
Saya akan memulai catatan ini dengan sebuah keyakinan sederhana: Mereka yang tidak bisa menghargai perbedaan adalah mereka yang tidak bisa menghargai diri sendiri.
Izinkan saya memberikan ilustrasi sederhana.
Bayangkan kalau semua anggota tubuh kita memiliki nama yang sama. Misalnya, sebut saja Uplik. Maka, di Taman Kanak-kanak, barangkali akan banyak anak-anak yang kebingungan menyanyikan lagu Dua Uplik Saya (baca: Dua Mata Saya). Saya membayangkan Maria, tokoh saya yang masih TK itu, bernyanyi dengan hati gelisah dan bertanya-tanya—
Dua uplik saya
Uplik saya satu
Dua uplik saya
Pakai sepatu baru
Dua uplik saya
Yang kiri dan kanan
Satu uplik saya
Tidak berhenti makan
Jika hal itu terjadi, tentu saja lagu Kepala Pundak Lutut Kaki juga tak akan pernah bisa dinyanyikan dengan ceria. Bagaimana caranya? Uplik, uplik, uplik, uplik / Uplik, uplik, uplik, uplik? Ah, ia tak seperti sebuah nyanyian, lebih mirip mantra penjinak ular.
Tapi, untunglah nenek moyang kita memberikan nama yang berbeda-beda bagi anggota tubuh kita. Mereka sadar: tak ada yang lebih menyesatkan sekaligus membingungkan dari tindakan-tindakan penyamarataan dan penyeragaman. Dan untuk hidup berbahagia, misalnya agar bisa menyanyikan lagu Dua Mata Saya tanpa merasa gelisah, adalah dengan menghargai dan merayakan perbedaan—
Jika kita tak suka bentuk hidung kita yang tak sama dengan hidung-hidung selebriti televisi, kita tak lantas menyesatkan atau melenyapkannya, kan? Akankah kita mengajak anggota tubuh kita yang lain, misalnya lengan dan rambut, untuk membuat gerakan sekaligus kampanye ‘hidup tanpa hidung’? Ah, ya, itu sama sekali tak berguna. Sebab, justru karena perbedaan-perbedaan itulah semua jadi ada ‘nilai’-nya; Hidup jadi lengkap, jika mungkin belum sempurna, justru dengan keberadaan hidung kita yang seadanya itu. Dan, ah, bukankah tak ada satu pun manusia yang sanggup bertahan hidup tanpa fungsi hidung?
Demikianlah agungnya perbedaan, teman-temanku tersayang. Bagi saya, ia adalah salah satu mahakarya terbesar yang dimiliki Raja Semesta. Bukan semata-mata kehebatanNya menciptakan manusia, langit, pohon, binatang, gurun, laut, awan, angin, atau lainnya, tetapi keagunganNya menciptakan perbedaan-perbedaan di antara semuanya. Jika manusia diciptakan sama menurut cetakan yang sudah ada, pohon-pohon memiliki tinggi dan jumlah daun yang sama, luas dan diameter lautan berukuran sama, awan-awan memiliki bentuk dan penampang yang sama, apa bedanya Dia dengan tukang roti atau mesin fotokopi?
Jangan paksakan perbedaan-perbedaan yang ada menjadi persamaan-persamaan, teman-temanku tersayang. Bukankah jika perbedaan itu terdapat dalam diri kita sendiri, kita pun tak sanggup menghindarinya? Misalnya mengapa ekspresi wajah kita bisa berbeda-beda menghadapi situasi yang sama, mengapa persepsi kita tentang sesuatu bisa berubah-ubah dan berbeda-beda bahkan dalam waktu yang tak terlalu lama, atau mengapa ‘suara hati’ dan ‘suara pikiran’ seringkali memiliki pendapat yang berbeda? Itu dia, kita bahkan tak bisa mencegah perbedaan dan tarik-menarik antara kutub-kutub diri yang berbeda, kan? Justru perbedaan-perbedaan itulah yang membuat kita terus hidup, berkreativitas, belajar menyelesaikan persoalan kita dari hari ke hari.
Demikianlah, saya jadi begitu yakin: pertama-tama, memahami perbedaan adalah tentang memahami diri sendiri. Dan mereka yang tidak bisa menghargai perbedaan adalah mereka yang tidak bisa menghargai diri sendiri.
Maha Besar Tuhan yang menciptakan perbedaan-perbedaan, bahkan dalam diri kita masing-masing. Hari ini mungkin salah satu sisi dalam diri kita menginginkan liburan, tetapi sisi diri kita yang lain merasa harus memenuhi tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang pekerja. Maka dalam perbedaan itulah kita menciptakan ‘dialog diri’: menemukan solusi-solusi kreatif yang sebisa mungkin dapat membahagiakan dan tidak mengecewakan kedua-duanya.
Siang nanti, mungkin salah satu sisi dalam diri kita ingin makan enak, ditemani orang yang kita sayangi, tetapi sisi diri kita yang lain menahannya: tersebab kenyataan-kenyataan yang tak memungkinkannya. Setiap hari perbedaan-perbedaan itu selalu ada dan nyata—bahkan dalam diri kita sendiri. Satu-satunya hal yang tak boleh kita lupakan adalah ‘dialog’: kerendahatian untuk membentangkan ruang-ruang pengertian satu sama lain, agar hidup jadi lebih indah dan menyenangkan.
Sekarang, tidak usah bernyanyi Dua Mata Saya. Ada Little Talks dari Of Monsters and Men yang barangkali harus kita nyanyikan, juga kita sadari, setiap hari—
Hey! Hey! Hey!
There's an old voice in my head that's holding me back
I tell her that I miss our ‘little talks’
Soon it will all be over, buried with our past
You used to play outside when you were young,
Full of life and full of love
Some days I feel like I am wrong and I am right
Your mind is playing tricks on you my dear
'Cause though the truth may vary
This ship will carry
Our bodies safe to shore
Hey!
Don't listen to a word I say
Hey!
The screams all sound the same
Hey!
Fahd Djibran | 01/03/2012
*Gambar diambil dari sini.







1 comments:
hahahahahahaha.......interpretasi yang sangat bijak.....beda, betul tulisan kang fahd selalu beda, tdk sia2 sy memfavoritkan akang dan menjadikan stimulus sy menulis
Post a Comment
Sekarang bisa juga berkomentar melalui fasilitas bokskomentar blog, tidak perlu via FB. Silakan tuliskan komentarmu di boks di bawah ini :)