Darul Arqam—
Apa kabar gerbangmu yang berwarna biru? Aku melompatinya suatu malam: Siluet penjaga gerbang yang mengantuk, seperti monster yang tertidur. Aku mengendap-endap dalam kesunyian malam-malammu, mempertanyakan mengapa hafalan-hafalan hadits akhlak tak selalu berkorelasi dengan perilaku sehari-hari? Kemudian aku bertaubat, di hari yang lain, untuk kesekian kalinya, setelah suatu hari terpeleset di gerbang itu: Dan tertangkap! Terima kasih telah membuatku menghapalkan setengah juz Al-Quran, setiap kali bersalah, meski agak terpaksa—kini aku bersyukur telah terlanjur menghapalkannya di kepala.
Di serambi masjidmu, sambil menebak nama-nama bus antar-kota dan jurusannya, masihkah Shorof dan I’lal dihapal dengan cara melantangkannya? Atau kau sudah melupakannya, digantikan sekadar nyanyian dan makian: Nashara, yanshuru, 'Nasrun'? Ha! Apa kabar Ustad kita itu? Apa kabar motor besarnya yang selalu kelebihan muatan?
Sementara aku selalu menjadi santri yang terlambat, masihkah waktu berjalan terlalu cepat di jam-jam istirahat asramamu? Ah, terima kasih telah selalu membuatku setenang Fajri yang pura-pura tertidur saat suara bel berbunyi, atau suara tarhim penghabisan, atau suara azan, atau segalanya yang membuat kita harus bergegas: Kau telah membesarkanku untuk selalu bersikap tenang di tengah segala kegugupan dan kegagapan zaman menghadapi kecepatan-kecepatan.
Apa kabar ketukan tongkat Pak Agus? Apa kabar tepuk tangan dan janggut tipis Pak Iyet? Masihkah mereka tak terduga—senyum dan marahnya? Aku merindukan keberanian dan ketakutan, ketundukan dan pemberontakkan, rasa khawatir dan tidak peduli, segala rasa yang hadir di poros masjid, kelas, dan asrama: Semua yang membuatku semakin dewasa.
Dan apabila Ramadhan telah tiba, kita akan bermain bola siang hari, atau basket, atau voli, di tengah terik, untuk kehausan dan membayangkan diri sebagai pejuang-pejuang Islam baru saja berperang di bulan puasa. Tapi benarkah kita pernah dan akan menjadi pejuang-pejuang itu? Islamkah yang membutuhkan kita atau justru kita yang membutuhkannya? Perlukah kita repot-repot membela agama? Ah, aku merindukan kajian-kajian 'ulumul Quran dan 'ulumul hadits yang menghidupkan malam-malammu.
Matahari tenggelam, oh matahari tenggelam, aku duduk di beranda asrama. Waktu melambat. Gitar tua yang dipetik seorang teman. Suara bola ping-pong memantul dari kejauhan. Bayangan ayah. Bayangan Ibu. Oh, uang jajan yang pas-pasan, kapan libur bulanan? Aku menuliskan semua mimpi baik dan mimpi buruk masa depanku, dalam sebuah buku yang kusembunyikan di balik ranjangku: Mau jadi apa aku nanti? Aku ingin menjadi orang baik, maka aku berusaha menjadi orang baik.
Lalu aku belajar menulis surat, untuk seseorang di seberang gerbang lain yang mengajarkanku kata ‘rindu’—dan mengirimkannya dengan ragu-ragu. Terima kasih telah secara sembunyi-sembunyi menyampaikan surat-suratku: Kini santriwati yang membalas kata-kata mutiaraku di Bursa Salam dan surat-surat itu, telah menjadi istriku. Terima kasih telah mengajarkanku mahfudhat “Barang siapa bersungguh-sungguh, maka akan mendapatkan.” Sejak dulu, aku sungguh-sungguh mencintainya, dan kini aku mendapatkannya—
Sejak meninggalkan gerbang birumu tujuh tahun yang lalu, segala tentangmu selalu membuatku merasa rindu.
Darul Arqam, terima kasih dan maaf, untuk hal-hal yang terkatakan dan takterkatakan. Kini, di sini aku, masih seperti dulu, kepala batu yang selalu meleleh di hadapan semua kenangan tentangmu.
The sea said goodbye to the shore so the sun wouldn't notice
The seaweed wrapped its arms around you
The carpet on my cheek feels like a forest
And I run through the tall trees with your hand chasing me
The books that I keep by my bag are full of your stories
That I drew up from a little dream of mine, a little nightmare of yours
To beat us to take this plunge to forgive and forget
And be a better man, to be a better man, to be a better man
So love me mother, and love me father, and love my sister as well
The cat's silhouette as big as a monster in this concrete jungle,
The streetlights hang in their hats
So make all your last demands for I will forsake you
And I'll meet your eyes for the very first time, for the very last
So love me mother, and love me father, and love my sister as well
So love me mother, and love me father, and love my brother as well
So love me mother, and love me father, and love my sister as well
So love me mother, and love me father, and love my brother as well
I met a man today and he smiled back at me
Now there are thoughts like these that keep me on my feet, that keep me on my feet.
FAHD DJIBRAN | 18/07/2012
PS. Tiba-tiba saya ingin menulis tentang Darul Arqam. Sebuah Pesantren Muhammadiyah di Garut, tempat saya belajar sejak kelas 1 Madrasah Tsanawiyah (SMP) hingga kelas 3 Madrasah Aliyah (SMA). 6 tahun saya di sana. 6 tahun yang selalu sulit untuk diceritakan dan dituliskan, berangkali sebab terlalu banyak yang saya dapatkan di sana. Darul Arqam adalah tempat saya tumbuh, bermain dan belajar. Dari semua yang saya mengerti sekarang, kebanyakan fondasinya di bangun di sana. Di sana juga saya pertama kali belajar menulis, di buku catatan yang saya sembunyikan di bawah ranjang. Buku pertama, kedua, dan ketiga saya, Kucing, Being Superstar dan Revolusi Sekolah (dua yang terakhir diterbitkan Mizan dan mendapatkan penghargaan DAR!Mizan Unlimited Creativity Awards sebagai Penulis Pendatang Baru Terbaik dan Penulis Terbaik tahun 2005 dan 2006) ditulis di buku catatan dengan menggunakan tulisan tangan. Di sana saya belajar banyak, termasuk kepatuhan dan ketidakpatuhan: Segala hal yang selalu saya percayai telah secara permanen dan sistemais membentuk diri saya saat ini.
Lagu: Of Monsters and Men – Sloom | Gambar: Foto Darul Arqam dari atas, karya Oki Lutfi.





Tiba2x sekali lagi merasa perlu menjadi Fahdisme yang setia...
ReplyDeleteKini santriwati yang membalas kata-kata mutiaraku di Bursa Salam dan surat-surat itu, telah menjadi istriku. Owh...jadi Mbak Rizka itu selian temen SD --asal2 nebak efek baca Curhat Setan--- juga temen satu MTs n MA begitukah Kang Fahd?
:D
" . . . kebanyakan fondasinya di bangun di sana."
ReplyDeletemengutip apa yang akang tulis di atas, bagaimana jikalau fondasi yang kita bangun dahulu itu tidak terlalu kuat atau bahkan rapuh? sehingga terkadang membuat diri kita menyesal apa yang telah dan tidak pernah kita lakukan.
terima kasih!!