Inilah Peserta Lomba Review Revolvere Project

Dear All,

Berikut ini daftar pesera lomba review Revolvere Project yang tautannya berhasil kami kumpulkan dari e-mail, Facebook Page, dan twitter. Seluruhnya berjumlah 24 peserta. Bagi teman-teman yang sudah menulis review tetapi belum tercantum di daftar, segera beritahu kami ya. :)

Hoho. Kami sudah tidak sabar membacanya satu-satu. Tapi tentu akan sangat sulit menentukan mana review terbaik, review terfavorit, dan review pilihan juri. Hadiah sudah kami siapkan, dan tentu akan segera kami umumkan dan kirimkan pada waktunya.

Kami ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah menuliskan review-reviewnya di bwah ini. Juga untuk teman-teman semua yang senantiasa mendukung kami berkarya. Apresiasi tertinggi kami untuk kalian semua.

Bagi teman-teman yang ingin membaca juga review-review tersebut, silakan klik tautan-tautan di bawah ini.
  1. Ade Rifaldi | Kritik dan Saran Untuk Revolvere Project
  2. Arifah Marhamah | Review Revolvere Project: Flashback
  3. Astrid Ayuningtyas | Review Revolvere Project
  4. Azka Faridy | Cara Saya Melihat Kembali Revolvere Project
  5. Chizza Raudatul Ilmi | "Review Revolvere Project – Kau yang Mengutuhkan Aku"
  6. Chusnul Chotimah | Cara Lain Menikmati Seni LIntas Media – Review Revolvere Project atau di sini
  7. Dewi Maulani Fajar | Revolvere Project 'Tentang Kita'
  8. Dodi Iswandi Mauliawan | Tembakan Pengingat Keselarasan: Review Karya Revolvere Project ke-3
  9. Fitria Pite | LOMBA REVIEW REVOLVERE PROJECT : Tentang Kita
  10. Hamid Fad'aq | Review Revolvere Project
  11. Ikhsan Dwitama | Review REVOLVERE PROJECT's "Tentang Kita"
  12. Ila Rizky Nidiana | Review Revolvere Project – Kau yang Mengutuhkan Aku
  13. Kaharudin Rayes | Review [Revolvere Project] Apologia Untuk Sebuah Nama - By Rayz
  14. Khuzaima Kousni | Revolvere Project : Kau Yang Mengutuhkan Aku
  15. Makhrus Ahmadi | De Javu: REVIEW Revolvere Project
  16. Monika Yulando Putri | Review Revolvere Project : Apologia untuk Sebuah Nama
  17. Mukhammad Fatkhullah | Apologia Untuk Sebuah Nama – Menginspirasi dan Menyadarkan
  18. Nasrul Samad | Review Revolvere Project 
  19. Nurul Mardiati | Revolvere Project: Kau yang Mengutuhkan Aku
  20. Renno Hadi Ananta | Review Revolvere Project by Renno
  21. Ria M Fasha a.k.a Chika Rei | Kau Yang Mengutuhkan Aku ~ Review Revolvere Project
  22. Sinta Novizah | Review Revolvere Project (Fahd-Fiersa-Futih)
  23. Tanti Dina Aisarani | Revolvere Project 
  24. Wednes Aria Yuda | Engkau Yang Mengutuhkan Aku
Salam baik,

@fahdisme
@fiersa
@futihfatih


Continue Reading...

[Diperpanjang] Lomba Review Revolvere Project

Dear All,

Sejauh ini sudah banyak teman-teman yang ikutan lomba review Revolvere Project ini. Kami sangat berterima kasih atas antusiasme teman-teman yang sangat besar pada karya-karya kami. Setiap kali membaca review yang di-mention ke kami, saya, Futih, dan Fiersa sering langsung BBM-an untuk ber-GR-GR ria atau "terharu" atau saling "nggak nyangka bakal kayak gini ya". Hehehe.

Tapi, dengan sangat terpaksa, waktu lomba harus kami perpanjang 1 (satu) minggu hingga 30 Juli mendatang. Karena satu dan lain hal, juga kesibukan kami masing-masing, kami membutuhkan waktu lebih untuk menyeleksi review-review yang masuk. Kami juga ingin memberikan kesempatan pada teman-teman yang belum tahu bahwa ada lomba ini, ayo pada ikutaaannn.. :)   

Jadi, batas pengiriman karya kami perpanjang 1 minggu, dari semula 23 Juli menjadi 30 Juli 2012. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada 7 Agustus di blog ini dan melalui e-mail pemenang. Dan hadiah langsung kami kirimkan tentunya. :)

Oh ya, kemarin ada kesalahan juga, pengetikan e-mail Revolvere Project salah. Ini yang benar: revolvereproject@yahoo.co.id . Bagi teman-teman yang sudah membuat review, tolong di-e-mail ulang ya link blog atau catatan FB-nya ke alamat e-mail di atas. Bagi yang belum ikutan dan mau ikutan, persyaratan dan informasi ada di bawah ini ya.

Kami tunggu partisipasi teman-teman. Selamat berlomba dan terima kasih.

Salam baik,
@fahdisme
@fiersa
@futihfatih

Teman-teman semua,

Terima kasih untuk respons dan apresiasi hangat atas karya-karya Revolvere Project selama ini. Setiap kali meng-upload sebuah karya ke Youtube, blog maupun Facebook, kami membaca berbagai komentar, kritik, saran, bahkan “curhat” yang harus diakui di luar yang bisa kami bayangkan. Ketika mendapatkan komentar baik atau sekadar “like”, kami jadi sering ke-GR-an. Ketika mendapatkan kritik, kami evaluasi karya kami dan jadi semakin bersemangat untuk berkarya lebih baik lagi. Apalagi ketika karya-karya Revolvere Project diapresiasi secara “serius” menjadi artikel koran/majalah, topik skripsi dan tesis, bahkan kami diundang ke seminar-seminar dan diskusi: Kami tak pernah menyangka sambutan banyak orang terhadap keisengan kami akan ‘semegah’ ini. Tapi, semua itulah yang sampai hari ini membuat kami terus bersemangat dan ingin terus berkarya.

Kini, kami memberikan kesempatan kepada teman-teman semua untuk turut memberikan review terhadap karya-karya kami secara lebih utuh dan mendalam. Review tersebut akan sangat penting bagi kami untuk berkarya lebih baik lagi di masa yang akan datang. Kami mempersilakan teman-teman untuk memberikan penilaian terhadap karya-karya kami baik dari aspek estetika visual, musikal, sastra, pilihan tema, atau sekadar cerita pengalaman pribadi mengakrabi tiga karya Revolvere Project yang sudah dipublikasikan. Ini boleh disebut lomba, atau apa saja. Tapi yang jelas ada hadiahnya, kok. :)

Ketentuan Umum
  • Like Facebook page Revolvere Project di sini.
  • Follow akun Twitter Revolvere Project: @RevolvereProj
Ketentuan Tulisan
  • Tulisakan penilaian, komentar, kritik, atau saran, pada salah satu atau semua karya Revolvere Project dalam tulisan dengan panjang minimall 300 kata dan maksimal 1.000 kata.
  • Tulisan harus memuat link salah satu karya Revolvere Project (lebih disukai yang memasang foto atau video Revolvere Project).
  • Tulisan di-upload ke blog dengan platform bebas (Blogger, Wordpress, Multiply, Tumblr, dll) atau note Facebook yang di-tag kepada 20 orang teman atau lebih.
  • Tulisan di-upload pada tanggal 3 Juli – 30 Juli 2012.
  • Link tulisan di-share di Facebook Page Revolvere Project dan di Twitter dengan me-mention @RevolvereProj
  • Link (tautan) tulisan juga dikirim ke e-mail revolvereproject@yahoo.co.id
Pengumuman Pemenang
Hadiah
  • 1 (satu) review terbaik akan mendapatkan printer HP DESKJET ALL IN ONE PRINT-SCAN-COPY D2050 senilai Rp. 1.000.000,-
  • 1 (satu) review pilihan juri akan mendapatkan paket buku Hidup Berawal Dari Mimpi dan CD Respect & Unity For All dari Bondan Prakoso & Fade2Black.
  • 1 (satu) review favorit (yang paling banyak dikomentari) akan mendapatkan paket buku A Cat in My Eyes: Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa dan Curhat Setan: Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya dari Fahd Djibran.
Lain-lain
  • Semua review yang masuk akan di-upload ke blog http://www.fahdisme.com
  • Keputusan juri bersifat final dan tidak dapat diganggu-gugat.
Juri
  • Fahd Djibran | @fahdisme
  • Fiersa Besari | @fiersa
  • Futih Aljihadi | @futihfatih
Link Video Revolver Project
Useful Links
SILAKAN BANTU SEBARKAN INFORMASI INI KE SEBANYAK MUNGKIN TEMAN :)
Continue Reading...

Ramadhan



Ramadhan, haruskah aku berpura-pura merindukanmu; Sementara di setiap kedatanganmu, kaki-kaki kesadaranku masih terus melekat ditarik gravitasi-gravitasi nafsu? Sungguh-sungguhkah aku menyambutmu, atau sekadar rutinitas seremonial gegap gempita yang kering dari makna?

Marhaban yĆ¢ Ramadhan,” ujarku, tanpa sungguh-sungguh mengerti apa artinya kedatanganmu di pintu rumahku. Lalu aku akan mereka kata-kata untuk mengirim SMS, atau tweet, atau e-mail, atau broadcast message berisi permintaan maaf kepada teman-temanku, seolah menghayati kesucianmu: Sesungguhnya hanya pencitraan yang mengharapkan pujian-pujian.

Puasa adalah medan ujian untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan dengan menahan hawa nafsu.” Aku membaca kalimat itu dalam spanduk di sebuah pusat perbelanjaan. “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1433 H,” katanya. Tapi aku segera melupakannya, dibutakan potongan harga yang sesungguhnya pura-pura, memborong bahan-bahan makanan secara rakus dan berlebihan. Lalu aku mencari perlengkapan ibadah baru, juga mushaf al-Quran baru: Sebab yang lama telah usang dan berdebu buku. Oh al-Quran, oh baju takwa, oh sajadah, oh ustad-ustad berwajah tampan, kemana saja kalian di luar bulan Ramadhan?

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kedatanganmu, Ramadhan, masih terus membuatku bertanya-tanya: Mengapa tema-tema ceramah para ustad masih terus saja sama, kecuali make-up mereka yang makin tebal dan pakaian mereka yang makin mengilap? Berapa bayaran mereka sekali tampil dalam iklan dan acara televisi? Setiap tahun aku menonton dan mendengarkan mereka, mengapa selalu tak berhasil mengubah ulat-ulat dosa dalam diriku menjadi kupu-kupu takwa? Oh para ustad, oh para ulama, oh kesejukan agama, kemana saja kalian di luar bulan puasa?

Ramadhan, memang seharusnya aku tak menyalahkan siapa-siapa: Akulah diri yang bebal dan kepala batu. Maka selamat datang, Ramadhan: Selamat datang iklan sirup Marjan. Selamat datang iklan Promag. Selamat datang Om Deddy Mizwar. Selamat datang kolak dan acar bawang. Selamat datang perdebatan NU dan Muhammadiyah. Selamat datang acara-acara sahur penuh hadiah dan hiburan. Selamat datang diskon-diskon yang menggiurkan. Ah, betapa aku merindukan kalian!

Demikianlah aku merindukanmu, Ramadhan. Demikianlah aku mencintaimu—dengan caraku yang tak tahu malu. Terima kasih telah selalu menyediakan siang terik bermiliar pahala. Terima kasih telah selalu membentangkan malam doa yang meluas angkasa. Terima kasih telah selalu menjadi bulan seribu bulan—yang membuatmu tak pernah selesai kami hitung untuk menentukan malam permulaan dan penghabisan. Terima kasih telah selalu datang dan pergi dengan senang hati, tanpa mempedulikan kemunafikan, kemaksiatan, dan kebebalan kami.

Barangkali suatu saat nanti, Ramadhan, jika hilal-mu sudah benar-benar tampak di langit hatiku, aku tak perlu menghisab dan memperdebatkan apapun: Sebab aku tak lagi punya pintu untuk menyambut kedatanganmu. Jika saat itu tiba, maka masuklah, masukilah diriku dengan keseluruhan dirimu, aku akan mendekapmu selalu—dengan penuh keharuan dan kerinduan...



FAHD DJIBRAN | 19/07/2012

*Lagu: Mishary Rashid Al-Afasy - Welcome Ramadhan
**Gambar diambil dari sini.
Continue Reading...

Darul Arqam


Darul Arqam—

Apa kabar gerbangmu yang berwarna biru? Aku melompatinya suatu malam: Siluet penjaga gerbang yang mengantuk, seperti monster yang tertidur. Aku mengendap-endap dalam kesunyian malam-malammu, mempertanyakan mengapa hafalan-hafalan hadits akhlak tak selalu berkorelasi dengan perilaku sehari-hari? Kemudian aku bertaubat, di hari yang lain, untuk kesekian kalinya, setelah suatu hari terpeleset di gerbang itu: Dan tertangkap! Terima kasih telah membuatku menghapalkan setengah juz Al-Quran, setiap kali bersalah, meski agak terpaksa—kini aku bersyukur telah terlanjur menghapalkannya di kepala.

Di serambi masjidmu, sambil menebak nama-nama bus antar-kota dan jurusannya, masihkah Shorof dan I’lal dihapal dengan cara melantangkannya? Atau kau sudah melupakannya, digantikan sekadar nyanyian dan makian: Nashara, yanshuru, 'Nasrun'? Ha! Apa kabar Ustad kita itu? Apa kabar motor besarnya yang selalu kelebihan muatan?

Sementara aku selalu menjadi santri yang terlambat, masihkah waktu berjalan terlalu cepat di jam-jam istirahat asramamu? Ah, terima kasih telah selalu membuatku setenang Fajri yang pura-pura tertidur saat suara bel berbunyi, atau suara tarhim penghabisan, atau suara azan, atau segalanya yang membuat kita harus bergegas: Kau telah membesarkanku untuk selalu bersikap tenang di tengah segala kegugupan dan kegagapan zaman menghadapi kecepatan-kecepatan.

Apa kabar ketukan tongkat Pak Agus? Apa kabar tepuk tangan dan janggut tipis Pak Iyet? Masihkah mereka tak terduga—senyum dan marahnya? Aku merindukan keberanian dan ketakutan, ketundukan dan pemberontakkan, rasa khawatir dan tidak peduli, segala rasa yang hadir di poros masjid, kelas, dan asrama: Semua yang membuatku semakin dewasa.

Dan apabila Ramadhan telah tiba, kita akan bermain bola siang hari, atau basket, atau voli, di tengah terik, untuk kehausan dan membayangkan diri sebagai pejuang-pejuang Islam baru saja berperang di bulan puasa. Tapi benarkah kita pernah dan akan menjadi pejuang-pejuang itu? Islamkah yang membutuhkan kita atau justru kita yang membutuhkannya? Perlukah kita repot-repot membela agama? Ah, aku merindukan kajian-kajian 'ulumul Quran dan 'ulumul hadits yang menghidupkan malam-malammu.

Matahari tenggelam, oh matahari tenggelam, aku duduk di beranda asrama. Waktu melambat. Gitar tua yang dipetik seorang teman. Suara bola ping-pong memantul dari kejauhan. Bayangan ayah. Bayangan Ibu. Oh, uang jajan yang pas-pasan, kapan libur bulanan? Aku menuliskan semua mimpi baik dan mimpi buruk masa depanku, dalam sebuah buku yang kusembunyikan di balik ranjangku: Mau jadi apa aku nanti? Aku ingin menjadi orang baik, maka aku berusaha menjadi orang baik.

Lalu aku belajar menulis surat, untuk seseorang di seberang gerbang lain yang mengajarkanku kata ‘rindu’—dan mengirimkannya dengan ragu-ragu. Terima kasih telah secara sembunyi-sembunyi menyampaikan surat-suratku: Kini santriwati yang membalas kata-kata mutiaraku di Bursa Salam dan surat-surat itu, telah menjadi istriku. Terima kasih telah mengajarkanku mahfudhat “Barang siapa bersungguh-sungguh, maka akan mendapatkan.” Sejak dulu, aku sungguh-sungguh mencintainya, dan kini aku mendapatkannya—

Sejak meninggalkan gerbang birumu tujuh tahun yang lalu, segala tentangmu selalu membuatku merasa rindu.

Darul Arqam, terima kasih dan maaf, untuk hal-hal yang terkatakan dan takterkatakan. Kini, di sini aku, masih seperti dulu, kepala batu yang selalu meleleh di hadapan semua kenangan tentangmu.


The sea said goodbye to the shore so the sun wouldn't notice
The seaweed wrapped its arms around you

The carpet on my cheek feels like a forest
And I run through the tall trees with your hand chasing me

The books that I keep by my bag are full of your stories
That I drew up from a little dream of mine, a little nightmare of yours

To beat us to take this plunge to forgive and forget
And be a better man, to be a better man, to be a better man

So love me mother, and love me father, and love my sister as well

The cat's silhouette as big as a monster in this concrete jungle,
The streetlights hang in their hats

So make all your last demands for I will forsake you
And I'll meet your eyes for the very first time, for the very last

So love me mother, and love me father, and love my sister as well
So love me mother, and love me father, and love my brother as well
So love me mother, and love me father, and love my sister as well
So love me mother, and love me father, and love my brother as well

I met a man today and he smiled back at me
Now there are thoughts like these that keep me on my feet, that keep me on my feet.

FAHD DJIBRAN
| 18/07/2012

PS. Tiba-tiba saya ingin menulis tentang Darul Arqam. Sebuah Pesantren Muhammadiyah di Garut, tempat saya belajar sejak kelas 1 Madrasah Tsanawiyah (SMP) hingga kelas 3 Madrasah Aliyah (SMA). 6 tahun saya di sana. 6 tahun yang selalu sulit untuk diceritakan dan dituliskan, berangkali sebab terlalu banyak yang saya dapatkan di sana. Darul Arqam adalah tempat saya tumbuh, bermain dan belajar. Dari semua yang saya mengerti sekarang, kebanyakan fondasinya di bangun di sana. Di sana juga saya pertama kali belajar menulis, di buku catatan yang saya sembunyikan di bawah ranjang. Buku pertama, kedua, dan ketiga saya, Kucing, Being Superstar dan Revolusi Sekolah (dua yang terakhir diterbitkan Mizan dan mendapatkan penghargaan DAR!Mizan Unlimited Creativity Awards sebagai Penulis Pendatang Baru Terbaik dan Penulis Terbaik tahun 2005 dan 2006) ditulis di buku catatan dengan menggunakan tulisan tangan. Di sana saya belajar banyak, termasuk kepatuhan dan ketidakpatuhan: Segala hal yang selalu saya percayai telah secara permanen dan sistemais membentuk diri saya saat ini.

Lagu: Of Monsters and Men – Sloom | Gambar: Foto Darul Arqam dari atas, karya Oki Lutfi.
Continue Reading...