘pulang’ dan memulihkan kembali rasa cinta kita kepadaNya.
Ah, Wahib, bagaimana caramu sampai pada kesadaran itu? Sesuatu yang bahkan begitu sulit ditemukan para sufi setelah pencarian yang teramat panjang: Bahwa jika kita tersadar untuk menghadap Tuhan dalam situasi di mana kita merasa paling berdosa, sesungguhnya di sanalah rasa cinta terbesar kita. Ya, di sanalah cinta menjadi sesuatu yang murni—pulih kembali, kata Wahib—bagai senyawa rasa yang terus-menerus memaksa kita untuk kembali ke dekapan Tuhan, mempertegas lagi jalan samar menuju ‘Rumah Tuhan’, sejauh apapun kita tersesat.
Dalam situasi semacam itulah, kebutuhan kita terhadap Tuhan menjadi benar-benar terasa dan nyata. Bukan Tuhan yang pemarah dan penyiksa, tetapi Tuhan yang menyifati dirinya sebagai Yang Maha Pemurah: Rumah Cinta Tempat Kembali Yang Terus-menerus Memaafkan—tawwab ar-Rahîm.
Sayang sekali, barangkali tak banyak dari kita yang mengenal Wahib. Toh ia memang bukan siapa-siapa. Ia hanya seorang pemuda penyendiri yang merasa belum selesai dengan hidupnya sendiri, hingga ia memutuskan untuk terus mempertanyakan segala hal dan melakukan pencarian; Layaknya kita semua yang gelisah dan bertanya-tanya. Sayangnya, pada 30 maret 1973, Wahib muda meninggal dalam sebuah kecelakaan. Pencarian Wahib yang belum selesai harus terhenti usai sebuah motor menghantam tubuhnya—menghentikan detak waktu hidupnya. Ketika Wahib memejamkan mata, di sanalah catatan-catatan hariannya terbuka dan begitu bercahaya: Wahib mengajarkan pada kita bahwa di dunia yang penuh kebohongan dan kemunafikan, kebenaran tak begitu saja tersedia, ia harus dicari, ditemukan, dihayati dan diperjuangkan.
Wahib adalah perenung sejati. Ia berusaha menemukan kebenaran sejati melalui kegelisahan dan pertanyaan-pertanyaannya. Tak banyak orang yang mengerti bahwa di balik pemikiran-pemikirannya yang penuh pertanyaan, kegelisahan, bahkan pemberontakan, Wahib merupakan sesok pemuda yang begitu merindukan Tuhannya. Wahib percaya bahwa memberi jarak antara dirinya dan Tuhan tetapi ‘terus memanggil-manggil’ jauh lebih bermakna daripada ‘terus memanggil-manggil Tuhan’ tetapi sesungguhnya berjarak dengan-Nya... “Tuhan, aku menghadap padamu bukan hanya di saat-saat aku cinta padaMu, tapi juga di saat-saat aku tak cinta dan tidak mengerti tentang diriMu,” kata Wahib.
Ah, malam ini saya kembali terguncang membaca Wahib—entah untuk keberapa kalinya. Saya teringat sosok perempuan dalam lagu Stairway to Heaven yang dinyanyikan Led Zeppelin pada tahun 1971, mungkin Wahib juga pernah mendengarnya: Perempuan yang terlanjur percaya bahwa semua yang berkilau adalah emas, lalu segera merasa bahwa ia telah menemukan tangga menuju surga.
There's a lady who's sure all that glitters is gold
And she's buying the stairway to heaven
When she gets there she knows, if the stores are all closed
With a word she can get what she came for
Ooh, ooh, and she's buying the stairway to heaven
There's a sign on the wall but she wants to be sure
'Cause you know sometimes words have two meanings
In a tree by the brook, there's a songbird who sings,
Sometimes all of our thoughts are misgiven
Ooh, it makes me wonder,
Ooh, it makes me wonder
Si perempuan barangkali adalah amsal bagi diri kita semua, yang terlalu sering tertipu oleh penampilan-penampilan, ritual, seremonial, dan hal-hal simbolik yang ‘hanya terlihat dan terdengar’. Barangkali si perempuan adalah kita yang mengira bahwa yang ‘ramai’ dan ‘ingar-bingar’ adalah kebenaran yang nyata. Tetapi, ...if you listen very hard, jika kita sungguh-sungguh mendengarkan suara dan kegelisahan persaan dan pikiran kita, kata Led Zeppelin, kita akan mendengar bahwa kebenaran selalu terdengar sebagai suara lembut yang datang dari dalam hati dan (akan) menenangkan hati.
Di sanalah, suara kebenaran pada akhirnya akan terdengar sebagai sesuatu yang disetujui oleh semua hati, nyata bagai batu yang kukuh, bukan sekadar yang menggelinding dan ikut arus... the tune will come to you at last / when all are one and one is all / to be a rock and not to roll.
Malam ini saya kembali tergerak membaca Wahib—entah untuk keberapa kalinya. Tapi, saya putuskan untuk meninggalkan catatan hariannya yang bercahaya. Saya harus kembali pada jalan kebenaran, seperti Wahib juga melakukannya. Yes, there are two paths you can go by, but in the long run / There's still time to change the road you're on...
Mungkin saya akan menempuh perjalanan yang panjang, juga berat, tetapi terpenting saya harus sungguh-sungguh mendengarkan suara pikiran dan persaan saya sendiri. Sesekali gelisah dan bertanya-tanya tidak apa-apa, selama tidak menjadi munafik bagi pikiran dan perasaan kita sendiri. Saya yakin, Tuhan, barangkali juga melalui orang-orang baik, juga pencari dan pengelana yang lain, akan memberi saya pengertia-pengertian... hingga saatnya semua keraguan akan hilang...
Akhirnya, izinkan saya berdoa, seperti Wahib yang rendah hati juga berdoa—
“Tuhan, bisakah aku menerima hukum-Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Jika Engkau tak suka hal itu, berilah aku pengertian-pengertian sehingga keraguan itu hilang. Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak sendiri yang telah Engkau berikan kepadaku dengan kemampuan bebasnya sekali? Tuhan, aku ingin bertanya pada Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya, Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri.” (Catatan Harian 9 Juni 1969)
Fahd Djibran | 07.02.2012 – 02.33
*Silakan kunjungi juga website Ahmad Wahib.








0 comments:
Post a Comment
Sekarang bisa juga berkomentar melalui fasilitas bokskomentar blog, tidak perlu via FB. Silakan tuliskan komentarmu di boks di bawah ini :)