Menikahlah



Siang ini saya mendapatkan e-mail yang 'sama' lagi. Kasus-kasus seperti yang akan kalian baca di bawah ini tentu banyak. Dari banyak orang yang mengirimi saya e-mail dan menceritakan hal yang kurang lebih sama, saya yakin lebih banyak lagi di luar sana. Mereka mungkin tidak menceritakannya, tetapi saya yakin ketakutan dan kegelisahan yang sama sedang menghantui mereka. Saya tidak memandang rendah apalagi membenci mereka. Sungguh. Tetapi kisah-kisah mereka harus kita jadikan pelajaran: Agar kita tak melakukan kesalahan yang sama yang ribuan kali telah membuat orang-orang di sekeliling kita gelisah, ketakutan, bahkan putus asa. Untuk semua itu: Saya akan terus menuliskan tema-tema yang selama ini saya tuliskan, ternyata memang banyak orang yang membutuhkannya. Saya bersyukur jika blog ini membantu orang-orang untuk membebaskan perasaannya. Dan saya akan terus berusaha mengajak para pencinta untuk berani menikah di usia muda—jika memang sudah waktunya.

Salam.

Saya mempunyai persoalan yang pelik dengan pasangan saya yang sekarang.

Ini soal kesulitannya menerima diri saya utuh tersebab masa lalu saya. Saya pernah melakukan hubungan badan dengan pasangan saya yang sebelumnya. Masa di mana saya menjalani hubungan yang pernuh dengan tekanan dan beban. Ditambah lagi pasangan saya tersebut tidak punya itikad baik untuk bertanggungjawab. Mengetahui bahwa kondisi saya sudah tidak perawan, dia sering mempertanyakan dan mengungkit masa lalu tersebut. Saya sudah berkali-kali menjelaskan sejelas mungkin yang sebenar-benarnya. Saya berusaha tenang meski saya harus mengingat kembali kejadian dan masa-masa kelam yang tidak ingin saya ingat lagi. Saya hanya ingin membuatnya mengerti dan berusaha memberikan yang terbaik demi membahagiakannya.

Dia seringkali tersiksa dan mengalami perang batin. Di satu sisi ia begitu marah dan menyesali dengan apa yang sudah menimpa saya. Namun disisi yang lain, dia sangat menyayangi saya dan tidak ingin meninggalkan saya. Dia bahkan seperti mulai menuntut saya untuk mendapat ‘hal yang sama’ seperti yang pernah terjadi antara saya dengan pasangan saya yang sebelumnya.

Saya didera kesedihan yang berlarut. Andai ia yang kutemui lebih dulu, andai ia menjadi yang pertama. Kenapa Tuhan baru mempertemukan saya dan laki-laki yang begitu tulus mencintai saya sekarang? Baginya, keperawanan adalah harga diri seorang perempuan. Dan itu yang ia pegang sampai sekarang.

Saya sangat bingung dan tidak bisa tenang berpikir. Saya mohon saran dan solusinya. Saya cemas dalam kebuntuan ini, saya kembali berada seperti di masa kelam saya dahulu, terjerumus dalam dosa dan kebodohan yang sama atau bahkan jauh lebih berat, dan sekali lagi berniat untuk mati.

Terimakasih, Fahd, untuk saran dan segenap waktumu untuk memikirkan dan menjawab pertanyaan saya.

Salam,

Dyandra

:::::::::::::::::::::::

Dear Dyandra,

Saya bisa membayangkan bagaimana perasaanmu saat ini, meskipun sejujurnya saya tidak bisa mengerti sepenuhnya sebab saya tidak pernah berada dalam situasi yang sama sepertimu. Maafkan. Saya hanya bisa berdoa mudah-mudahan kamu bisa belajar dari masa lalu dan tidak mengulanginya lagi. Kamu sudah belajar dari 'yang gelap di belakang', dan kamu tak boleh memasukinya lagi. Jika kekasihmu sekarang meminta 'hal yang sama', tentu suara kebaikan dalam dirimu tak sudi mengizinkannya: Saya mohon dengarkanlah suara kebaikan itu!

Saya harap kamu sudah membaca posting saya yang ini Keterbukaan dan yang ini Berjalan. Mudah-mudahan ada yang bisa kamu dapatkan dari sana.

Tentang kekasihmu, dan apa yang harus dia lakukan, saran saya kalian membuat percakapan yang serius dari hati ke hati. Kamu katakan kepadanya bahwa kamu memang pernah punya masa lalu yang buruk, tetapi berjanjilah kamu akan menjadi perempuan yang lebih baik lagi, tidak mengulang kesalahan itu, dan bersama-sama memaafkan masa lalumu dengan menjadi kekasih yang baik untuknya. Dia tentu boleh marah dan kecewa. Itu haknya, kan? Dan kamu harus mengerti itu. Tetapi jika dia benar-benar menyayangimu, dia akan memaafkan masa lalumu dan bersedia bersama-sama untuk menciptakan hidup yang lebih baik hari ini dan besok. Dia juga tahu kok bahwa dirinya bukan orang suci yang tak punya sedikitpun kesalahan di masa lalu. Semua orang punya 'sisi gelap' dalam dirinya, Dyandra, semua orang punya 'yang gelap di belakang'. Maka belajarlah untuk saling memaafkan: Pemaafan memang tidak mengubah masa lalu, tetapi ia melapangkan masa depan. Kalau kalian memang saling menyayangi, dan serius untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di masa depan: Segeralah menikah!

Kita semua pernah bersalah dan berdosa, Dyandra. Tetapi kita tak bisa mengubah yang telah lewat. Kita hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik hari ini, dan menjadi lebih baik di masa depan. Sebenarnya saya ingin mengatakan ini pada kekasihmu, "Tak perlu selalu mengungkit masa lalu yang buruk, bekerjalah untuk masa depan yang baik", tetapi saya tak punya kesempatan untuk mengatakannya, kan? Maka jika kalian memang serius saling menyayangi dan sudah saling terbuka tentang banyak hal, kalian bisa memulai percakpan itu dengan bersama-sama membaca balasan e-mail saya ini.

Maaf jika saya tak bisa memberikan solusi untuk masalahmu. Tapi kita bisa sama-sama belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Saya mendoakanmu, untuk segala hal yang lebih baik kini dan esok hari.

Salam baik,

Fahd Djibran
Continue Reading...

Tentang Kita (Transcript)



Tentang Kita
—Revolvere Project


8 bulan yang lalu

Senja itu aku tertunduk sesaat setelah mata asingmu memandangku. Tetapi kau duduk dan membelai kepalaku. Ada perasaan yang tak bisa kujelaskan: Angin berembus perlahan, kantung plastik hitam melayang di mulut gang. Lambat.

Ikutlah denganku. Aku akan menjagamu,” katamu.

Kamu tidak tersenyum. Tetapi aku bisa merasakan ketulusanmu: Dari sanalah kisah tentang kita bermula.


5 bulan yang lalu

Sejak hidup bersama, ikatan perasaan di antara kita semakin kuat: Kau begitu perhatian dan aku jadi tahu banyak hal tentang dirimu.

Entah bagaimana, sejak bersamamu, aku selalu ingin berada di dekatmu: Menyusup ke balik selimutmu, atau mengelus betismu, atau berusaha menjawab semua pertanyaanmu.

Aku senang kau menerimaku sebagai diriku sendiri: Terutama saat kau membelaiku, atau menyuapiku, atau tersenyum padaku.


2 bulan yang lalu

Meski hidup bersama, kita bukan sepasang kekasih. Ya, kita hanya teman. Lebih dari itu, mungkin sahabat—jika tidak berlebihan.

Malam itu, aku memandang dahimu yang mengerut sesaat setelah kau mengakhiri percakapan dengan Santi di telepon. “Ah! Ternyata nggak ada cinta yang murni di dunia ini! Aku muak dengan hubungan yang penuh kepentingan! Aku kira Santi berbeda, ternyata sama saja!” katamu kesal, setengah berteriak.

Kau melemparkan telepon genggammu sebelum menghempaskan dirimu ke tempat tidur. Aku berjalan perlahan ke arah kursi. Sekilas, kau melihat ke arahku. Aku memilih diam, tak ingin memperburuk suasana.

Ah, lagi-lagi Santi yang membuatmu bersedih. Tapi mengapa manusia suka mempertahankan hubungan yang jelas-jelas tak membuat mereka bahagia? Aku hanya bisa mengajukan pertanyaan itu dalam hati.

Lalu kita duduk di kursi yang sama. Kau membelai kepalaku, aku beringsut ke ketiakmu.

Barangkali memang sudah tiba saatnya buatku untuk berpisah dengan Santi.” katamu. Sungguh, aku bahagia mendengarnya.


Kemarin

Kamu memang baik hati, juga tampan: Perempuan datang dan pergi dalam kehidupanmu. Bagimu, perpisahan selalu merupakan kata lain bagi sebuah perjumpaan baru. Setelah Santi, ada Tania yang kini menjadi kekasihmu: Dia cantik, dia baik, sayangnya dia tidak suka padaku.

Tania begitu dominan dalam hubungan kalian. Ia mengintervensi banyak hal dalam kehidupanmu: Keuangan, rutinitas, pekerjaan, hingga pertemanan. Semua yang membuatku bertanya-tanya...

Cinta macam apa yang mengekang kebebasan? Cinta macam apa yang memisahkan ‘aku’ dari ‘kamu’? Cinta macam apa yang memposisikan ‘aku’ lebih tinggi dan berkuasa daripada ‘kamu’? Cinta macam apa yang tak sanggup menampung ketulusan dan keluasan makna dari kata ‘kita’?

Sayang, pokoknya besok aku nggak mau lagi ada dia di sini, ya...” Demikianlah, sambil menunjuk hidungku, tiba juga saatnya kata-kata lembut Tania menuntut perpisahan kita: Ia tak menginginkan keberadaanku di tengah-tengah kalian.

Tapi...” kamu berusaha menjelaskan.

Aku nggak perlu alasan apapun, Sayang...” Ah, Tania memang tak ingin mendengar alasan apa-apa lagi darimu, ia hanya ingin aku pergi. Titik. “Kamu lebih sayang aku atau dia?” Tania mengeluarkan jurus andalannya.

Kamu tertunduk lesu. Lalu melihat ke arahku. Aku tak bisa berkata apa-apa: Keputusan sepenuhnya ada di tanganmu—meski aku tahu kamu tak mungkin memilihku.


Sekarang

Akhirnya tiba juga waktunya. Sejak pertama kali kau mengajakku ke rumahmu, aku sadar rumah itu bukan tempat tinggalku untuk selama-lamanya. Dan ternyata: Hari inilah kita harus berpisah.

Aku masih bisa merasakannya: Kau membelai halus bulu-buluku sebelum kita berpisah dan menjalani hidup masing-masing seperti sebelum kita bertemu. Aku berjalan perlahan menjauhi tempatmu berdiri, menuju kehidupanku sendiri.

Aku tak bisa menangis, meski sejujurnya sangat bersedih. Terima kasih sudah menjadi teman dan sahabat. Terima kasih untuk semua cerita tentang ‘kita’: Aku dan kamu.

Aku bahagia kalau kamu bahagia. Semoga kalian berbahagia, tentu saja.


*

Note: Terima kasih sudah mengapresiasi karya-karya kami di Revolvere Project. Tentu kami lebih senang jika teman-teman turut menikmati "cara membaca baru" yang kami tawarkan melalui format fiksi lintas media dalam video di tautan ini. Sedikit ulasan dan prolog dari kami mengenai karya ketiga ini bisa dibaca di sini. Terima kasih jika berkenan membantu kami menyebarkan dan meluaskan ruang apresiasi bagi karya ini.



Continue Reading...

[Revolvere Project] Tentang Kita


Salam,

Sejak ide awal Revolvere Project digulirkan hampir satu tahun lalu, tidak terbayang sebelumnya di benak kami bahwa project hibrida ini akan mendapatkan sambutan baik dari banyak pihak. Saat ini, dua video awal Revolvere Project di Youtube, Vimeo dan Facebook sudah ditonton puluhan ribu orang dengan apresiasi yang sering membuat kami ke-GR-an, sudah tiga skripsi S1 dan satu tesis S2 yang mengapresiasi karya kami dengan pendekatan akademik, beberapa liputan media, dan kami diundang ke berbagai tempat di Indonesia bahkan ke Singapura dan Australia untuk mempresentasikan keisengan kami itu. Tidak sampai di situ, dua teman kami di Australia bahkan menawarkan diri untuk menerjemahkan karya-karya Revolvere Project agar bisa dinikmati apresiator yang lebih luas. Melihat semua itu: Kami semakin yakin pada kekuatan ide dan kami semakin bersemangat untuk berkarya lebih baik lagi.

Sedikit flashback, pada awalnya kami ingin menghadirkan “cara membaca yang baru”. Dengan perkembangan Internet dan teknologi multimedia yang demikian pesat, kami ingin menghadirkan pengalaman “membaca-mendengar-melihat” secara langsung melalui medium kreatif yang baru. Maka terpikirlah gagasan awal Revolvere Project. Dalam proses berkarya, didukung teknologi Internet yang sudah demikian gila-gilaan, kami tidak perlu mengerjakannya di satu tempat secara bersamaan. Dari Bandung dan Jakarta, kami mengkolaborasikan kreativitas kami melalui Internet. Selanjutnya, Internet juga menjadi medium yang sangat pas untuk kami mempublikasikan racikan terakhir Revolvere Project ke hadapan para penikmatnya.

Dan inilah karya ketiga kami, Tentang Kita. Seperti biasa, kami mengangkat tema sederhana yang sering kita jumpai di keseharian. Dengan pendekatan dan sudut pandang yang baru, kami ingin melihat bagaimana hubungan “aku” dan “kamu” seharusnya dirangkum secara setara dalam ketulusan dan keluasan kata “kita”. Dalam video ketiga ini, kami berusaha menyajikan sesuatu yang berbeda dari dua video sebelumnya. Mudah-mudahan mendapatkan apresiasi yang minimal sama baiknya dengan video pertama dan kedua. Dan mudah-mudahan video tersebut dapat tersebar secara lebih baik dan lebih luas, terima kasih jika Anda berkenan membantu menyebarkannya.

Tanpa berpanjang lebar lagi, selamat menikmati!




Salam baik,

Fahd Djibran | @fahdisme
Fiersa Besari | @fiersa
Futih Aljihadi | @futihfatih

PS: Dua video sebelumnya: Apologia Untuk Sebuah Nama dan Kau Yang Mengutuhkan Aku. Follow Revolvere Project di Twitter: @RevolvereProj
Continue Reading...

[UNDANGAN] Mari Berbuat!



Salam,

Semoga kita semua selalu sehat dan penuh berkah, dengan perasaan yang baik-baik saja.

Saat ini saya dan beberapa orang teman mendirikan sebuah sekolah alam di daerah Bojongsari, Sawangan, Bogor, di atas tanah seluas lebih kurang 1,5 Ha yang kami beri nama Sekolah Generasi Baru Indonesia (SGBI). Ada Taman Kanak-kanak (TK) dan Play Group (PG) yang sudah satu tahun diselenggarakan di sana, dengan peserta didik yang lumayan banyak. Mudah-mudahan kami selalu punya energi dan keikhlasan untuk terus mengembangkan sekolah ini—tentu agar bisa memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan yang lebih luas.

Kedepan, rencananya kami akan mengembangkan ‘sekolah’ tersebut dengan konsep pendidikan alternatif. Sebutlah ‘sekolah alternatif’, jika tidak berlebihan. Kami ingin mengajak remaja dan anak-anak muda untuk mengembangkan diri dan mengasah kreativitas mereka di sana. Kami akan menyelenggarakan pelatihan, kursus-kursus dan workshop mulai dari keterampilan (menulis, melukis, teater, fotografi, film-making, dll), pengembangan diri (kepemimpinan, problem solving, kewirausahaan, dll), pendalaman agama (tahfid al-Qur’an) hingga pengembangan masyarakat. Kami punya impian untuk menjadikan tempat ini sebagai tempat bertumbuhnya anak-anak, remaja, dan pemuda dalam mengembangkan diri dan kreativitas mereka dalam berbagai bidang. Kami memimpikan sebuah ‘rumah tumbuh’ di mana anak-anak Indonesia bisa menjadi diri mereka sendiri, berkarya, dan percaya diri dengan masa depan yang mereka rancang dengan semangat dan imajinasi. Kami bermimpi tentang Generasi Baru Indonesia.

Kami tahu kami tidak bisa sendirian untuk mewujudkan semua ini. Untuk itu, kami mengundang Anda seklian untuk bersama-sama mewujudkan impian besar ini. Kami mengundang Anda, terutama orang-orang muda, untuk menjadi partner kami, baik sebagai volunteer, fasilitator maupun anggota komunitas kreatif yang akan kami buat di sana. Bersama-sama, kita akan bersinergi—saling memberikan manfaat dan kebaikan satu sama lain.

Minggu, 15 Juli 2012, pkl. 09.00 – 12.00, bertempat di SGBI, Jl. Mawar, Bojongsari, sebelum perumahan Puri Bali, Sawangan, Bogor, kami mengundang Anda sekalian untuk menghadiri bincang-bincang dan pembentukan komunitas untuk mewujudkan impian tersebut bersama-sama. Kami menyambut dengan perasaan gembira jika Anda datang dengan imajinasi, gagasan dan semangat. Jika Anda (terutama yang tinggal di daerah Jakarta Selatan, Depok, Bogor, atau Tangerang Selatan) berkenan hadir dalam acara tersebut, silakan dapatkan undangannya dengan mengirikan e-mail berisi biodata singkat ke nurulsyaefitri@ymail.com atau menghubungi Nurul Syaefitri di nomor 021 44637630. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Tetapi mengingat satu dan lain hal, kami hanya memberikan undangan secara terbatas kepada 50 orang.

Mari berhenti merutuki hal-hal buruk yang terjadi di sekeliling kita, tentang bangsa kita: Mari berbuat untuk generasi baru Indonesia!


Salam baik,

FAHD DJIBRAN
http://www.fahdisme.com
@fahdisme


Pagiku cerahku matahari bersinar
Kugendong tas merahku di pundak
Slamat pagi semua
Kunantikan dirimu
Di depan kelasmu menantikan kami

Guruku tersayang guru tercinta
Tanpamu apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis mengerti banyak hal
Guruku terimakasihku

Nyatanya diriku kadang buatmu marah
Namun segala maaf kau berikan

Slamat pagi semua
Kunantikan dirimu
Di depan kelasmu menantikan kami

Guruku tersayang guru tercinta
Tanpamu apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis mengerti banyak hal
Guruku terimakasihku

Nyatanya diriku kadang buatmu marah
Namun segala maaf kau berikan

Guruku tersayang guru tercinta
Tanpamu apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis mengerti banyak hal
Guruku terimakasihku

Guruku tersayang guru tercinta
Tanpamu apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis mengerti banyak hal
Guruku terimakasihku

*Lagu: AFI Junior - Guruku Tersayang
**Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

[Video] Untuk Papua



Akhirnya sempat juga bikin video ini. Sejak menuliskan teksnya tiga hari yang lalu, sebenarnya saya sudah berpikir untuk membuat versi video narasinya—untunglah dua hari ini kesibukan kantor tidak terlalu berlebihan dan Rizqa berbaik hati membiarkan saya duduk di ruang kerja tanpa banyak ‘diganggu’. Video narasi ini tentu sangat sederhana dan alakadarnya, mengingat saya bukan seorang videografer. Tetapi mudah-mudahan cukup bermanfaat dan bisa memberikan perspektif yang lain untuk menyikapi masalah Papua yang belakangan ini terus menjadi komoditi televisi belaka.

Proses rekaman narasi untuk video ini dilakukan dengan peralatan yang sangat terbatas, hanya menggunakan fasilitas voice recorder di iPad tanpa microphone khusus. Foto-foto dalam video ini saya peroleh dari berbagai sumber di Internet. Karena kesulitan menyebutkan sumbernya satu-per satu, saya mohon maaf. Tentu hak cipta foto-foto tersebut tetap berada di tangan pemiliknya. Musik latar dalam video ini berjudul Nuvole Bianche karya Ludovico Enaudi.

Selamat menikmati dan semoga bermanfaat. Kalau menurut Anda video ini bermanfaat, please pay it forward. :)


Salam baik,

FAHD DJIBRAN



*Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Papua



Papua. Aku selalu punya mimpi untuk suatu hari berkunjung ke sana: Bukan untuk sekadar melihat keindahan alamnya, sebab sedikitpun tak ada yang perlu diragukan dari karunia Tuhan yang telah memberikan Papua separuh surgaNya. Aku ingin bertemu saudara-saudaraku, di Papua, yang dalam berbagai keterbatasan, yang jauh, selalu setia menjadi Indonesia: Aku ingin belajar dari mereka!

Papua. Aku ingin suatu hari menghirup udaramu, mencuci-muka di bening sungai-sungaimu, bersandar di teduh pohon-pohonmu, atau berbaring di luas tanahmu—menikmati biru langitmu. Aku ingin bertemu kalian, saudara-saudaraku. Menyanyi bersama, menari bersama, membuktikan dan merayakan makna bahwa kita sungguh-sungguh bersaudara: Sebagai Indonesia.

Kenapa kita orang harus terusir dari kita orang punya tanah? Kenapa kita orang tak bisa menikmati kita orang punya emas? Kemana kita orang punya Kasuari pergi?” Katamu.

Papua. Izinkan aku menggenggam tanganmu, melangkah bersama kakimu, merayakan cinta di dadamu. Maafkan. Maafkan kami yang selama ini demikian tolol menyakiti perasaanmu. Maafkan kami yang selama ini demikian rakus dan kurang ajar mencuri tanahmu, hutanmu, airmu, isi perutmu, pikiranmu, perasaanmu. Maafkan kami yang selama ini demikian biadab mengusir kebahagiaanmu. Sementara kamu, Papua, tetap saja begitu mulia memedam rasa cinta sebagai Indonesia.

Maka apabila tentara-tentara berani menodongkan senjata ke wajahmu, Papua, katakan pada mereka bahwa aku tak akan segan-segan meringkus mereka kapan saja ketika mereka di hadapanku. Katakan pada siapa saja yang mengancammu, merendahkanmu, memiskinkanmu, aku akan membakar rumah-rumah mereka—membongkar kebahagiaan mereka! Papua, aku akan selalu ada, sebagai saudara, membela dan mengorbankan apa saja untuk menegakkan hidup kita yang mulia: Sebagai Indonesia.

... Dan aku akan benar-benar ke sana, Papua. Ke tanahmu. Ke airmu. Ke tanah air kita untuk mengatakan pada dunia bahwa kita bersaudara: Bahwa kita Indonesia!

Inilah kita orang punya negara, inilah kita orang punya bangsa. Inilah Indonesia, tak boleh ada orang lain yang mengganggunya!




FAHD DJIBRAN | 18/06/2012
Continue Reading...

Selamat Ulang Tahun @rizqaabidin


Rizqa adalah alasan paling penting bagi lahirnya sebagian besar karya-karya saya. Saya yang seorang penulis, berhutang banyak hal kepadanya: Inspirasi, semangat, motivasi, juga hal-hal lain yang belum dan tak bernama. Apalagi bagi saya sebagai seorang teman, kekasih, suami: Rizqa bukan hanya memberikan banyak hal kepada saya—dialah yang memberi warna bagi hari-hari saya, kehidupan saya. Barangkali saya berlebihan, tetapi semua ini tersebab apa yang sudah Rizqa berikan pada saya memang berlebihan. Saya merasa layak dan bahagia untuk memberikan semua apresiasi tertinggi dan rasa terima kasih saya kepadanya.

Jika diperhatikan sejak buku pertama saya (Kucing, 2004), selalu ada Rizqa dalam kisah-kisah yang saya ceritakan—hal-hal yang kita alami bersama atau mengenai perasaan saya kepadanya. Untuk menyebutkan beberapa saja, ada dia dalam “Tubuh”, “Everybody’s Happy in His Own Way”, “Cinta, Masa Lalu dan Sepotong Kue Bolu” (A Cat in My Eyes, 2008), “Pergi”, “Lelaki Kecil dan Gugusan Hujan”, “Memoria”, “Desember”, “Marva”, “Bila Sampai Waktuku” (Curhat Setan, 2009), dan hampir pada seluruh bab “Cinta” dalam buku Yang Galau Yang Meracau (2011). Buku yang keseluruhannya tentang Rizqa tentu saja Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan (kelak akan diterbitkan ulang) yang saya dedikasikan secara khusus untuk menemaninya menjalani masa-masa kehamilan putra pertama kami, Falsafa Kalky Pahdepie.

Dalam tulisan-tulisan saya paling belakangan, yang selalu saya posting di blog ini, kisah-kisah mengenai Rizqa dan perasaan saya kepadanya tak pernah berhenti menjadi energi kreatif dalam proses saya berkarya. Kalian bisa membacanya lagi, dan mungkin (turut) merasakannya, seperti misalnya pada Sekarang, Pengakuan, Surga, Kebebasan, dan lainnya.

Kini, Rizqa berulang tahun keduapuluh lima (9/6/2012). Di hari ulang tahunnya, tentu saja saya bukan suami gombal kekurangan modal yang hanya memberinya kado ulang tahun berupa ucapan selamat atau sekadar tulisan. :-) Tetapi saya ingin mendedikasikan posting ini untuk menjadi sebagaian kecil perayaan ulang tahunnya: Selamat ulang tahun, Sayang. Terima kasih telah menjadi dirimu apa adanya. Terima kasih telah menjadi bagian penting dalam lebih dari 20 tahun hidupku: Aku telah terjatuh ke dalam cintamu sejak pertama kali kita bertemu. 

Terakhir, kata-kata sederhana ini selalu ada untuknya. Dan hanya untuknya…


Namamu
Untuk Rizqa


telah kusebut namamu, dalam
doa selepas sembahyang
malam, kau tak perlu tahu
apa yang kuucapkan
semuanya sudah kulupakan
sebab yang kita ingat-ingat
akan kita harap-harapkan
sementara aku tak ingin
doaku cuma jadi harapan—

ia harus ikut bangun pagi
saat aku bangun pagi
ia harus berkeringat
saat aku bekerja
hingga menetes
menjadi sujud yang lain
membangunkan bumi yang tua dan penidur
untuk menumbuhkan
pohon-pohon mengingat namamu
meneduhkan terikmu
melindungi malammu

tak jauh dari sana
akan kubangun sebuah rumah
dengan tanganku sendiri
dan kau boleh memilih warnanya
apapun yang membahagiakanmu
sementara aku mulai mencicil
lemari, TV, kulkas, mesin jahit,
halaman belakang tempat anak-anak kita
bermain atau berlarian sambil tertawa,
juga sebuah sofa, tampat kita
duduk berdua menyaksikan semuanya
menjelma cerita indah yang akan kita rekam, dalam
foto-foto yang akan kita abadikan di album
kenangan yang tak akan terlupakan

dan apabila aku terlalu tua
untuk tetap bersamamu
juga anak-anak kita,
doaku tak akan pernah menjadi tua
sebab ia tak pernah kuingat
untuk tak membuatnya
terperangkap dalam waktu
seperti aku
: kapanpun akan bersamamu

barangkali memang hanya namamu
hanya namamu,
yang kusebut, dalam
doaku yang sederhana
sangat sederhana


Denpasar, Oktober 2011


FAHD DJIBRAN | 9/06/2012

PS: Terima kasih buat kalian semua yang sudah menjadi bagian penting dalam “perayaan kecil ini”. Semoga kita semua hidup dalam cinta yang membuat kita berbahagia.

Continue Reading...